1 Jul 2011

script khutbah jumat 24 juli 2011

(Tahmid), (Shalawat), (Syahadat)

Qaalallahu ta’ala fiy qura’anil kariim, wahua ashdaqul qaailiin:


‘amma ba’du, Ayuhal haadiruun, ittaqullaha haqqatu qaatihi walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun!

Puji syukur kita panjatkan mari kita panjatkan pada Allah swt. Yang telah memberikan kita bermacam nikmat melimpah, yang dengannya kita bisa menjalani berbagai aktifitas. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan pada junjunan dan tuntunan kita, Rasulullah Muhammad saw., pada keluarganya yang beriman, pada sahabatnya, tabi’in, tab’iut tabi’in, dan mudah-mudahan sampai pada kita selaku ummat di akhir zaman.

Hadirin sidang jum’at rahimakumullah,

Di zaman yang katanya modern sekarang, jika kita menanyakan pada orang-orang dan merenungi sendiri, kita akan mendapati kekurangan-kekurangan di tengah kehidupan yang membuat kita menyimpulkan bahwa hidup kita masih jauh dari kata ‘barakah dan sejahtera,meskipun maju dalam sebagian aspeknya.

Hadirin sidang jum’at rahimakumullah,

Di setiap jumat para khatib tidak pernah lepas dari lafadz “ittaqullaha haqqatu qaatihi”, yang kita semua tahu bahwa ittaqullah di sana adalah menyeru untuk benar-benar memegang teguh risalah yang Allah turunkan, yaitu menjalankan semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Dalam hal mematuhi perintah Allah, jika kita merujuk dalam al-quran, maka kita akan mendapati bahwa jika kita menjalankan perintah Allah secara konsisten dan tidak melanggarnya, maka kita manusia akan mendapatkan keberkahan yang luarbiasa sebagaimana tadi khatib bacakan ayat di awal

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-a’raf: 96)

Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa Allah akan menurunkan ke berakahan dari langit dan bumi. Keberkahan di situ tentu saja kita akan memaknainya bukan hanya sebagai melimpahnya berbagai sumberdaya yang ada, namun keberkahan adalah dimaknai juga sebagai rasa berkecukupan dan lebih dari itu adalah rasa ketenangan karena telah menjalankan perintah dari Allah dan rasul-Nya.

Sedangkan jika melanggar dan membangkang perintah Allah, al-qur’an telah memberi keterangan juga:

Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. (al-a’raf: 94)

Dari kedua kondisi di atas, sudah sepatutnya kita merenungkan tentang kondisi yang tengah kita rasakan, kesempitan hidup dan penderitaan ataukah keberkahan yang berada di tengah-tengah kehidupan kita sekarang?

Kemudian selanjutnya tentu saja sudah seharusnya kita merenungkan sudahkah ketertundukan pada aturan-aturan Allah ada dalam setiap aktivitas kita?

Kita selaku muslim tentu tahu bahwa ada 3 objek seruan dalam Islam. Yang pertama adalah individu, kemudian jama’ah atau kelompok, yang ketiga adalah institusi Negara.

Di level individu, kita akan mendapati seruan syariah yang mewajibkan kewajiban yang bisa dijalankan oleh individu: solat, zakat, shaum, haji, dll.

Kemudian di level jama’ah atau kelompok kita akan dapati kewajiban adanya pergerakan yang melakukan aktivitas ‘amr ma’ruf nahyi munkar, sebagaimana disebutkan dalam surat ali Imran 104:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104)

Sedangkan di dalam konteks Negara, ada juga kewajiban yang Allah perintahkan terkait dengan hukum perdata:

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah: 38)

Selain itu di dalam aspek pengelolaan SDA: terdapat hadits:

اْلمُسلمُو ن شُر كا ء في ثلا ث في الكلإ والما ء واانا ر

Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: padang rumput, air, dan api. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Oleh karena itu aspek yang kita coba renungkan bukan hanya tentang ketertundukan pada aturan-aturan Allah, pada level individu saja, namun ketertundukan kita dalam level jama’ah dan juga level institusi negara.

Baarakallahhu lii wa lakum!

(tahmid), (shalawat), (syahadat), (wasiat taqwa)

Setelah mencoba mengajak merenungkan tentang ketertundukan kita pada aturan-aturan Allah, di khutbah yang kedua ini khatib mengajak kita semua untuk merenungkan sebuah kisah generasi awal kaum Muslim: generasi para shahabat yang kisah-kisahnya sesungguhnya penuh dengan ibrah yang akan membuat malu para pemimpin negeri-negeri kaum Muslim yang masih memiliki rasa malu.

Suatu ketika Abdullah, putra Khalifah Umar bin Khattab, membeli seekor unta kecil dan kurus seharga 4 dirham. Lalu unta kecil itu oleh Abdullah dititipkan ke tempat pemeliharaan unta milik Negara agar bisa diurus seperti unta-unta lainnya.

Setahun kemudian unta itu telah berkembang menjadi unta yang gemuk dan sehat. Abdullah kemudian berniat menjualnya. Ia membawanya ke pasar dan ditawarkan seharga 15 Dirham. Melihat penampakan unta itu, banyak orang berkerumun. Apalagi yang menjualnya adalah seorang putra kepala Negara.

Umar bin Khattab yang saat itu tengah ke pasar langsung menuju kerumunan tersebut. Khalifah mempertanyakan apa yang sedang terjadi. “Kami sedang berebut menawar harga unta,” jawab seorang di pasar tersebut.

Suatu ketika Abdullah, putra Khalifah Umar bin Khattab, membeli seekor unta kecil dan kurus seharga 4 dirham. Lalu unta kecil itu oleh Abdullah dititipkan ke tempat pemeliharaan unta milik Negara agar bisa diurus seperti unta-unta lainnya.

Setahun kemudian unta itu telah berkembang menjadi unta yang gemuk dan sehat. Abdullah kemudian berniat menjualnya. Ia membawanya ke pasar dan ditawarkan seharga 15 Dirham. Melihat penampakan unta itu, banyak orang berkerumun. Apalagi yang menjualnya adalah seorang putra kepala Negara.

Umar bin Khattab yang saat itu tengah ke pasar langsung menuju kerumunan tersebut. Khalifah mempertanyakan apa yang sedang terjadi. “Kami sedang berebut menawar harga unta,” jawab seorang di pasar tersebut.

“Unta kepunyaan siapa?” Tanya Umar.

”Kepunyaan Abdullah putra anda, wahai Amirul Mukminin!” jawanb orang tersebut.
Umar lalu memanggil Abdullah dan berkata dengan nada keras, ”Aku tahu, kamu dulu membeli unta kecil dan kurus. Aku tahu pula, unta mu menjadi besar dan gemuk karena diurus di peternakan unta milik negara. Pasti unta ini akan terjual mahal karena memang bagus. Akan tetapi, status kamu sebagai anakku, ikut menaikkan harga unta ini. Maka aku harus melakukan tindakan keras agar hal seperti itu tidak akan terulang kembali.”

Abdullah ketakutan mendengar itu. Umar melanjutkan: ”Ambil harga pembelianmu dulu sebesar empat dirham. Selebihnya, serahkan ke baitul mal, karena engkau telah memelihara unta secara gratis. Engkau menggunakan fasilitas pemerintah untuk kepentingan pribadimu. Orang-orang dipeternakan tak berani menolak, karena engkau anakku. Kalau engkau bukan anak amirul mukminin, para petugas tak mungkin menerima titipan unta kurus untuk dipelihara di sana.”

Setelah mengetahui tentang kisah tadi, mari kita bandingkan dengan kondisi para pemimpin negeri-negeri kaum muslim, sudahkah mereka seperti yang dilakukan Ummar bin khattab?

Demikian yang dapat saya sampaikan, mari kita tutup jumat ini dengan doa:

(------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar