Tampilkan postingan dengan label ngacafruk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngacafruk. Tampilkan semua postingan

31 Jan 2021

Oh~ Pen...

5 Best Tips On Writing Introduction To Your Dissertation | Scholar Ace

Semalam aku harusnya memulai menulis. 

Thesis yang telah ditunggu anak keduaku belum juga rampung. 

Padahal semester yang sudah mengejar untuk dibayar, tak bisa ditawar.

Oh.. Pendidikan~


Namanya sekolah tinggi.

Dulu aku penasaran apanya yang tinggi?

Ternyata bayarannya.

Oh.. Penagihan~


Sejak SMA aku dikabari mahasiswa ilmunya tinggi.

Aku pun percaya. Mereka terlihat mempesona.

Teriak lantang di podium, lanjutkan rezim zhalim katanya sambil bakar ban.

Oh.. Itu pendidikan~?


Isi kepala diakomodir, dibimbing sampai berhasil katanya.

Tapi terlihat jelas mereka bawa alat pemangkas.

Lucunya, mimbar tarung fikir malah jadi sarung fakir.

Oh.. Pendudukan~


Aku harus akhiri kegiatan eh kegilaan ini.

"Kemerdekaan haqiqi yang kamu cari bukan di sini." Dia yang ternyata aku sendiri, membisiki fikir.

Ini hanya satu sungai yang mengantarkan pada samudera semesta. Aku harus bersegera.

Oh.. Pendakian~

read more

1 Nov 2020

Menulis Untuk (si)apa?


Kalian pernah bertanya-tanya gak sih tentang tulisan-tulisan saya di blog ini? Kenapa saya buat tulisan-tulisan di sini? Untuk senjata pemikat kah? Dalam rangka apa saya nulis di blog ini? Dalam rangka memperingati hari kerupuk-kulit internasional kah? Hari encok sedunia kah? Hal yang paling mendasar adalah: kenapa dibuat blog ini? Kenapa dinamai "monologofmonochrome", bukan misalkan pakai nama saya sendiri sepertihalnya yang dibuat oranglain, atau apalah yang bisa diingat.

Saya ingat dahulu ketika pertama kali membuat blog ini saya justru bingung dengan konten apa yang hendak saya tulis. akhirnya saya isi dengan sapaan umum. entah untuk siapa. hehe. Saya memang tidak menyengaja untuk menyapa siapapun secara khusus.

Kita sebagai manusia tentu punya banyak hal di kepala. Karena secara fitri, kita akan merespon fakta yang kita indera. Berupa apapun, baik itu visual, audio atau bentuk lain yang bisa kita indera. Hal ini meniscayakan adanya pemikiran. Pemikiran itu pada akhirnya bisa bermuara pada dua kemungkinan: terutarakan atau tidak.

Manteman coba ingat-ingat kembali. Dari sekian banyak respon terhadap fakta yang kita indera, berapa banyak yang benar-benar kita respon? Kemudian, dari sekian banyak respon, berapa banyak respon yang sudah mewakili maksud kita sebenarnya? Selanjutnya, dari sekian banyak respon yang sudah mewakili maksud kita sebenarnya, berapa banyak "kebijaksanaan" terungkap yang kita bisa ingat di kemudian hari? Lebih sedikit kan?

Nah, untuk itulah blog ini dibuat. Tujuan utama sebenarnya bukan untuk menasihati orang di luar sana, tapi justru saya sendiri di kemudian hari jika saya lupa. Itulah kenapa nama blog ini adalah monolog, karena sejatinya saya sedang melakukan monolog secara tertulis. 

Meskipun begitu, saya bersyukur jika ada yang mengambil manfaat dari monolog ini. Mohon doanya agar saya senantiasa ada dalam kebaikan, baik anda mengenal saya ataupun tidak.

Sekali lagi, blog ini saya tulis sebenarnya untuk saya baca kembali di kemudian hari. Ya, untuk saya sendiri, yang menulis ini. Bukan anda. Kecuali anda adalah saya sendiri.  😃

ditulis pada 1/6/2014 12:30 AM
read more

29 Apr 2014

お父さん

 Tidak begitu jelas saya ingat, tapi jika tidak salah saat itu hari Ahad. Hari saya biasa pulang ke kampuang halaman yang hanya berjarak 1,5 atau maksimal 2 jam perjalanan dari "perantauan" saya. Bukan jarak yang jauh untuk dikatakan sebagai perantauan memang. Tapi agenda-agenda di kota 'perantauan' yang menahan untuk bertatap dengan orang rumahlah yang membuat jarak 2 jam perjalanan terasa lebih jauh. Meski bukan masalah besar karena teknologi selalu membuat saya bisa sering pulang. Adakalanya hingga dua-tiga kali sepekan. Hebat, ya?

Ah, saya hampir saja lupa menceritakan tentang hari Ahad itu. Iya, hari itu seperti hari Ahad lain, hari bertemu orang hebat dalam hidup saya: orangtua. Kenapa dikatakan hebat? Karena mereka mampu membuat saya hidup hingga saya bisa bertemu kalian melalui tulisan yang entah apa ini. hehe

Lalu apa spesialnya hari Ahad itu hingga saya merasa perlu menuliskannya? Sabar.. Sabar..

read more

11 Nov 2012

Wahai Engkau yang Entah dengan Siapa Aku Berbicara

Senggang waktu kah kau saat ini? Maukah engkau aku ajak berbicara? Agak sedikit berandai-andai nampaknya. Ah, meskipun enggan, aku ingin memaksamu duduk. Mendengar dengan hati dan pikiran terbuka.

Bukan! Bukan berandai mengawang yang tidak jelas, tapi meneguhkan kesiapan mu dengan masa depan "kita". Emm.. Meskipun belum ada "kita" sekarang.

Yang ingin aku bicarakan pertama adalah tentang ikatan. Suka kah engkau jika aku katakan bahwa aku akan menyayangimu sekedarnya? Tidak dalam keadaan sangat, apalagi takut kehilangan mu. Aku tidak akan takut jika suatu saat ada yang mengambilmu. Tak perlu menangis sedu-sedan seolah tanpa akhir, tak perlu merasa kehilangan berlarut seandainya hari itu tiba, cepat ataupun lambat. Karena malaikat maut tidak bisa aku cegah, wahai penyempurna separuh agama. Sungguh, aku pun ingin engkau mengatakan hal yang sama.

Kemudian, hal lain yang ingin ku katakan adalah bahwa jalan yang akan ada di depanku memang bukan jalan landai yang diliputi kesenangan hidup. Kesenangan dan kelapangan hidup tak mampu aku janjikan, wahai calon Ummu Zhaafirah! Apa yang akan kau lakukan seandainya di satu pagi kau mendapatiku dijemput dengan tangan diikat dan mata ditutup? Menangis keras kah? Atau engkau akan se-keras-kepala pendamping Naveed Butt?
Lalu tentang penerus kita. Kelak, jika kita dipercayai memiliki penerus nama dan degup jantung kehidupan, rela kah engkau seandainya aku katakan bahwa aku tak segan melepas mereka bersanding dengan penghulu para martir? Aku ingin mereka bertemu dengan Hamzah atau pun Sumayyah. Aku bahkan membayangkan engkau lah yang menyiapkan perlengkapan mereka sebelum meninggalkan rumahnya yang sederhana. Ditemani kecup hangat dari Bundanya yang shalihah.

Aduhai! Tahukah engkau betapa kecamuk pikiran semacam itu senantiasa melompat-lompat di neuron-ku?

Yang membuatku lebih gila lagi adalah kegelisahan pikiran: apakah aku mampu membuatmu menjadi sosok "sempurna"? Kenapa? Karena di belakang lelaki tangguh hampir selalu ada wanita hebat yang menyertainya, namun sepertihalnya lelaki, hebatnya wanita tidak ada sejak kelahirannya. Ayah-Ibu menjadi syarat pembentuk lingkungan awal, kemudian pendamping-lah yang meneruskan mengawal dan menjadikannya jauh lebih hebat lagi.

Teruntuk engkau, calon penghulu bidadari dambaan--yang entah dengan siapa aku berbicara.


_________________________________________________________________
DariUmm Salamah, isteri Nabi SAW, beliau menuturkan :
Aku bertanya, "Yaa Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari bermata jeli?

Baginda menjawab, "Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat."

Aku bertanya, "Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?"

Baginda menjawab, "Karena solat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas."

Mereka berkata : "Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami reda dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya."
(Hadis Riwayat ath-Tabrani)
read more

5 Jun 2012

Menyesalkah Kau Melahirkanku, bu?


Ibu, semenjak dahulu aku tahu dan pahami bahwa kau adalah manusia pertama yang aku kenal. Bahkan kau yang membuatku mengenali arti mengenal.

Kau mengajari bukan dengan peluh, bukan dengan kesah, bukan dengan sedikit resah, tapi dengan darah. Dengan darahmu, bu!

Kau ku bentak, menangis kau dibuatku.

Ku berontak, teriak kau dibuatku.

Diperban uban, ditelikung umur. Kau menua, Ibu!

Duhai penghulu bidadari yang didamba ayah. Beribu harap kau gelindingkan di hadap anakmu. Berharap dia mau dan mampu mengejar dengan derap kencang. Tapi tahukah engkau, ibu? Saat memulai melangkah, dia bahkan tidak tahu apakah sanggup mengejar semuanya. Iya, dia itu aku, bu.

Pasangan hidup yang kau inginkan aku bersanding dengannya, pengakuan halayak atas prestasi gemilang, kemapanan hidup yang menjulang. Aku tidak tahu apakah aku sanggup menggenggamnya. Meskipun sungguh, aku berlari menujunya, bu! Sungguh!

Bu, aku hanya ingin memastikan bahwa aku akan membuatmu tidak menyesal memberikanku kehidupan. Karena sungguh, aku akan menjadi saksi di hadapan Raja Semesta bahwa engkaulah yang membuatku mengenalNya.

Aku akan siap menjadi saksi saat tak ada hujjah kecuali apa yang telah diperbuat saat di dunia. aku akan bersaksi bahwa engkaulah yang menjadi kunci rahasia semesta ilmu. Engkaulah yang menjembataniku mengenali tugas para Nabi dan para pewaris risalahnya. Engkaulah yang menuntunku berada di barisan terdepan para martir! Itu engkau, ibu!

Dan aku akan membuatmu tidak menyesal melahirkanku ke dunia. Aku janji, ibuku sayang.
read more

20 Apr 2012

أين؟

Kang, dulu saya pikir saya gak bakalan jadi gini. Jadi orang yang terbuka pikirannya di tengah manusia-manusia jumud. Jadi manusia yang berani menyerang saat oranglain hanya sibuk bertahan. Jadi manusia yang teriak menggeram saat oranglain cuma diam. Ya! Menjadi bagian dari barisan pejuang penghancur peradaban keparat yang sedang sekarat, dan menggulirkan peradaban adidaya yang akan kembali jaya, Khilafah Islam.

Tapi kang, saya bingung. Kenapa harus saya? Bukan, kang! Bukan berarti saya gak bersyukur saya jadi bagian dari manusia-manusia yang (insya Allah) tercerahkan. Tapi di mana mereka orang-orang "yang harusnya" ada lebih dulu sebelum saya gabung? Masih belum ngerti, kang? Oke saya perjelas, kang!

DI MANA ORANG-ORANG YANG DILABELI KAUM INTELEK?! KENAPA ORANG BODOH SEPERTI SAYA YANG HARUS BERJIBAKU DAHULU DENGAN BUKU-BUKU YANG BERISI ISTILAH-ISTILAH ANEH ITU?!

DI MANA ORANG-ORANG YANG DILABELI SEBAGAI PENGUSAHA MUSLIM ITU?! KENAPA ORANG FAKIR SEPERTI SAYA YANG HARUS MENGURANGI JATAH MAKAN BERHARI-HARI UNTUK BISA MENYELENGGARAKAN EVENT YANG BERTUJUAN MENYADARKAN UMMAT?!

DI MANA PARA ULAMA' YANG HARUSNYA ADA DI BARISAN DEPAN JAUH SEBELUM KAMI BERADA?! KENAPA KAMI YANG BACA HURUF HIJAIYAH SAJA SULIT YANG HARUS BERADA DI BARISAN TERDEPAN?!

Jawab, kang! DEMI ALLAH SAYA SAKIT HATI!!! 

KENAPA SAYA YANG BELUM LAYAK INI YANG JUSTRU NGOTOT?! KENAPA MEREKA "YANG SEHARUSNYA" MALAH ONGKANG-ONGKANG KAKI?!

"Karena kamu lah yang kelak menggantikan posisi mereka. Kamu yang akan jadi seorang intelektual, kamulah yang akan jadi aghniya layaknya Abdurrahman bin Auf, KAMULAH YANG AKAN JADI ULAMA'!"

Kalau begitu, cukuplah kesakithatian ini berhenti sampai hari ini, kang. Karena saya akan mencukupkan diri sebagai orang bodoh sampai hari ini. Karena saya akan mencukupkan diri melabeli diri saya sebagaiorang faqir dalam harta sampai hari ini. Karena saya akan mencukupkan diri menjadi seorang yang jahil dalam agama sampai hari ini!
read more

18 Mar 2012

Batallamos Hasta La Victoria!

Tak ada manusia yang rela tujuannya tidak tecapai. Entah itu tukang cendol, para politikus pro status quo, apalagi orang-orang yang berusaha menggulirkan perubahan.

Manusia akan senantiasa berada pada tujuannya yang dia percayai layak untuk diperjuangkan. Contohnya adalah Che, seorang yang menjunjung tinggi idenya sampai dia mati bersimbah darah karena dihadiahi sembilan peluru oleh Mario Teran sang kacung pemerintah Bolivia, dan Hamzah bin Abdul Muthallib yang syahid karena ditombak dan dilahap organ hatinya oleh Hindun adalah beberapa contoh orang yang memegang teguh apa yang dia yakini walau diterjang badai zaman, hingga nyawa harus tergerus!

Bagi orang-orang yang tidak mengerti penting dan harusnya apa yang kita perjuangan, pasti akan memandang "ancaman himpitan kesulitan hidup karena memegang idealisme" dengan pandangan yang suram dan dahi berkerut, namun seiring dengan menguningnya daun dan runtuhnya pemahaman salah, "ancaman himpitan kesulitan hidup" karena memegang teguh apa yang kita yakini pun pada kelanjutannya tidak lagi menjadi sesuram saat kita hanya yakin hingga di kerongkongan. Bahkan, nampaknya bagi sang pengemban ide itu justru akan menjadi 'bumbu hidup' yang menggairahkan! Coba bayangkan, apa asiknya hidup dengan alur yang lurus dan tidak ada likaliku-nya? Meskipun tentu saja bukan berarti bahwa kita memperjuangkan sesuatu hanya demi mencari kegairahan hidup. Bukan! Dalam konteks ini, hadirnya kegairahan hidup hanya boleh dipandang sebagai efek samping yang mengiringi keteguhan langkah dan ketegasan sikap. Tidak boleh lebih dari itu!

Yang ingin saya katakan adalah bahwa konsekuensi dari keyakinan yang dipegang dengan dalam--lebih dari sekedar di kerongkongan--meniscayakan adanya pengorbanan. Bukan omongkosong bahwa waktu, harta, bahkan nyawa menjadi hal yang lumrah untuk dikorbankan, "sekedar" untuk mencapai tujuan. APAPUN tujuan itu! Tujuan baik, buruk, ataupun yang entah apa namanya.

Nah, apa yang kita korbankan akan menjadi petunjuk: hal apa dalam hidup kita yang menjadi komponen central (poros), dan apa yang menjadi 'satelit'.

Ada yang berani meninggalkan dunia kerjanya yang mapan demi menyambut seruan meninggalkan transaksi ribawi, ada yang berani meninggalkan pacarnya demi menyambut seruan menjauhi perbuatan yang mendekatkan diri dari zina, ada yang berani meninggalkan dunia demi meninggikan Dien yang telah mengangkat derajat diri dan kaumnya.

Ada yang meyakini bahwa dunia ini segalanya, maka dia jadikan ukuran dunia sebagai poros hidupnya. "Apa kata dunia?" katanya.

Ada yang  meyakini bahwa idealismenya menjadi hal yang harus diperjuangkan. Maka dunia akhirnya menjadi yang dijadikan sebagai gurauan saja. Tidak lebih!

SAYA? Sudahkah memegang hal yang layak untuk dijadikan poros hidup??
KAMU? Sudah berani mengorbankan apa demi hal yang dipandang layak dijadikan poros hidup??
Tujuan akhir seperti apa yang hendak kita raih?
Penglihatan dari mana yang kita khawatirkan?
Penghormatan siapa yang kita harapkan?

Mungkin kalian akan mengira saya akan berkata: "tidak perlu diutarakan. cukup dalam hati." tapi saya katakan: "UNGKAPKAN SECARA JELAS! JAWAB DENGAN LANTANG! JIKA PERLU, TULIS DAN PAMPANG DI KAMAR ANDA!"

Kenapa? Karena akan jelas: layakkah hidup yang sekarang anda jalani untuk diteruskan? Atau perlu berbalik arah?

Bagi yang sudah mendapati jawaban "YA", maka sudah saatnya berteriak dengan lantang: BATALLAMOS HASTA LA VICTORIA!!!
[akira]
read more

30 Jul 2011

are you gay? WTF?!

Some people asks me that f****** question. Do you know, actually I always upset when someone asked me that f***** thing. But hei! I can't make you people sure that I definitely, absolutely, 100% not a gay. The only I can do is asking to you people, what make you think that I'm a gay? Because I have no girlfriend? Because you never seen me closed to a girl? WTF!!

Okay.. Once again I can't make you people sure that I'm not like you people think, but you can read my article about the 'gay thing' on To the Fu**ing homosexual who always texting me almost twice everyday.

About the reason why I have no girlfriend and never closed to girls you can read Mengertilah! karena aku mencintaimu dalam diamku, and Insya'a-llah I will post another article about "nidham al-Ijtima'i fiy al-Islam". Just make sure that you always visit my blog at least weekly..hehe :)

Then that's all I can say to you. Yeah! You, fool people who keep the f****** su'udhan in your f****** mind! If you still keep the f***** mind, I think you'll burned on the h***l with your f***** a** hole!
read more

1 Jul 2011

To the Fu**ing homosexual who always texting me almost twice everyday.

Maap-maap nih, diksi tulisan kali ini mungkin bikin kalian yang baca panas matanya, tapi saya pikir hanya dengan diksi inilah pesan saya akan dapat tersampaikan dengan lugas tanpa celah kepura-puraan, karena kepura-puraan tidak akan menghasilkan apapun kecuali hasil yang pura-pura juga.

Mungkin kalian yang baca aneh, ngeri, atau bahkan jijik dengan judul yang saya pilih, tapi saya katakan bahwa ini adalah perwujudan rasa kesal saya pada manusia-manusia terkutuk yang mengamalkan tingkah-tingkah laknat kaum nabi Luth as.


Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?" (QS. An-Naml: 54)

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit.
Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. (QS. Al-Hijr: 73-74)

Sungguh, saya sesungguhnya bukanlah tipe orang yang suka mencaci dan melafalkan kata-kata yang kasar di keseharian saya, namun DEMI ALLAH perbuatan menjijikan pengikut tingkah laku kaum Nabi Luth as. Ini tidak layak untuk dilemah lembuti!
Semuanya bermula dari saya yang harus mengulang suatu mata kuliah praktikum yang salahsatu tugasnya adalah melakukan pemeriksaan psikologi yang akan memunculkan (mengorek) tentang aspek relasi interpersonal seseorang. Saya kemudian memeriksa subjek di laboratorium psikologi, dan ternyata kami harus melakukan anamnesa (penggalian informasi tentang kehidupan seseorang yang diantaranya dengan metode interview). Mau tidak mau, ya saya harus melakukan interview dengan subjek pemeriksaan saya.
Singkat cerita, kami lalu bertemu di dekat masjid kampus. Untuk lebih menjaga privasi, kami lalu mencari tempat yang agak jarang orang. Pindahlah kami ke sebelah selatan masjid. Di situlah saya mulai mengorek kehidupannya, dan tak dinyana kemudian sang manusia laknat itu menceritakan tentang semua perilakunya yang tak jauh berbeda dengan ANJING! NAJIS SAYA SEKEDAR MEMIKIRKAN UNTUK MERANGKAI KATA UNTUK MENDESKRIPSIKAN PERILAKUNYA YANG LEBIH RENDAH DARI BINATANG ITU!
Setelah berakhir proses anamnesa, saya lalu membuat laporan praktikum itu. Belum habis rasa jijik, shock, dan tidak percaya atas cerita subjek yang saya periksa, kemudian manusia keparat itu sejak saat itu selalu mengirimi saya SMS hampir 2 kali dalam sehari!
Saya awalnya menyangka sms itu dari perempuan, karena kadang memang ada perempuan yang entah apa maksudnya mengirim sms ke nomor saya, namun belakangan saya tahu bahwa ternyata makhluk terlaknat itu yang mengirimi sms hampir tiap hari!
Saya akhirnya ber'azzam jika kelakuan terlaknat itu masih berlangsung, hingga waktu tertentu, maka maka saya akan menjadikan dia tidak bisa lagi hidup dengan nyaman!!

read more

25 Jun 2011

prahara rasa

Saat rasa menjadi bencana.
Menjelma prahara berdalih kasih, maka liar rasa menjadi raja tata kata dan langkah.
Duh! Andai waktu itu dapat aku jemput kau di persimpangan, mungkin jinak yang ku peroleh!
Andai boleh menoleh, kembali mengamati hati hingga mendapati arti, mungkin kini tak mati!
Pada akhirnya, gundah selalu saja melipat di saat yang tepat! Bahkan memaksa curiga hingga batas teratas ‘Arsy.
Huh! Seandainya ku kelu, tentu tak akan dapati keluh keluar bersama peluh yang berpuluh-puluh!
read more

3 Jun 2011

Mengertilah! Karena aku mencintaimu dalam diamku

Tidak ada manusia yang tidak memiliki rasa cinta. Kehadiran hawanya menjadi sebuah kelumrahan, namun saya katakan bahwa pengejawantahannya di jalan yang tidak direstui Pencipta Rasa, adalah suatu bentuk kekurangajaran! Bentuk pembangkangan yang melawan kodrat penciptaannya.

Malapetaka ‘pengejawantahan rasa’ biasanya dimulai dari kompromi-kompromi hati dengan tingkah-tingkah kecil dan sederhana. Ya! Karena sesederhana apapun tingkah manusia pada manusia lain yang ‘berasa berbeda’, akan menghasilkan kesan mendalam yang sanggup meledakkan hari! Akan berbeda rasanya saat ada seorang tukang ojek yang menawari untuk membonceng dengan saat ada kakak kelas kecengan—misalnya—yang memberikan sedikit senyum dan mengajak mengobrol basa basi, sekedar me-like status, apalagi menawari membonceng!

Saya bisa saja menjadi orang yang paling romantis yang pernah anda kenal; menghujani hari-hari anda dengan setumpukan sajak-sajak merah-jambu yang mampu melenakan waktu, menarik purnama hingga seolah tak terjarak atau bahkan seolah mampu dijejak. Namun saya lebih mencinta menggengam bara: memendam rasa hingga tiba masanya. Jika tak kunjung tiba, maka sayang ini mungkin bukan untuk anda.

Jika suatu waktu rasa mulai dengan kurang ajar menggoda, maka saya pastikan akan berubah membalik suasana. Takkan ada lagi tingkah bijaksana di depan anda. Saya akan membuat anda membenci saya! Maaf.

“God help I’m sick
God forgive I’m weak”
[Purgatory: hypocrishit]
TABIK!
[mumtaaz]
read more

HYPOCRITE*

Anda bisa mengatakan apa saja tentang apa yang anda pikir itu benar. Anda boleh menyanggah apa yang orang sampaikan. Dengan santun ataupun dengan nada menyerang. Menguliti hingga mereka tak bisa lagi tidur dengan tenang, bahkan kesulitan bernafas saat mereka beranjak dari sofa-sofa mereka. Namun anda mengetahui tentang anda sendiri. Tentang langkah apa yang sebenarnya anda tapaki di neuron-neuron yang terisi informasi.

Rekam-jejak sajak sel-sel yang anda gerakkan untuk mengungkap tiap kata yang menghambur dari sudut bibir takkan mungkin terhapus begitu saja. Anda mungkin mengira akan terhapus. TIDAK! Sekali-kali, tidak!

Sungguh kesemuanya yang anda tapaki akan menjadi saksi bagaimana anda berusaha mencitrakan diri baik di depan makhluk-makhluk yang anda ‘tipu-muslihati’! Dan saat tumpukan ‘kesakithatian karena ditipumuslihati’ mereka mewujud utuh menjadi riuhnya celaan, anda akan mencicipi betapa kepalsuan yang anda bangun di masa lalu itu sangatlah menjijikan. Layaknya anda mendapati diri anda tengah meludahi wajah anda sendiri.

Anda, saya katakan, bisa saja menarik waktu untuk memutihkan kembali lembar-lembar yang terserak di lumpur nista hipokrit itu, namun pertanyaan besarnya adalah: APAKAH ANDA SANGGUP MENARIK PERHATIAN ALLAH UNTUK SEKEDAR MELIRIK ANDA UNTUK MEMBERIKAN PENGAMPUNANNYA??

Tak banyak orang berlumuran salah yang pada akhirnya sanggup menarik perhatian Tuhannya untuk mengampuni dirinya. Tak percaya? Tengoklah kisah-kisah para penyambung amanat Tuhan! Yeah, para Nabi & Rasul! Berapa banyak ummat di zamannya yang berakhir bahagia setelah dia mencibir ajaran yang dibawa Nabi/Rasul?

Menyesallah atas segala muslihat dan kepalsuan yang telah anda jalani! Jika belum berakhir, maka akhirilah! Saya ingatkan bahwa tiap detik tubuh anda terus mengalami penuaan dan penurunan fungsi! Suatu saat sel-sel itu secara serempak tidak berungsi, maka berakhirlah semua kemungkinan-kemungkinan baik dan harapan-harapan anda!
Tabik!
NB: sedikit memberi bocoran, saya pernah mendengar bahwasannya Allah akan mau memberikan pengampunanNya jika yang meminta padaNya sungguh-sungguh dan ‘menjual’ dirinya pada Dia. Saya benar-benar tak paham jika ada manusia yang menyia-nyiakan kesempatan kedua ini!

* hujatan-hujatan ini saya lakukan saat saya berhadapan dengan makhluk yang selalu merefleksikan apa-apa yang dihadapkan padanya. Kalau tidak salah orang-orang menisbatkan suatu nama yg cantik pada makhluk itu: Cermin.
read more

limitation

Semuanya pasti ada batasnya, kawan!

Tak semua yang kau ingini akan dapat terpenuhi.

Manusia punya batas perlawanan, batas jengah.

Saat itu tiba, aku harap semuanya akan baik-baik saja. Tentu saja! Dengan atau tanpa, semuanya harus berjalan!

‘dengan’ tak selalu membawa kebahagiaan dan kekuatan!

‘tanpa’ pun tak selamanya mengawali sebuah episode kelemahan!

Benar aku akui bahwa ‘dengan’ itu berarti akan menjadi berbilang, dan benar juga bahwa ‘tanpa’ menjadikan menghantarkan pada kata ‘tak berpunya’. Namun sungguh aku menyadari sepenuh hati bahwa engkau akan selalu ditemani oleh “Sang Terbilang namun Tak Berbilang”.

read more

My dearest SEKSIOI

Handphone. Apakah itu handphone? Yeah! Alat elektronik yang dalam bahasa Indonesianya adalah telepon genggam ini adalah alat komunikasi jarak jauh yang nirkabel. Handphone bagi banyak orang mungkin hanya dinilai sebagai alat komunikasi dan ditambah berbagai perangkat multimedia tambahan yang selalu berkembag setiap serinya, namun saya akui Allah benar-benar mengajarkan banyak hal dari handphone saya yang jadul ini.

Perkenalkan HP saya yang panggilan sayangnya adalah “SEKSIOI”. Whoops! Mungkin kalian berpikir bahwa saya mengidap kelainan jiwa karena saya berkata seperti itu, namun saya yakinkan bahwa saya masih waras meskipun cuma sedikit. Hehehe. Ehem! Kembali ke maksud pembahasan saya. Handphone dan semua benda lain yang ada di sekitar kita sebenarnya senantiasa menebarkan inspirasi Ilahiyah, namun tidak semua dari kita mau menggali makna apa yang bisa dipetik dari sederhananya peristiwa bersama benda-benda sederhana itu.

Adalah saya, monochrome, pemilik Handphone Sonny Ericsson seri K510i. yap! Hp jadul dengan fitur-fitur sederhana. Saya memang bukan orang yang senang bergonta-ganti barang. Saya berprinsip jika memang masih bisa dipakai, kenapa mesti diganti? Hehe. Begitu pula dengan hp. Meskipun banyak orang yang menyuruh saya untuk mengganti, namun saya tetap menggunakan Hp yang dibeli tahun 2007 ini. Suatu hari saat saya tengah berada di luar rumah, saya tiba-tiba menyadari bahwa Hp saya sudah tidak lagi di tangan saya. Saya kemudian meminjam Hp milik kawan, namun kecewa yang saya dapat. Awalnya saya tlp namun tidak diangkat, kemudian beberapa saat kemudian Hp saya sudah tidak aktif. Mungkin ada yang menemukan lalu mematikan dan mencabut kartunya. Saya sudah kecewa saja, lalu pulang ke kosan dengan lemas. Saya kemudian bercerita pada kawan satu kosan dan mencoba menelepon kembali Hp saya dengan berharap ada respon dari yang menemukan. Dengan setengah tidak percaya, saya mendengar nada tunggu, dan tidak lama kemudian ada yang menyapa di ujung telepon sana. Singkat cerita, saya akhirnya menemui yang menemukan SEKSIOI dan mengucapkan terimakasih yang tak terkira.


Memang kisah seperti ini sederhana atau bahkan biasa-biasa saja, namun saya akan memberitahu bagian yang tidak biasa nya: saya mengalami kejadian seperti itu sebanyak 2 kali!!


What?! Kalian masih pikir itu biasa-biasa saja? Terserah kalian deh! Terlepas dari biasa-biasa atau luarbiasanya cerita tadi, ada hal yang ingin saya bagi di situ. Bagi saya, Hp SE K510i ini mengajarkan setidaknya 2 kata: Qadha dan Roja.


Qadha adalah ketetapan Allah yang tidak bisa diganggugugat. Sekalinya Allah mengatakan ‘A’, mau atau tidak, suka atau pun tidak, baik atau pun ‘buruk’, maka akan terjadi. Kita tidak bisa mengubah keputusanNya walau setitik! Hal ini terkait juga dengan jodoh, kecelakaan, rizqi dan ketetapan Allah lainnya. Soal jodoh, kita tetap tidak akan berjodoh dengan seseorang meskipun kita sudah mengkhitbah jika Allah menyatakan seseorang itu bukan jodoh kita. Sebaliknya, meski sudah dikhitbah orang, jika memang Allah menyatakan seseorang itu jodoh kita, maka tidak akan kemana-mana. (curhat.com :p) Begitu pula dengan kecelakaan dan rizqi. Keduanya tidak akan dapat kita hindari ataupun datangkan jika memang Allah tidak menetapkan hal itu untuk kita.

Hal kedua adalah ar-Roja. Adalah manusia, dibekali dengan banyak potensi dan kemampuan untuk meraih banyak pencapaian hidup. Hanya saja kita terkadang kehilangan satu hal: SEMANGAT! Ar-Roja adalah semangat dan pengharapan. Kita manusia bisa mengarungi samudera bertahta badai, menelusuri perut bumi, hingga menembus angkasa. Kesemuanya itu tidak lain karena adanya ar-Roja. Entah bagaimana seandainya saya kehilangan pengharapan dan menghentikan pengharapan menemukan kembali Hp saya. Mungkin saya akan menjadi manusia tanpa Hp sekarang. Hehe


Cukup sekian hal yang bisa saya bagi. Pesan bang napi: jangan pernah lewatkan detil kehidupan, karena dengannya kita akan mendapatkan kearifan-kearifan sederhana yang bisa kita bagi dengan orang-orang di sekitar kita.
Tabik!
[akira]

read more

sarcasm dialogue


A: Adi aing nu awewe keukeuh hayang kuliah di Psikologi, euy! Kamana nya? (adik gw maksa pengen kuliah di Psikologi, euy! Ke mana ya?)

B: nu urang apal nu terkenal teh mun teu di UNPAD, UGM atawa UI weh.. (yang gw tau, yang terkenal tuh kalo gak di UNPAD, UGM atau UI aja.)

A: ah bingung, an***g!

B: naha bingung sagala?! ngiBING jeung maUNG? [Kenapa bingung segala? ngibing (nari) sama (singa)?]

A: enya, an***g! adi urang pas sakola ge nguruskeun na teh bobogohan jeung bobogohan wae! Ngomongkeun na teh lalaki we! Eta teh keur di imah keneh! Kumaha mun jauh ti imah?! Teu kakontrol ku aing! Paur! (iya, an***g! adik gw pas sekolah ngurusinnya cuma pacaran aja! ngomonginnya tentang laki-laki terus! Itu tuh waktu masih di rumah! gimana kalo jauh dari rumah?! gak bakalan kekontrol sama gw! Khawatir gw!)

B: eta weh atuh nu deukeut, UNPAD atawa UPI, jeung UIN ge aya ketang. (itu aja tuh yang deket di unpad atau upi. UIN juga ada deng.)

A: oh heueuh. Eta wae kitu?? (oh iya? itu aja gitu ya?)

Huft.. berat buat saya nulis kata-kata sarkas itu (meskipun disensor), hehehe. Tapi saya merasa perlu untuk menulis kata2 itu untuk menggambarkan point apa yang ingin saya sampaikan.
Kali ini saya coba bahas tentang apa coba? Yap! Tentang WANITA! Makhluk yang dilindungi, dihormati dan dimuliakan oleh Allah. (terus kenapa perlu ada kata-kata sarkas yang disensor itu? Kalian bakal tau sendiri!)
Tidak banyak wanita yang menyadari bahwa mereka dimuliakan oleh Allah. Gak percaya? Lihat berapa banyak wanita yang mengiyakan titah Allah buat mengenakan ‘khimar’? Berapa banyak wanita yang mengiyakan titah Allah untuk mengenakan ‘jilbab’?
Ah! saya hampir yakin kalian mulai bête setelah baca paragraf di atas! Iye lah! Orang tuh biasanya gak suka diusik ‘comfort zone’-nya! Jangan pura-pura bilang ‘engga’ deh!
Oke, let’s get in to the point! Begini lho para pembaca yang budiman. Dari dialog di atas (yang memang bener-bener saya alami), saya Cuma pengen ngegambarin betapa sebejad-bejadnya kakak, babeh, ato laki-laki mana pun, sungguh mereka GAK SUDI anggota keluarganya yang wanita atau wanita yang dia sayang disakiti, dilecehkan, atau direndahkan kehormatannya! Coba tanya sama preman-preman yang suka godain cewe dengan manggil “neng, bade ka mana?!” ato suit-suitin kalo ada cewe lewat: dia bakalan gimana kalo emak dia, adik cewe dia, bibi dia, ato mungkin istri dia dilecehin? Beuh! Saya yakin jawabannya bakalan ekstrim! Jawaban ‘paling santai’ kayaknya “ku aing bakal diteunggeulan!”
Saya pikir itu jadi bahan renungan buat saya (semoga buat kalian juga) bahwa kalian Kaum Hawa itu ditinggikan derajatnya oleh Allah ‘azza wajalla! Jangan coba-coba merendahkan diri dengan ‘mengobral’ diri! Hormati diri kalian dengan hanya menampakkan apa yang patut ditampakkan di muka umum. DEMI ALLAH kalian terlalu berharga untuk membuka apa yang seharusnya ditutupi!!! Tidak akan menjadi buruk rupa seandainya kalian hanya menampakkan apa yang patut untuk ditampakkan!
Emm.. apa dialog di atas nyambung dengan wakwekwok saya? Whatever! Huahahaha!
Teruntuk ‘tulang rusuk’ yang entah berpasang dengan siapa kelak
Jangan biarkan liar pandangan menyibak
Cintailah titah Tuhanmu yang menunjuk
Hingga manisnya jannah kelak kita jejak!
Semoga menginspirasi!
Tabik!
[salfa]
read more

17 Mar 2011

Aswad

Saat tiran-rasa memaksa untuk tak lagi merasa. Menghilangkan nada warna-amarah hingga jadi tak bermakna, atau sekedar bermakna ganda saja. Maka hitam tak lagi kelam, putih tak lagi jernih. Yang ada hanya abu-abu.
Hai, kawan.. aku hanya ingin menjelaskan dengan sederhana bagaimana seharusnya kepekatan kita abadikan kesannya sebagai sebuah kelam saja. Tak perlu tanggapi andai terekam nada warna selainnya. Karena aku yakin bahwa tak ada yang abu2 selama kejelasan makna mampu kita hadirkan saat mencerap fakta. Karena aku yakin Dia hanya mencipta dua warna: kelam dan tidak. Abu2 hanya semu, kefanaan yang tak ada makna saat telah mendapati jati diri.
Maka teriaklah dengan lantang: HITAM AKAN TETAP KELAM DAN PUTIH SENANTIASA JERNIH!
read more

"Proses"

Hari sudah menjadi minggu, bergerak menuju bulan, lalu berevolusi menjadi tahun. Waaaa! Saya gak menyangka waktu berjalan begini cepatnya! Ah! Atau malah sebenarnya saya yang bergerak lambat? Hmm.. nampaknya memang saya yang lambat merambat.

Lima tahun rupanya saya sudah meninggalkan 2006, namun sungguh lompatan2 informasi tentang pergulatan dalam pikiran tetap saja masih jelas terekam. Salahsatunya adalah saat saya mencoba ’membujuk’ kawan lama yang lama tak berjumpa suasana kajian melingkar sambil disuguhi kitab2 dengan huruf arab gundul.

Beliau sebenarnya adalah orang yang satu tahun lebih dahulu hadir di dunia ini daripada saya, tapi secara garis keturunan, saya yang harusnya beliau panggil Oom. Hehe.

Beliau juga orang yang dua tahun lebih dahulu bergabung bersama mereka yang mengacungkan jari tengahnya untuk para penguasa dhalim dan tidak menerapkan aturan-aturan Alloh; barisan orang-orang yang merindukan hidup di bawah satu Super Global State dengan Islam sebagai satu-satunya warna yang memperindah negeri-negeri di Asia, Afrika, Amerika, Eropa dan Australia.

”Lamanya seseorang berkenalan dengan sesuatu tidak menjadi jaminan bahwa dia adalah orang yang paling tahu dan menjadikannya sebagai ’sesuatu’ dalam dirinya” begitu kata orang. Saya awalnya bingung dengan ungkapan itu, namun lama kemudian saya akhirnya mengerti saat bertemu ungkapan lain: ”tidak semua kelapa tua itu semakin tua akan semakin bersantan. Hanya kelapa yang masih bulat utuh saja lah yang akan menjadi semakin bersantan. Karena retak sedikit saja, kelamaan dia akan menjadi busuk!”

Waktu memang merupakan variable penting dalam rangka pembuktian. Waktu akan menjadi saksi kesetiaan pada komitmen, kristalisasi pemahaman, konsistensi loyalitas serta independensi pemikiran seseorang. Waktu akan menyibakkan berbagai tabir kematangan-semu seseorang, sehingga akan jelas hijau atau ranumkah dia.

Setelah saya mendapati pemahaman-pemahaman baru tentang waktu dan kematangan pemikiran, saya memberanikan diri untuk menyentil saudara saya itu di fs. Hmm.. sepertinya percakapan saya dengan dia sekaligus menjadi penutup aja, ya.

Saya: assalamu’alaykum! Kamana wae, om? Hehe bagaymana sudah memulai mengaji lagi kah?

Doski: wa’alaykumsalam. Aya wae. J acan, euy! Tapi saya kira tidak semua hal mesti sama. Perbedaan adalah rahmat. Saya masih dalam proses pencarian..

Saya: ya, memang Tidak semua hal mesti sama, karena jika semua hal sama, maka dunia ini akan mewujud menjadi tempat yang menjemukan! namun ada satu hal, akhi! satu hal! bagaimana menyelaraskan perbedaan itu demi suatu tujuan: kecintaan Tuhan.. sungguh! ana tidak sedang mencoba mengatakan bahwa HANYA jamaah ini yang akan menggiring manusia menuju cinta Tuhan! Ana hanya berusaha menepuk-hangat pundak antm, saat antum (dan banyak orang lainnya) tengah terombang-ambing waktu dan bimbangnya rasa. Ana sebagai saudara-sedarah dan saudara-tak-sedarah antum, berusaha mengatakan bahwa daratan ada di pelupuk mata, akhi..mari merapat..!

[yg ingin ana katakan di testimonial fs ini: mohon jangan artikan sapaan ini sebagai paksaan, namun posisikan sebagai penawaran di tengah perjalanan yang antum jalani: sebuah keterombang-ambingan di tengah "proses"]

Semoga menginspirasi!

TABIK!

[salfa]

read more