Manusia hidup dengan angan bahwa semuanya akan ada dalam keadaan baik dan selalu baik. Wajar, karena idealitas memang harus selalu begitu. Nilai tinggi harus selalu dibuat dengan standar sempurna, 100% tanpa cacat.
Kesempurnaan nilai harus ada dengan maksud agar manusia mampu mengejarnya. Hilangnya idealitas hanya akan membuat manusia hidup alakadarnya, tanpa motivasi, jumud. Bayangkan betapa lambatnya kehidupan dengan 'hanya' mengandalkan realita fakta. Menyerah pada apa yang dilihat, yang dirasa buruk.
Hanya saja, manusia untuk bisa memberi ruang pada orang lain dan dirinya sendiri untuk ada error dan kealpaan juga penting. Ruang itu perlu untuk selalu ada dengan persepsi bahwa ketidaksempurnaan adalah wujud 'kesempurnaan' penciptaan manusia itu sendiri.
Rabb Semesta Alam dengan presisi menyimpan celah error itu secara sengaja dengan maksud agar sistem semesta ini bisa saling mengisi satu sama lain. Puzzle akan saling terhubung dengan adanya celah kosong dari satu keping dengan keping lainnya. Tanpa adanya celah kosong, akan sulit untuk menemukan kepingan lain yang akan melengkapi.
Sebagaimana puzzle, celah error atau pun kosong dari manusia akan menyebabkan kita membutuhkan pihak lain untuk melengkapinya. Itulah alasan mengapa kekurangan manusia akan dibutuhkan dengan maksud ketersambungan satu dengan manusia satu dengan yang lainnya. Kita perlu diingatkan agar tertutupinya celah error tersebut.
Alhasil, kerjasama antar manusia satu dengan yang lainnya akan terjadi jika dan hanya jika ada celah dan kekurangan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Arah pandangan manusia tidak ada yang 360 derajat, ada titik buta. Itu saja cukup rasanya untuk membuktikan bahwa keterbatasan dan celah error sangat ada dalam diri manusia.
Hiduplah sewajarnya manusia. Berperilaku mengejar nilai paling tinggi, namun tetap beri ruang untuk sadar bahwa seluruh manusia, termasuk anda bisa melakukan error dan memperbaikinya. Ingatlah anda 'hanya' melakukan kesalahan. Anda bisa melakukan koreksi dan putar balik, selama anda masih hidup.
Hiduplah sewajarnya manusia. Salah adalah salah dan jadikan itu bengkel perbaikan diri. Berdiri dan berjalanlah kalau belum bisa kembali berlari!
Hiduplah sewajarnya manusia!