Tampilkan postingan dengan label ngelantur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngelantur. Tampilkan semua postingan

1 Nov 2020

Menulis Untuk (si)apa?


Kalian pernah bertanya-tanya gak sih tentang tulisan-tulisan saya di blog ini? Kenapa saya buat tulisan-tulisan di sini? Untuk senjata pemikat kah? Dalam rangka apa saya nulis di blog ini? Dalam rangka memperingati hari kerupuk-kulit internasional kah? Hari encok sedunia kah? Hal yang paling mendasar adalah: kenapa dibuat blog ini? Kenapa dinamai "monologofmonochrome", bukan misalkan pakai nama saya sendiri sepertihalnya yang dibuat oranglain, atau apalah yang bisa diingat.

Saya ingat dahulu ketika pertama kali membuat blog ini saya justru bingung dengan konten apa yang hendak saya tulis. akhirnya saya isi dengan sapaan umum. entah untuk siapa. hehe. Saya memang tidak menyengaja untuk menyapa siapapun secara khusus.

Kita sebagai manusia tentu punya banyak hal di kepala. Karena secara fitri, kita akan merespon fakta yang kita indera. Berupa apapun, baik itu visual, audio atau bentuk lain yang bisa kita indera. Hal ini meniscayakan adanya pemikiran. Pemikiran itu pada akhirnya bisa bermuara pada dua kemungkinan: terutarakan atau tidak.

Manteman coba ingat-ingat kembali. Dari sekian banyak respon terhadap fakta yang kita indera, berapa banyak yang benar-benar kita respon? Kemudian, dari sekian banyak respon, berapa banyak respon yang sudah mewakili maksud kita sebenarnya? Selanjutnya, dari sekian banyak respon yang sudah mewakili maksud kita sebenarnya, berapa banyak "kebijaksanaan" terungkap yang kita bisa ingat di kemudian hari? Lebih sedikit kan?

Nah, untuk itulah blog ini dibuat. Tujuan utama sebenarnya bukan untuk menasihati orang di luar sana, tapi justru saya sendiri di kemudian hari jika saya lupa. Itulah kenapa nama blog ini adalah monolog, karena sejatinya saya sedang melakukan monolog secara tertulis. 

Meskipun begitu, saya bersyukur jika ada yang mengambil manfaat dari monolog ini. Mohon doanya agar saya senantiasa ada dalam kebaikan, baik anda mengenal saya ataupun tidak.

Sekali lagi, blog ini saya tulis sebenarnya untuk saya baca kembali di kemudian hari. Ya, untuk saya sendiri, yang menulis ini. Bukan anda. Kecuali anda adalah saya sendiri.  😃

ditulis pada 1/6/2014 12:30 AM
read more

20 Apr 2012

أين؟

Kang, dulu saya pikir saya gak bakalan jadi gini. Jadi orang yang terbuka pikirannya di tengah manusia-manusia jumud. Jadi manusia yang berani menyerang saat oranglain hanya sibuk bertahan. Jadi manusia yang teriak menggeram saat oranglain cuma diam. Ya! Menjadi bagian dari barisan pejuang penghancur peradaban keparat yang sedang sekarat, dan menggulirkan peradaban adidaya yang akan kembali jaya, Khilafah Islam.

Tapi kang, saya bingung. Kenapa harus saya? Bukan, kang! Bukan berarti saya gak bersyukur saya jadi bagian dari manusia-manusia yang (insya Allah) tercerahkan. Tapi di mana mereka orang-orang "yang harusnya" ada lebih dulu sebelum saya gabung? Masih belum ngerti, kang? Oke saya perjelas, kang!

DI MANA ORANG-ORANG YANG DILABELI KAUM INTELEK?! KENAPA ORANG BODOH SEPERTI SAYA YANG HARUS BERJIBAKU DAHULU DENGAN BUKU-BUKU YANG BERISI ISTILAH-ISTILAH ANEH ITU?!

DI MANA ORANG-ORANG YANG DILABELI SEBAGAI PENGUSAHA MUSLIM ITU?! KENAPA ORANG FAKIR SEPERTI SAYA YANG HARUS MENGURANGI JATAH MAKAN BERHARI-HARI UNTUK BISA MENYELENGGARAKAN EVENT YANG BERTUJUAN MENYADARKAN UMMAT?!

DI MANA PARA ULAMA' YANG HARUSNYA ADA DI BARISAN DEPAN JAUH SEBELUM KAMI BERADA?! KENAPA KAMI YANG BACA HURUF HIJAIYAH SAJA SULIT YANG HARUS BERADA DI BARISAN TERDEPAN?!

Jawab, kang! DEMI ALLAH SAYA SAKIT HATI!!! 

KENAPA SAYA YANG BELUM LAYAK INI YANG JUSTRU NGOTOT?! KENAPA MEREKA "YANG SEHARUSNYA" MALAH ONGKANG-ONGKANG KAKI?!

"Karena kamu lah yang kelak menggantikan posisi mereka. Kamu yang akan jadi seorang intelektual, kamulah yang akan jadi aghniya layaknya Abdurrahman bin Auf, KAMULAH YANG AKAN JADI ULAMA'!"

Kalau begitu, cukuplah kesakithatian ini berhenti sampai hari ini, kang. Karena saya akan mencukupkan diri sebagai orang bodoh sampai hari ini. Karena saya akan mencukupkan diri melabeli diri saya sebagaiorang faqir dalam harta sampai hari ini. Karena saya akan mencukupkan diri menjadi seorang yang jahil dalam agama sampai hari ini!
read more

18 Mar 2012

Batallamos Hasta La Victoria!

Tak ada manusia yang rela tujuannya tidak tecapai. Entah itu tukang cendol, para politikus pro status quo, apalagi orang-orang yang berusaha menggulirkan perubahan.

Manusia akan senantiasa berada pada tujuannya yang dia percayai layak untuk diperjuangkan. Contohnya adalah Che, seorang yang menjunjung tinggi idenya sampai dia mati bersimbah darah karena dihadiahi sembilan peluru oleh Mario Teran sang kacung pemerintah Bolivia, dan Hamzah bin Abdul Muthallib yang syahid karena ditombak dan dilahap organ hatinya oleh Hindun adalah beberapa contoh orang yang memegang teguh apa yang dia yakini walau diterjang badai zaman, hingga nyawa harus tergerus!

Bagi orang-orang yang tidak mengerti penting dan harusnya apa yang kita perjuangan, pasti akan memandang "ancaman himpitan kesulitan hidup karena memegang idealisme" dengan pandangan yang suram dan dahi berkerut, namun seiring dengan menguningnya daun dan runtuhnya pemahaman salah, "ancaman himpitan kesulitan hidup" karena memegang teguh apa yang kita yakini pun pada kelanjutannya tidak lagi menjadi sesuram saat kita hanya yakin hingga di kerongkongan. Bahkan, nampaknya bagi sang pengemban ide itu justru akan menjadi 'bumbu hidup' yang menggairahkan! Coba bayangkan, apa asiknya hidup dengan alur yang lurus dan tidak ada likaliku-nya? Meskipun tentu saja bukan berarti bahwa kita memperjuangkan sesuatu hanya demi mencari kegairahan hidup. Bukan! Dalam konteks ini, hadirnya kegairahan hidup hanya boleh dipandang sebagai efek samping yang mengiringi keteguhan langkah dan ketegasan sikap. Tidak boleh lebih dari itu!

Yang ingin saya katakan adalah bahwa konsekuensi dari keyakinan yang dipegang dengan dalam--lebih dari sekedar di kerongkongan--meniscayakan adanya pengorbanan. Bukan omongkosong bahwa waktu, harta, bahkan nyawa menjadi hal yang lumrah untuk dikorbankan, "sekedar" untuk mencapai tujuan. APAPUN tujuan itu! Tujuan baik, buruk, ataupun yang entah apa namanya.

Nah, apa yang kita korbankan akan menjadi petunjuk: hal apa dalam hidup kita yang menjadi komponen central (poros), dan apa yang menjadi 'satelit'.

Ada yang berani meninggalkan dunia kerjanya yang mapan demi menyambut seruan meninggalkan transaksi ribawi, ada yang berani meninggalkan pacarnya demi menyambut seruan menjauhi perbuatan yang mendekatkan diri dari zina, ada yang berani meninggalkan dunia demi meninggikan Dien yang telah mengangkat derajat diri dan kaumnya.

Ada yang meyakini bahwa dunia ini segalanya, maka dia jadikan ukuran dunia sebagai poros hidupnya. "Apa kata dunia?" katanya.

Ada yang  meyakini bahwa idealismenya menjadi hal yang harus diperjuangkan. Maka dunia akhirnya menjadi yang dijadikan sebagai gurauan saja. Tidak lebih!

SAYA? Sudahkah memegang hal yang layak untuk dijadikan poros hidup??
KAMU? Sudah berani mengorbankan apa demi hal yang dipandang layak dijadikan poros hidup??
Tujuan akhir seperti apa yang hendak kita raih?
Penglihatan dari mana yang kita khawatirkan?
Penghormatan siapa yang kita harapkan?

Mungkin kalian akan mengira saya akan berkata: "tidak perlu diutarakan. cukup dalam hati." tapi saya katakan: "UNGKAPKAN SECARA JELAS! JAWAB DENGAN LANTANG! JIKA PERLU, TULIS DAN PAMPANG DI KAMAR ANDA!"

Kenapa? Karena akan jelas: layakkah hidup yang sekarang anda jalani untuk diteruskan? Atau perlu berbalik arah?

Bagi yang sudah mendapati jawaban "YA", maka sudah saatnya berteriak dengan lantang: BATALLAMOS HASTA LA VICTORIA!!!
[akira]
read more

30 Jul 2011

are you gay? WTF?!

Some people asks me that f****** question. Do you know, actually I always upset when someone asked me that f***** thing. But hei! I can't make you people sure that I definitely, absolutely, 100% not a gay. The only I can do is asking to you people, what make you think that I'm a gay? Because I have no girlfriend? Because you never seen me closed to a girl? WTF!!

Okay.. Once again I can't make you people sure that I'm not like you people think, but you can read my article about the 'gay thing' on To the Fu**ing homosexual who always texting me almost twice everyday.

About the reason why I have no girlfriend and never closed to girls you can read Mengertilah! karena aku mencintaimu dalam diamku, and Insya'a-llah I will post another article about "nidham al-Ijtima'i fiy al-Islam". Just make sure that you always visit my blog at least weekly..hehe :)

Then that's all I can say to you. Yeah! You, fool people who keep the f****** su'udhan in your f****** mind! If you still keep the f***** mind, I think you'll burned on the h***l with your f***** a** hole!
read more

25 Jun 2011

prahara rasa

Saat rasa menjadi bencana.
Menjelma prahara berdalih kasih, maka liar rasa menjadi raja tata kata dan langkah.
Duh! Andai waktu itu dapat aku jemput kau di persimpangan, mungkin jinak yang ku peroleh!
Andai boleh menoleh, kembali mengamati hati hingga mendapati arti, mungkin kini tak mati!
Pada akhirnya, gundah selalu saja melipat di saat yang tepat! Bahkan memaksa curiga hingga batas teratas ‘Arsy.
Huh! Seandainya ku kelu, tentu tak akan dapati keluh keluar bersama peluh yang berpuluh-puluh!
read more

3 Jun 2011

Mengertilah! Karena aku mencintaimu dalam diamku

Tidak ada manusia yang tidak memiliki rasa cinta. Kehadiran hawanya menjadi sebuah kelumrahan, namun saya katakan bahwa pengejawantahannya di jalan yang tidak direstui Pencipta Rasa, adalah suatu bentuk kekurangajaran! Bentuk pembangkangan yang melawan kodrat penciptaannya.

Malapetaka ‘pengejawantahan rasa’ biasanya dimulai dari kompromi-kompromi hati dengan tingkah-tingkah kecil dan sederhana. Ya! Karena sesederhana apapun tingkah manusia pada manusia lain yang ‘berasa berbeda’, akan menghasilkan kesan mendalam yang sanggup meledakkan hari! Akan berbeda rasanya saat ada seorang tukang ojek yang menawari untuk membonceng dengan saat ada kakak kelas kecengan—misalnya—yang memberikan sedikit senyum dan mengajak mengobrol basa basi, sekedar me-like status, apalagi menawari membonceng!

Saya bisa saja menjadi orang yang paling romantis yang pernah anda kenal; menghujani hari-hari anda dengan setumpukan sajak-sajak merah-jambu yang mampu melenakan waktu, menarik purnama hingga seolah tak terjarak atau bahkan seolah mampu dijejak. Namun saya lebih mencinta menggengam bara: memendam rasa hingga tiba masanya. Jika tak kunjung tiba, maka sayang ini mungkin bukan untuk anda.

Jika suatu waktu rasa mulai dengan kurang ajar menggoda, maka saya pastikan akan berubah membalik suasana. Takkan ada lagi tingkah bijaksana di depan anda. Saya akan membuat anda membenci saya! Maaf.

“God help I’m sick
God forgive I’m weak”
[Purgatory: hypocrishit]
TABIK!
[mumtaaz]
read more

HYPOCRITE*

Anda bisa mengatakan apa saja tentang apa yang anda pikir itu benar. Anda boleh menyanggah apa yang orang sampaikan. Dengan santun ataupun dengan nada menyerang. Menguliti hingga mereka tak bisa lagi tidur dengan tenang, bahkan kesulitan bernafas saat mereka beranjak dari sofa-sofa mereka. Namun anda mengetahui tentang anda sendiri. Tentang langkah apa yang sebenarnya anda tapaki di neuron-neuron yang terisi informasi.

Rekam-jejak sajak sel-sel yang anda gerakkan untuk mengungkap tiap kata yang menghambur dari sudut bibir takkan mungkin terhapus begitu saja. Anda mungkin mengira akan terhapus. TIDAK! Sekali-kali, tidak!

Sungguh kesemuanya yang anda tapaki akan menjadi saksi bagaimana anda berusaha mencitrakan diri baik di depan makhluk-makhluk yang anda ‘tipu-muslihati’! Dan saat tumpukan ‘kesakithatian karena ditipumuslihati’ mereka mewujud utuh menjadi riuhnya celaan, anda akan mencicipi betapa kepalsuan yang anda bangun di masa lalu itu sangatlah menjijikan. Layaknya anda mendapati diri anda tengah meludahi wajah anda sendiri.

Anda, saya katakan, bisa saja menarik waktu untuk memutihkan kembali lembar-lembar yang terserak di lumpur nista hipokrit itu, namun pertanyaan besarnya adalah: APAKAH ANDA SANGGUP MENARIK PERHATIAN ALLAH UNTUK SEKEDAR MELIRIK ANDA UNTUK MEMBERIKAN PENGAMPUNANNYA??

Tak banyak orang berlumuran salah yang pada akhirnya sanggup menarik perhatian Tuhannya untuk mengampuni dirinya. Tak percaya? Tengoklah kisah-kisah para penyambung amanat Tuhan! Yeah, para Nabi & Rasul! Berapa banyak ummat di zamannya yang berakhir bahagia setelah dia mencibir ajaran yang dibawa Nabi/Rasul?

Menyesallah atas segala muslihat dan kepalsuan yang telah anda jalani! Jika belum berakhir, maka akhirilah! Saya ingatkan bahwa tiap detik tubuh anda terus mengalami penuaan dan penurunan fungsi! Suatu saat sel-sel itu secara serempak tidak berungsi, maka berakhirlah semua kemungkinan-kemungkinan baik dan harapan-harapan anda!
Tabik!
NB: sedikit memberi bocoran, saya pernah mendengar bahwasannya Allah akan mau memberikan pengampunanNya jika yang meminta padaNya sungguh-sungguh dan ‘menjual’ dirinya pada Dia. Saya benar-benar tak paham jika ada manusia yang menyia-nyiakan kesempatan kedua ini!

* hujatan-hujatan ini saya lakukan saat saya berhadapan dengan makhluk yang selalu merefleksikan apa-apa yang dihadapkan padanya. Kalau tidak salah orang-orang menisbatkan suatu nama yg cantik pada makhluk itu: Cermin.
read more

limitation

Semuanya pasti ada batasnya, kawan!

Tak semua yang kau ingini akan dapat terpenuhi.

Manusia punya batas perlawanan, batas jengah.

Saat itu tiba, aku harap semuanya akan baik-baik saja. Tentu saja! Dengan atau tanpa, semuanya harus berjalan!

‘dengan’ tak selalu membawa kebahagiaan dan kekuatan!

‘tanpa’ pun tak selamanya mengawali sebuah episode kelemahan!

Benar aku akui bahwa ‘dengan’ itu berarti akan menjadi berbilang, dan benar juga bahwa ‘tanpa’ menjadikan menghantarkan pada kata ‘tak berpunya’. Namun sungguh aku menyadari sepenuh hati bahwa engkau akan selalu ditemani oleh “Sang Terbilang namun Tak Berbilang”.

read more

My dearest SEKSIOI

Handphone. Apakah itu handphone? Yeah! Alat elektronik yang dalam bahasa Indonesianya adalah telepon genggam ini adalah alat komunikasi jarak jauh yang nirkabel. Handphone bagi banyak orang mungkin hanya dinilai sebagai alat komunikasi dan ditambah berbagai perangkat multimedia tambahan yang selalu berkembag setiap serinya, namun saya akui Allah benar-benar mengajarkan banyak hal dari handphone saya yang jadul ini.

Perkenalkan HP saya yang panggilan sayangnya adalah “SEKSIOI”. Whoops! Mungkin kalian berpikir bahwa saya mengidap kelainan jiwa karena saya berkata seperti itu, namun saya yakinkan bahwa saya masih waras meskipun cuma sedikit. Hehehe. Ehem! Kembali ke maksud pembahasan saya. Handphone dan semua benda lain yang ada di sekitar kita sebenarnya senantiasa menebarkan inspirasi Ilahiyah, namun tidak semua dari kita mau menggali makna apa yang bisa dipetik dari sederhananya peristiwa bersama benda-benda sederhana itu.

Adalah saya, monochrome, pemilik Handphone Sonny Ericsson seri K510i. yap! Hp jadul dengan fitur-fitur sederhana. Saya memang bukan orang yang senang bergonta-ganti barang. Saya berprinsip jika memang masih bisa dipakai, kenapa mesti diganti? Hehe. Begitu pula dengan hp. Meskipun banyak orang yang menyuruh saya untuk mengganti, namun saya tetap menggunakan Hp yang dibeli tahun 2007 ini. Suatu hari saat saya tengah berada di luar rumah, saya tiba-tiba menyadari bahwa Hp saya sudah tidak lagi di tangan saya. Saya kemudian meminjam Hp milik kawan, namun kecewa yang saya dapat. Awalnya saya tlp namun tidak diangkat, kemudian beberapa saat kemudian Hp saya sudah tidak aktif. Mungkin ada yang menemukan lalu mematikan dan mencabut kartunya. Saya sudah kecewa saja, lalu pulang ke kosan dengan lemas. Saya kemudian bercerita pada kawan satu kosan dan mencoba menelepon kembali Hp saya dengan berharap ada respon dari yang menemukan. Dengan setengah tidak percaya, saya mendengar nada tunggu, dan tidak lama kemudian ada yang menyapa di ujung telepon sana. Singkat cerita, saya akhirnya menemui yang menemukan SEKSIOI dan mengucapkan terimakasih yang tak terkira.


Memang kisah seperti ini sederhana atau bahkan biasa-biasa saja, namun saya akan memberitahu bagian yang tidak biasa nya: saya mengalami kejadian seperti itu sebanyak 2 kali!!


What?! Kalian masih pikir itu biasa-biasa saja? Terserah kalian deh! Terlepas dari biasa-biasa atau luarbiasanya cerita tadi, ada hal yang ingin saya bagi di situ. Bagi saya, Hp SE K510i ini mengajarkan setidaknya 2 kata: Qadha dan Roja.


Qadha adalah ketetapan Allah yang tidak bisa diganggugugat. Sekalinya Allah mengatakan ‘A’, mau atau tidak, suka atau pun tidak, baik atau pun ‘buruk’, maka akan terjadi. Kita tidak bisa mengubah keputusanNya walau setitik! Hal ini terkait juga dengan jodoh, kecelakaan, rizqi dan ketetapan Allah lainnya. Soal jodoh, kita tetap tidak akan berjodoh dengan seseorang meskipun kita sudah mengkhitbah jika Allah menyatakan seseorang itu bukan jodoh kita. Sebaliknya, meski sudah dikhitbah orang, jika memang Allah menyatakan seseorang itu jodoh kita, maka tidak akan kemana-mana. (curhat.com :p) Begitu pula dengan kecelakaan dan rizqi. Keduanya tidak akan dapat kita hindari ataupun datangkan jika memang Allah tidak menetapkan hal itu untuk kita.

Hal kedua adalah ar-Roja. Adalah manusia, dibekali dengan banyak potensi dan kemampuan untuk meraih banyak pencapaian hidup. Hanya saja kita terkadang kehilangan satu hal: SEMANGAT! Ar-Roja adalah semangat dan pengharapan. Kita manusia bisa mengarungi samudera bertahta badai, menelusuri perut bumi, hingga menembus angkasa. Kesemuanya itu tidak lain karena adanya ar-Roja. Entah bagaimana seandainya saya kehilangan pengharapan dan menghentikan pengharapan menemukan kembali Hp saya. Mungkin saya akan menjadi manusia tanpa Hp sekarang. Hehe


Cukup sekian hal yang bisa saya bagi. Pesan bang napi: jangan pernah lewatkan detil kehidupan, karena dengannya kita akan mendapatkan kearifan-kearifan sederhana yang bisa kita bagi dengan orang-orang di sekitar kita.
Tabik!
[akira]

read more

sarcasm dialogue


A: Adi aing nu awewe keukeuh hayang kuliah di Psikologi, euy! Kamana nya? (adik gw maksa pengen kuliah di Psikologi, euy! Ke mana ya?)

B: nu urang apal nu terkenal teh mun teu di UNPAD, UGM atawa UI weh.. (yang gw tau, yang terkenal tuh kalo gak di UNPAD, UGM atau UI aja.)

A: ah bingung, an***g!

B: naha bingung sagala?! ngiBING jeung maUNG? [Kenapa bingung segala? ngibing (nari) sama (singa)?]

A: enya, an***g! adi urang pas sakola ge nguruskeun na teh bobogohan jeung bobogohan wae! Ngomongkeun na teh lalaki we! Eta teh keur di imah keneh! Kumaha mun jauh ti imah?! Teu kakontrol ku aing! Paur! (iya, an***g! adik gw pas sekolah ngurusinnya cuma pacaran aja! ngomonginnya tentang laki-laki terus! Itu tuh waktu masih di rumah! gimana kalo jauh dari rumah?! gak bakalan kekontrol sama gw! Khawatir gw!)

B: eta weh atuh nu deukeut, UNPAD atawa UPI, jeung UIN ge aya ketang. (itu aja tuh yang deket di unpad atau upi. UIN juga ada deng.)

A: oh heueuh. Eta wae kitu?? (oh iya? itu aja gitu ya?)

Huft.. berat buat saya nulis kata-kata sarkas itu (meskipun disensor), hehehe. Tapi saya merasa perlu untuk menulis kata2 itu untuk menggambarkan point apa yang ingin saya sampaikan.
Kali ini saya coba bahas tentang apa coba? Yap! Tentang WANITA! Makhluk yang dilindungi, dihormati dan dimuliakan oleh Allah. (terus kenapa perlu ada kata-kata sarkas yang disensor itu? Kalian bakal tau sendiri!)
Tidak banyak wanita yang menyadari bahwa mereka dimuliakan oleh Allah. Gak percaya? Lihat berapa banyak wanita yang mengiyakan titah Allah buat mengenakan ‘khimar’? Berapa banyak wanita yang mengiyakan titah Allah untuk mengenakan ‘jilbab’?
Ah! saya hampir yakin kalian mulai bête setelah baca paragraf di atas! Iye lah! Orang tuh biasanya gak suka diusik ‘comfort zone’-nya! Jangan pura-pura bilang ‘engga’ deh!
Oke, let’s get in to the point! Begini lho para pembaca yang budiman. Dari dialog di atas (yang memang bener-bener saya alami), saya Cuma pengen ngegambarin betapa sebejad-bejadnya kakak, babeh, ato laki-laki mana pun, sungguh mereka GAK SUDI anggota keluarganya yang wanita atau wanita yang dia sayang disakiti, dilecehkan, atau direndahkan kehormatannya! Coba tanya sama preman-preman yang suka godain cewe dengan manggil “neng, bade ka mana?!” ato suit-suitin kalo ada cewe lewat: dia bakalan gimana kalo emak dia, adik cewe dia, bibi dia, ato mungkin istri dia dilecehin? Beuh! Saya yakin jawabannya bakalan ekstrim! Jawaban ‘paling santai’ kayaknya “ku aing bakal diteunggeulan!”
Saya pikir itu jadi bahan renungan buat saya (semoga buat kalian juga) bahwa kalian Kaum Hawa itu ditinggikan derajatnya oleh Allah ‘azza wajalla! Jangan coba-coba merendahkan diri dengan ‘mengobral’ diri! Hormati diri kalian dengan hanya menampakkan apa yang patut ditampakkan di muka umum. DEMI ALLAH kalian terlalu berharga untuk membuka apa yang seharusnya ditutupi!!! Tidak akan menjadi buruk rupa seandainya kalian hanya menampakkan apa yang patut untuk ditampakkan!
Emm.. apa dialog di atas nyambung dengan wakwekwok saya? Whatever! Huahahaha!
Teruntuk ‘tulang rusuk’ yang entah berpasang dengan siapa kelak
Jangan biarkan liar pandangan menyibak
Cintailah titah Tuhanmu yang menunjuk
Hingga manisnya jannah kelak kita jejak!
Semoga menginspirasi!
Tabik!
[salfa]
read more

17 Mar 2011

"Proses"

Hari sudah menjadi minggu, bergerak menuju bulan, lalu berevolusi menjadi tahun. Waaaa! Saya gak menyangka waktu berjalan begini cepatnya! Ah! Atau malah sebenarnya saya yang bergerak lambat? Hmm.. nampaknya memang saya yang lambat merambat.

Lima tahun rupanya saya sudah meninggalkan 2006, namun sungguh lompatan2 informasi tentang pergulatan dalam pikiran tetap saja masih jelas terekam. Salahsatunya adalah saat saya mencoba ’membujuk’ kawan lama yang lama tak berjumpa suasana kajian melingkar sambil disuguhi kitab2 dengan huruf arab gundul.

Beliau sebenarnya adalah orang yang satu tahun lebih dahulu hadir di dunia ini daripada saya, tapi secara garis keturunan, saya yang harusnya beliau panggil Oom. Hehe.

Beliau juga orang yang dua tahun lebih dahulu bergabung bersama mereka yang mengacungkan jari tengahnya untuk para penguasa dhalim dan tidak menerapkan aturan-aturan Alloh; barisan orang-orang yang merindukan hidup di bawah satu Super Global State dengan Islam sebagai satu-satunya warna yang memperindah negeri-negeri di Asia, Afrika, Amerika, Eropa dan Australia.

”Lamanya seseorang berkenalan dengan sesuatu tidak menjadi jaminan bahwa dia adalah orang yang paling tahu dan menjadikannya sebagai ’sesuatu’ dalam dirinya” begitu kata orang. Saya awalnya bingung dengan ungkapan itu, namun lama kemudian saya akhirnya mengerti saat bertemu ungkapan lain: ”tidak semua kelapa tua itu semakin tua akan semakin bersantan. Hanya kelapa yang masih bulat utuh saja lah yang akan menjadi semakin bersantan. Karena retak sedikit saja, kelamaan dia akan menjadi busuk!”

Waktu memang merupakan variable penting dalam rangka pembuktian. Waktu akan menjadi saksi kesetiaan pada komitmen, kristalisasi pemahaman, konsistensi loyalitas serta independensi pemikiran seseorang. Waktu akan menyibakkan berbagai tabir kematangan-semu seseorang, sehingga akan jelas hijau atau ranumkah dia.

Setelah saya mendapati pemahaman-pemahaman baru tentang waktu dan kematangan pemikiran, saya memberanikan diri untuk menyentil saudara saya itu di fs. Hmm.. sepertinya percakapan saya dengan dia sekaligus menjadi penutup aja, ya.

Saya: assalamu’alaykum! Kamana wae, om? Hehe bagaymana sudah memulai mengaji lagi kah?

Doski: wa’alaykumsalam. Aya wae. J acan, euy! Tapi saya kira tidak semua hal mesti sama. Perbedaan adalah rahmat. Saya masih dalam proses pencarian..

Saya: ya, memang Tidak semua hal mesti sama, karena jika semua hal sama, maka dunia ini akan mewujud menjadi tempat yang menjemukan! namun ada satu hal, akhi! satu hal! bagaimana menyelaraskan perbedaan itu demi suatu tujuan: kecintaan Tuhan.. sungguh! ana tidak sedang mencoba mengatakan bahwa HANYA jamaah ini yang akan menggiring manusia menuju cinta Tuhan! Ana hanya berusaha menepuk-hangat pundak antm, saat antum (dan banyak orang lainnya) tengah terombang-ambing waktu dan bimbangnya rasa. Ana sebagai saudara-sedarah dan saudara-tak-sedarah antum, berusaha mengatakan bahwa daratan ada di pelupuk mata, akhi..mari merapat..!

[yg ingin ana katakan di testimonial fs ini: mohon jangan artikan sapaan ini sebagai paksaan, namun posisikan sebagai penawaran di tengah perjalanan yang antum jalani: sebuah keterombang-ambingan di tengah "proses"]

Semoga menginspirasi!

TABIK!

[salfa]

read more

12 Mar 2011

ISLAM YANG TERPENJARA*


Guyuran air dingin menarik saya ke alam sadar setelah pingsan. Dengan kepala berat, saya melempar pandangan ke sekeliling ruangan pengap dan lembab itu. Oh, ternyata saya di sel kantor polisi. Saya kemudian dipaksa untuk bicara tentang bungkusan itu. Tentu saja saya jawab saya tidak tahu! Polisi kemudian meninggalkan saya dalam keadaan marah. Saya kemudian dipindahkan menuju sel yang lebih gelap.
Fyuh! Di dalam sel yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada ruang untuk cahaya menyelinap masuk, saya masih tidak menyangka kejadian dua hari yang lalu berakhir dramatis seperti ini.
* * *
Saat senja, matahari selalu saja menahan saya lebih lama di bibir pantai. Seperti biasanya, saya selalu berdua saja dengan si Noni. Dia memang bukan kekasih saya—bahkan dia bukan manusia—tetapi dialah yang selalu setia menemani saya ke mana-mana. Yeah, Noni itu sepedah ontel saya yang sudah mulai berkarat.
Dengan ditemani Noni dan lembayung berselimut sepi, biasanya saya banyak berfikir tentang hidup; tentang dari mana saya, apa tujuan saya ada, dan setelah tujuan saya ada telah saya penuhi, akan ke mana saya berakhir? Akh! Tak banyak orang yang merasa perlu untuk memikirkan hal seperti itu, tapi saya piker hal tadi lah yang akan membuat hidup seorang manusia akan berpola. Percaya atau tidak, karena berfikir tentang hal-hal tadi itulah saya memutuskan untuk putus dengan pacar saya. Karena saya merasa tidak ada gunanya saya berpacaran. Huft!
Saat itu tak seperti hari-hari sebelumnya, pantai hari itu terlihat penuh dengan orang-orang. Mereka berkerumun layaknya lalat yang mendapati daging yang sudah lama tak bertuan. Suara bising karena mereka bercakap pun sama bisingnya dengan kepakan sayap lalat. Whoops! Mereka mengerumuni sebuah dus, yang ternyata berisi potongan tubuh manusia.
Masih belum habis rasa penasaran dan mual saya, beberapa orang di samping saya terlihat memperhatikan dari ujung rambut hingga ujung kaki saya! Tingkah aneh itu saya balas dengan menatap lekat bola mata mereka. Saat akan beralih menatap orang ketiga yang menatap saya, salah seorang di tengah-tengah kerumunan itu berteriak, “woi, elu yang tadi buang bungkusan ini, ya?!” nah lho, kenapa tiba-tiba saya yang diteriakin gini?? Mendengar teriakan orang itu, kerumunan itu berbalik menjadi mengerumuni saya dan si noni tersayang. Satu persatu orang-orang itu dengan baik hati menghadiahkan saya dengan bogem mentah-nya, hingga entah di tangan orang ke berapa saya akhirnya jatuh terjermbab di pasir yang putih itu.
* * *
Ditemani gelap dan pengap, saya mulai mencoba berkenalan dengan ruangan ini. Rasanya seperti orang buta saja. Hmm.. mari mulai meraba. Pertama-tama saya berkenalan dengan kayu kasar. Mungkin maksudnya ini untuk tempat tidur, tapi saya pikir kucing budug pun enggan sekedar dekat papan penuh relief ini. Kalian tahu? Rasanya seperti memegang Korong alias upil yang udah kering! Haha! Jorok bangat ya?!

“orang baru, ya? Kenapa? Maling ayam? Hahaha!” suara dengan nada berat tiba-tiba keluar entah dari arah mana. “woi! Siapa , lu?! Kampret ngagetin aja!” saya teriak sambil entah menghadap orang itu atau tidak. “santai, kang! Duduk di bangku yang kamu pegang. Kita ngobrol dulu.” Selorohnya dengan santai. Saya masih emosi memang, tapi apa boleh dikata semua gelap, tak ada yang bisa saya tatap. Akhirnya saya duduk dengan manis di benda yang orang itu bilang bangku.

“sori, tadi gua kaget, jadi teriak kayak orang gila. Gua Almer Akira Al-Zada a.k.a. A3, lu siapa?” Saya mulai menurunkan nada bicara sambil masih tetap bingung ke arah mana saya harus menghadap untuk menemukan lawan bicara saya.

“nama saya Islam. Hmm.. Akira? Gak kedengeran kayak nama seorang maling ayam. Kenapa kamu bisa di sini?” pembicaraan kami sudah mulai cair dengan cara bicaranya yang semakin santai. “eh? Islam? Nama yang unik. Gua di sini gara-gara dituduh orang yang mutilasi, padahal bukan gua yang ngelakuin itu, sumpah! Cuma gara-gara gua kebetulan lewat, eh gua diteriakin sama orang-orang kampring itu!” saya bercerita dengan berapi-api. “ooh.. iya, saya percaya bukan kamu pelaku pembunuhan itu, Akira. Dari cara kamu cerita, saya tau kamu orang baik.” Dia bicara seolah dia dukun. Hehehe.

“bagus lah kalo lu percaya gua orang baik. Oia, lu sendiri dari kapan di sini, terus gara-gara apa, bro?” Tanya saya dengan penasaran.

“terlau panjang lah kalo diceritain. Kamu bakalan bosen!” Dia menolak dengan halus. “whuei, gua itu pendengar setia aki-aki di panti jompo, bos! Jangan khawatir gua bakalan bosen!” saya memaksanya untuk bercerita.

“ oke deh, nih saya mulai cerita.” Dia pun mulai bercerita sambil terdengar nada girang, seperti anak kecil yang baru mendepatkan sepeda pertamanya.

Dia bernama Islam. Saya hampir tidak percaya saat dia berkata bahwa dia sudah ada di dunia ini sejak 14 abad yang silam, namun ceritanya membuat saya percaya bahwa dia memang sudah hidup selama itu. Ya! Dia berkisah bahwa dirinya ‘dibidani’ oleh Rasulullah Saw., kemudian dijaga oleh keempat sahabat Rasul Saw. dan para khalifah setelahnya.

Untuknya didirikanlah sebuah payung pelindung untuknya bernama Daulah Khilafah, yang di kemudian hari menjadi pencerah bagi umat manusia di dunia. Bersamanya muncullah orang-orang masyhur yang menjadi peletak dasar-dasar ilmu yang membimbing renaissance di Barat.

Dia kemudian menjabarkan beberapa ilmuwan besar dan karya-karyanya yang mengabadikan nama mereka. Disebutlah yang pertama, Al-Khawarizmi, seorang ahli astronomi, geografi dan matematikawan super brilian. Di Barat, khususnya di Eropa lebih dikenal dengan sebutan Algorism atau Algorim. Beliau mewariskan ilmu tentang Al-Jabar, mulai dari perhitungan sederhana (kali, bagi, tambah, kurang), sampai matematika rumit bertitelkan ‘kalkulus’, yang konon rumit. Beliau pun mewariskan teorema Trigonometri: sinus, cosinus, tangen, cotangen, dll.

Kemudian disebutlah Ibnu Sina seorang ahli filsafat, bahasa, astronomi, dan yang paling menonjol dalam bidang kedokteran. Karyanya, al-Qanuun—yang diterjemahkan menjadi the Canon—hingga kini masih menjadi rujukan kedokteran di Barat.

Selanjutnya Ibnu Al-Haiitsami, sebagai pelopor dalam bidang optik yang bereksperimen dengan 27 jenis lensa yang berbeda, yang kemudian menemukan hukum refleksi dan refraksi. Kitabnya yang berjudul Al-Manazhir (kamus optik), konon adalah satu buku yang paling banyak dijiplak dalam sejarah sains. Ilmuwan yang menjiplaknya antara lain Roger Bacon, Da vinci, Kepler, atau bahkan mungkin juga Newton.

Last but not least, Al-Bukhori, seorang perawi hadits yg mempunyai daya ingat sedemikian cemerlangnya, serta sederetan nama lain yang tidak akan cukup kalau disebutkan di sini semuanya.

Di bawah naungan Daulah Khilafah itulah tunas-tunas tumbuh di bawah keperkasaan. Bunga-bunga mekar tanpa ada yang berani merenggutnya dengan paksa. Manusia aman sentosa tanpa cela, dan tak pernah berhenti membesarkan Penciptanya.

Saat itu, ratusan tahun dunia tunduk. Ratusan tahun manusia takluk. Mereka hargai dan segani Khilafah Islamiyah. Bumi jadi tempat yang megah. Dimana setiap jiwa terpelihara dari dosa, setiap harapan punya tempat yang terang untuk diwujudkan, mawar-mawar merah dijaga kehormatannya, dan taman-taman bunga selalu semerbak mengharumi dunia.

Itu keadaan 87 tahun yang lalu, sebelum dirinya dipenjara di sini bersama saya. Untuk yang keduakalinya saya hampir tidak percaya: dia di penjara ini sudah 87 tahun?! Lalu apa yang terjadi sebelum Islam dipenjara? Dia berkata bahwa pelindungnya telah dihancurkan. Ya! Daulah Khilafah telah dihancurkan! Setelah itu secara perlahan orang-orang mulai meninggalkan Islam. Mereka bukan tidak percaya Islam, namun hanya saja mereka mengenyampingkannya dari tengah-tengah kehidupan mereka, bahkan akhirnya mereka melarang Islam untuk hadir, di tengah-tengah masyarakat! MEREKA MEMENJARAKAN ISLAM!

Wow! Saya sangat heran, bagaimana mungkin orang yang katanya percaya pada Islam, namun dia memenjarakannya hingga tidak bisa hadir di tengah-tengah kehidupan mereka?!

Di hari itu saya perasaan di hati saya campur-baur. Ada rasa takjub, malu, hingga marah dan jengah! Saya jengah dengan bodohnya orang yang berani-beraninya memenjarakan Islam di sudut kelam. Entah setelah berapa jam kami mengobrol, saya yang kelelahan akhirnya terlelap.
* * *
Berbulan-bulan setelah kami bertemu dan berbincang, saya yang akhirnya bebas karena memang tidak ada bukti untuk ditahan, mencoba mengunjungi kawan saya yang berada dalam sel kelam. Namun betapa saya terkejut mendapati kabar bahwa tidak pernah ada tahanan bernama Islam dan saya tidak pernah ditempatkan dalam sel gelap! Saya kemudian bertanya, kalau begitu apa yang terjadi pada saya kemarin itu? Sipir bilang bahwa saya hanya pingsan saja. WHAT?! Lalu dialog yang kemarin itu??
* * *
Tujuh hari penuh saya memikirkan tentang dialog saya dengan makhluk bernama Islam. Dialog itu terasa sangat nyata! Menyentuh jiwa dan mengobarkan amarah, tapi ternyata bahkan dialog itu tidak nyata? Saya yakin pasti ada ‘sesuatu’ yang ingin ditunjukkan oleh ‘Sesuatu’! Saya harus cari tahu sampai dapat jawaban yang memuaskan akal dan menentramkan jiwa.
* * *
Jalanan sore lagi-lagi memukau iris saya. Yeah! Lembayung digelayuti mentari seolah mencair layaknya margarin meleleh di penggorengan. Akhirnya setelah kesana kemari dan menghabiskan waktu 1 tahun penuh, saya mendapatkan jawaban tentang dialog saya dengan Islam itu.
Saya akhirnya tahu bahwa dialog saya dengan Islam itu tidak benar-benar terjadi, namun kondisi yang dialaminya memang benar-benar terjadi pada Dien yang bernama sama: ISLAM. Islam yang dahulu memuliakan dan dimuliakan pemeluknya disingkirkan dari kehidupan manusia, dicampakkan, dipenjarakan di sudut-sudut gelap yang terhinakan.
Sekarang saya ditemani Noni tersayang meluncur di setiap petang untuk berusaha membebaskan Islam. Bukan dari penjara fisik, namun dari belenggu pengkerdilan manusia-manusianya. Kami meluncur dari rumah ke rumah, menggelar diskusi-diskusi kecil, menghantam opini-opini miring, bahkan berjalan mengelilingi kota untuk membebaskan ISLAM YANG TERPENJARA!
Semoga kalian pun tergugah membebaskan Islam dari penjara tanpa perlu mengalami kegilaan yang saya alami. Atau hanya ingin jadi PECUNDANG yang memenjarakan Islam?!
When the sun arise from west
When the sin out of the demon ass
We will pay what we have done before
Through the pain, or no limit pleasure
(Hipocrishit—PURGATORY)
TABIK!
*) Tulisan ini merupakan produksi ulang tulisan yang dibuat penulis lain dengan judul dan inti cerita yang sama, namun dengan karakter, cara penulisan dan cerita yang agak berubah.
Semoga kamu gak bete lagi karena tulisan kamu saya bajak (lagi). 
Teruntuk kawan satu Halqah awak yang sering terlihat ketus: Isal.. :-)
read more