18 Jul 2012

Defensive-Apologetic

Mari telanjangi diri dengan pandangan yang objektif, karena kadang kita masih terlalu banyak defensif apologogetik saat menilai diri sendiri. Selain itu, defensif apologetik itu tidak sehat, untuk pengembangan diri maupun keimanan.

Defensif apologetik berati melakukan pembenaran-pembenaran atas kesalahan dibuat atau kekurangan yang dimiliki; bersikap permisif dengan mengajukan pengampunan yang tidak sesuai dengan tempatnya.

Kenapa tidak sehat untuk pengembangan diri dan keimanan? Karena manusia adalah makhluk yang berkekurangan dan meniscayakan adanya perbaikan pada dirinya. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin seseorang akan memperbaiki kekurangan dirinya sedangkan mengakui kesalahannya saja dia tidak bisa (baca: mau)? Bagaimana seorang penulis sastra akan mampu menambah citarasa tulisannya jika diberi masukan diksi saja tidak mau? Bagaimana seorang fotografer amatir akan menjadi profesional jika diberi masukan angle saja ditolaknya? Clear?

Tentang bahwa sikap defensif apologetik tidak sehat untuk keimanan, saya pikir sudah jelas. Sikap defensif apologetik yang kemudian memunculkan permisifisme, pasti akan mudah dipahami. Sikap ini akan menjadikan seseorang memberikan pengampunan saat dirinya menggeser apa yang diyakininya boleh dan tidak. Sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, dan akhirnya masuklah dia ke jurang terdalam dosa. Ridla Rabbnya seolah menjadi di bawah kendalinya. Apa yang dia inginkan akhirnya diklaim sebagai hal yang dibolehkan oleh Sang Pemilik Jagad. Apakah itu yang namanya memegang teguh apa yang dipercayai? BUKAN! Memegang teguh apa yang diyakini berarti mencari apa yang harusnya dipercayai, baru kemudian menggenggamnya erat, sedangkan melakukan pembenaran adalah memegang apa saja yang dapat digenggam tanpa tahu layak-tidaknya apa yang digenggam.
Wallahu'alam.

NB: Saya harap kita mau membuang apa yang digenggam saat tahu apa yang di tangan tidak layak dipertahankan.
read more

5 Jun 2012

Menyesalkah Kau Melahirkanku, bu?


Ibu, semenjak dahulu aku tahu dan pahami bahwa kau adalah manusia pertama yang aku kenal. Bahkan kau yang membuatku mengenali arti mengenal.

Kau mengajari bukan dengan peluh, bukan dengan kesah, bukan dengan sedikit resah, tapi dengan darah. Dengan darahmu, bu!

Kau ku bentak, menangis kau dibuatku.

Ku berontak, teriak kau dibuatku.

Diperban uban, ditelikung umur. Kau menua, Ibu!

Duhai penghulu bidadari yang didamba ayah. Beribu harap kau gelindingkan di hadap anakmu. Berharap dia mau dan mampu mengejar dengan derap kencang. Tapi tahukah engkau, ibu? Saat memulai melangkah, dia bahkan tidak tahu apakah sanggup mengejar semuanya. Iya, dia itu aku, bu.

Pasangan hidup yang kau inginkan aku bersanding dengannya, pengakuan halayak atas prestasi gemilang, kemapanan hidup yang menjulang. Aku tidak tahu apakah aku sanggup menggenggamnya. Meskipun sungguh, aku berlari menujunya, bu! Sungguh!

Bu, aku hanya ingin memastikan bahwa aku akan membuatmu tidak menyesal memberikanku kehidupan. Karena sungguh, aku akan menjadi saksi di hadapan Raja Semesta bahwa engkaulah yang membuatku mengenalNya.

Aku akan siap menjadi saksi saat tak ada hujjah kecuali apa yang telah diperbuat saat di dunia. aku akan bersaksi bahwa engkaulah yang menjadi kunci rahasia semesta ilmu. Engkaulah yang menjembataniku mengenali tugas para Nabi dan para pewaris risalahnya. Engkaulah yang menuntunku berada di barisan terdepan para martir! Itu engkau, ibu!

Dan aku akan membuatmu tidak menyesal melahirkanku ke dunia. Aku janji, ibuku sayang.
read more

1 Mei 2012

Reportase IIC#6 | Sabtu, 28 April 2012 | Gedung Aula Lt. 3 Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung


Bom Waktu penundaan Kenaikan Harga BBM; Skenario Rapat Paripurna

“Penundaan kenaikan harga BBM merupakan skenario rapat paripurna dan sewaktu-waktu bisa meledak, yang pada akhirnya pasti akan menyengsarakan rakyat” Ujar Yuda Suhendar selaku ketua pelaksana saat memberikan sambutan di Islamic Intellectual Challenges Edisi ke-6 pada hari Sabtu, 28 april 2012. 

Acara yang bekarjasama dengan BEM Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung ini diselenggarakan di Gedung Aula Lantai 3 STKS. Acara bulanan gerakan Mahasiswa Pembebasan Wilayah Jawa Barat di bulan April ini mengangkat tema “Bom Waktu penundaan Kenaikan Harga BBM; Skenario Rapat Paripurna” dan mengudang empat orang pembicara. Pertama, Bapak Iman Soleh, S.IP, M.Si (Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD), DR. Sunatra, SH, MS (Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat), Ir. Taufik Abdul Karim (DPD II HTI Kota Bandung) dan Dhani Kusumawardana (Gema Pembebasan Jawa Barat). Namun Bapak Iman Soleh berhalangan hadir karena berada di luar kota, Bapak Sunatra mewakilkan pada rekannya yg lain, yaitu Bapak Nunung Sanusi, sedangkan dari DPD II HTI mewakilkan pada Bapak Agus Handaka, S.IP, MT.

Pembicara pertama adalah Bapak Nunung Sanusi. Beliau menyatakan bahwa partainya merasa kecewa dengan hasil rapat paripurna. Kemudian beliau menambahkan, dengan melihat UU Pasal 7 ayat 6A, kenaikan harga BBM sudah pasti tidak akan bisa terelakan lagi, tinggal menunggu waktu saja. Tetapi meskipin begitu partainya akan tetap konsisten untuk menolak, dengan alasan bahwa ini adalah salah satu bentuk perjuangan untuk melindungi hak-hak rakyat Indonesia terutama hak-hak kaum buruh.

Sedangkan pembicara kedua, Bapak Agus Handaka memaparkan bahwa sesungguhnya ada ataupun tidak ada rapat paripurna, harga BBM nampaknya akan tetap naik. Kemudian beliau memaparkan bagaimana Islam melakukan regulasi BBM. Dalam hadist Rasulullah SAW bersabda “kaum Muslim berserikat dalam 3 hal, air, padang gembala dan api.” Jadi, pemerintah saat ini dzalim karena tidak memakai aturan Islam dan tidak mempedulihan nasib rakyat.

Dilanjut dengan pemaparan ketiga, yaitu Dhani Kusumawardana. Beliau menjawab pertanyaan pembuka yang ditanyakan moderator dengan jawaban yang membuat semua perserta terheran-heran. “Saya sangat puas dengan hasil rapat paripurna tersebut” Kata sang Aktifis Gema Pembebasan itu dengan penuh keseriusan. Keheranan pun terjawab saat dipaparkan alasannya. Kang Dhani menyatakan bahwa hasil rapat paripurna pada 30 Maret kemarin merupakan salah satu bukti yang bisa menjelaskan secara langsung kepada masyarakat bahwa demokrasi yang katanya dari, oleh dan untuk rakyat itu hanyalah omong kosong dan utopis. Hal ini bisa dilihat dari hasil survey LSI, 86% rakyat Indonesia menolak kenaikan harga BBM, tetapi nyatanya pemerintah tidak mengakomodir keinginan rakyat tersebut.

Hal yang menarik adalah ketika muncul pertanyaan “Kenapa setelah rapat paripurna itu, kok kelihatannya adem ayem, seakan semuanya dibungkan dengan hasil keputusan tersebut, padahal kita lihat bersama sebelumnya sangat panas, bahkan seorang mahasiswa berani berhadapan langsung dengan polisi?” dan hal itu di jawab oleh kang Dhani secara tegas bahwa hal ini dikarenakan tuntutan yang mereka tuntut tidak hingga ke pokok persoalan, yaitu persoalan fundamental yang menyebabkan harga BBM melambung. Artinya, jika hanya bereaksi karena isu kenaikan BBM—tanpa menyentuh akar masalah—maka setelah isu itu meredup dan tertutupi oleh isu yang lain, maka geraknya juga akan tenggelam.

Dan di akhir acara, ketiga pembicara sepakat memandang rapat paripurna tersebut malah akan membuat bingung dan tidak menyelesaikan masalah yang ada terkait dengan kenaikan BBM. Satu-satunya solusi yang bisa menjawab segala persoalan negeri ini hanyalah Islam dengan seperangkat aturannya yang sempurna dan telah paripurna. [] [Tim GP Jabar]
read more

20 Apr 2012

أين؟

Kang, dulu saya pikir saya gak bakalan jadi gini. Jadi orang yang terbuka pikirannya di tengah manusia-manusia jumud. Jadi manusia yang berani menyerang saat oranglain hanya sibuk bertahan. Jadi manusia yang teriak menggeram saat oranglain cuma diam. Ya! Menjadi bagian dari barisan pejuang penghancur peradaban keparat yang sedang sekarat, dan menggulirkan peradaban adidaya yang akan kembali jaya, Khilafah Islam.

Tapi kang, saya bingung. Kenapa harus saya? Bukan, kang! Bukan berarti saya gak bersyukur saya jadi bagian dari manusia-manusia yang (insya Allah) tercerahkan. Tapi di mana mereka orang-orang "yang harusnya" ada lebih dulu sebelum saya gabung? Masih belum ngerti, kang? Oke saya perjelas, kang!

DI MANA ORANG-ORANG YANG DILABELI KAUM INTELEK?! KENAPA ORANG BODOH SEPERTI SAYA YANG HARUS BERJIBAKU DAHULU DENGAN BUKU-BUKU YANG BERISI ISTILAH-ISTILAH ANEH ITU?!

DI MANA ORANG-ORANG YANG DILABELI SEBAGAI PENGUSAHA MUSLIM ITU?! KENAPA ORANG FAKIR SEPERTI SAYA YANG HARUS MENGURANGI JATAH MAKAN BERHARI-HARI UNTUK BISA MENYELENGGARAKAN EVENT YANG BERTUJUAN MENYADARKAN UMMAT?!

DI MANA PARA ULAMA' YANG HARUSNYA ADA DI BARISAN DEPAN JAUH SEBELUM KAMI BERADA?! KENAPA KAMI YANG BACA HURUF HIJAIYAH SAJA SULIT YANG HARUS BERADA DI BARISAN TERDEPAN?!

Jawab, kang! DEMI ALLAH SAYA SAKIT HATI!!! 

KENAPA SAYA YANG BELUM LAYAK INI YANG JUSTRU NGOTOT?! KENAPA MEREKA "YANG SEHARUSNYA" MALAH ONGKANG-ONGKANG KAKI?!

"Karena kamu lah yang kelak menggantikan posisi mereka. Kamu yang akan jadi seorang intelektual, kamulah yang akan jadi aghniya layaknya Abdurrahman bin Auf, KAMULAH YANG AKAN JADI ULAMA'!"

Kalau begitu, cukuplah kesakithatian ini berhenti sampai hari ini, kang. Karena saya akan mencukupkan diri sebagai orang bodoh sampai hari ini. Karena saya akan mencukupkan diri melabeli diri saya sebagaiorang faqir dalam harta sampai hari ini. Karena saya akan mencukupkan diri menjadi seorang yang jahil dalam agama sampai hari ini!
read more

4 Apr 2012

Reportase Dialogika Gerakan Mahasiswa Pembebasan Komsat Pembebasan Utara

 
“Yang salah itu SBY, bukan rakyat. Maka dari itu, SBY harus segera diturunkan dan rezim sekarang sudah tidak layak dipertahankan.” Begitulah kira-kira respon dari Presiden Mahasiswa (Ketua BEM Politeknik Negeri Bandung) ketika merespon pernyataan salah seorang wanita, peserta Dialogika (28/3) yang berpendapat bahwa kenaikan harga BBM saat ini memang harus pemerintah lakukan, karena ini semua untuk kebaikan rakyat dan rakyat tidak berhak menyalahkan pemerintah dengan kenaikan harga BBM ini.

Acara yang diadakan oleh Gema Pembebasan (Gerakan mahasiswa Pembebasan) komisariat Pembebasan POLBAN ini memang menarik dan banyak mengundang perhatian masyarakat kampus Politeknik Negeri Bandung. Hal ini disebabkan salah satunya karena acara ini diadakan ditengah-tengah kantin PUJASERA yang notabene tempat tersebut merupakan salah satu pusat berkumpulnya mahasisiwa di kampus ini.

Acara yang mengambil judul “KENAIKAN HARGA BBM: ASING UNTUNG, RAKYAT BUNTUNG” ini menghadirkan pembicara dari BEM KEMA POLBAN dan disandingkan dengan pembicara dari Gema Pembebasan.

Bima Gusti Tresna selaku Ketua BEM Politeknik Negeri Bandung menjelaskan bahwa rencana kenaikan harga BBM merupakan kebijakan yang mengkhianati rakyat, sekaligus mengkhianati konstitusi. Beliau pun menegaskan bahwa inilah bukti bahwa negeri ini tidak pernah terbebas dari penjajahan asing. “Alasan-alasan pemerintah saat ini untuk menaikkan harga BBM jelas merupakan pengkhianatan kepada rakyat sekaligus pengkhianatan kepada konstitusi, karena kebijakan itu sama sekali bukan untuk kepentingan rakyat, bahkan hanya akan menguntungkan asing.” tegasnya.

Faisal Anugrah selaku pembicara dari Gema Pembebasan mengatakan hal yang kurang lebih serupa dengan apa yang disampaikan oeh Bima, tetapi ia kemudian mengomentari mengenai orang-orang yang masih menganggap bahwa pemerintah saat ini masih baik dan pro terhadap rakyat. Ia menegaskan “Kenaikan harga BBM ini bukan masalah agar hidup ini hemat ataupun agar kita menjadi sabar dengan apa yang terjadi, Tetapi kenaikan harga BBM merupakan kebijakan yang jelas-jelas menguntungkan asing. Kalo ada maling yang datang ke rumah kita, bukan lantas kita bersabar dengan hal itu, atau berprasangka baik dengan maling tersebut, tetapi kita harus meneriakkan bahwa maling itu telah mencuri dan berbuat kejahatan.”

Di akhir acara, meskipun masih banyak peserta yang ingin bertanya, Bima menyatakan bahwa apa yang bisa kita lakukan saat ini untuk kemajuan negeri ini, maka lakukanlah. Mulailah dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.

Sedangkan Faisal dari Gema Pembebasan menyatakan bahwa inilah dampak diterapkannya sistem Kapitalisme, maka kita harus menyadari bahwa apa yang kita lakukan saat ini bukanlah hanya menuntut agar SBY turun, tetapi menuntut agar sistem rusak yang sedang diterapkan saat ini oleh SBY harus diganti dengan sistem yang benar, yaitu Sistem Islam dalam bingkai Daulah Khilafah. Karena itu, salah satu tugas mahasiswa adalah terus melakukan edukasi atau penyadaran kepada masyarakat bahwa inilah hasil dari diterapkannya sistem kapitalisme-demokrasi, dan seharusnya mahasiswa senantiasa memberikan pemahaman-peahaman yang benar kepada masyarakat bahwa hanya Islamlah satu-satunya solusi. [Tim GP Bandung]
read more

24 Mar 2012

Islamic Intellectual Challenges Gema Pembebasan Jabar edisi 5 | Sabtu, 24 Maret 2012 | Aula lt.3 STKS (Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial) Bandung

Quo Vadis Gerakan Mahasiswa;  Protes kenaikan harga BBM, ke mana arah perubahan yang dituntut?, inilah tagline yang diangkat oleh Gerakan Mahasiswa Pembebasan Jawa Barat dalam acara Islamic Intellectual Challenges edisi ke-5 kali ini. Acara Gema Pembebasan Jawa Barat di bulan Maret ini menghadirkan 3 orang pembicara yaitu Bapak Haris Rusli dari Petisi 28 yang juga mantan aktivis 1998, kemudian Agung Wisnu Wardana dari DPP Hizbut Tahrir Indonesia, dan yang terakhir dihadirkan Bang Rezaldi Harisman dari Gema Pembebasan Kota Bandung.

Tentang rencana Pemerintah yang akan menaikkan harga BBM pada awal April mendatang, Ustd. Agung Wisnu menyampaikan bahwa logika yang dipakai Pemerintah tentang subsidi itu aneh. Beliau menegaskan bahwa Pemerintah telah membohongi dan berbuat zhalim kepada rakyatnya. Kebohongan itu terlihat dari hitungan yang beliau paparkan. Beliau membeberkan dengan data yang beliau dapatkan dari Chevron bahwa ternyata biaya lifting minyak bumi hanya 20$ per barrel, sehingga untuk sampai ke konsumen, harganya hanya sekitar Rp. 1300 – Rp. 1500. Oleh karena itu, sebenarnya logika subsidi dan pernyataan Pemerintah tentang subsidi BBM yang membebani APBN adalah bohong, zhalim dan bentuk pengkhianatan Pemerintah.

Sementara itu, terkait dengan rencana pemerintah ini Bapak Haris Rusli menyampaikan bahwa ada banyak alasan yang untuk menolak rencana pemerintah ini. Pertama adalah karena alasan moral. Beliau menyinggung pemerintah & parlemen yang meminta rakyatnya untuk mengencangkan ikat pinggang, tapi mereka tidak pernah memberikan contoh bagaimana hidup sederhana. Kedua, karena alasan ekonomi. Beliau menyatakan bahwa rezim sekarang memandang subsidi hanya membuang-buang uang, padahal masyarakat memang harus disejahterakan.

Pemaparan ketiga diakukan oleh Bang Reza. Beliau angkat bicara tentang bagaimana sikap mahasiswa saat ini yang cenderung apatis dan apolitis. Memang banyak dilakukan protes-protes akan kenaikan harga BBM ini tapi arah perubahan yang mereka perjuangkan masih yang tidak jelas dan mengambang.

Terkait dengan tuntutan yang diinginkan, ketiga pembicara sepakat bahwa rezim SBY dan Sistem saat ini harus dirubah. Seperti yang digambarkan oleh Bapak Haris Rusli, ibarat Komputer yang sudah nge-hang yang harus restart dan kemudian di-install ulang. Atau ustd. Agung Wisnu mengibaratkannya sebagai pohon yang sudah busuk dari akarnya dan harus diganti dengan pohon yang baru. Namun ada perbedaan terkait dengan solusi dan perubahan apa yang diusung. Bapak Haris Rusli memandang bahwa negeri ini harus dikembalikan kepada Pancasila seperti yang diusung pada masa Soekarno dahulu, sementara Ustd. Agung Wisnu dan bang Reza melihat bahwa bangsa ini harus belajar dari peristiwa reformasi ‘98 silam. Saat itu gerakan-gerakan mahasiswa hanya menginginkan turunnya rezim, tidak jelas siapa pengganitnya dan mau dibawa kemana arah perubahan itu, akibatnya banyak dari mereka hanya menjadi tunggangan para politikus yang oportunis. Oleh karena itu, Bang Reza dan Ust. Agung Wisnu menawarkan untuk menggagas arah perubahan ke syariah dan Khilafah yang sudah pasti benar, bukan sistem ‘trial and error’ yang tidak jelas penerapannya.
salah seorang penanya
 Ada yang menarik saat sesi diskusi. Seorang penanya mengatakan bahwa beliau agak risau saat solusi yang ditawarkan adalah Ideologi Islam dengan menerapkan Syariah islam. Menurut beliau, jika ada yang mampu menjelaskan secara filosofi dengan logis tentang kelengkapan sistem Islam mengatur persoalan politik, ekonomi dan sosial, maka beliau akan mengikuti. Saat moderator menanyakan jika perwakilan dari hizbut tahrir mampu menjelaskan, apakah beliau akan ikut Hizbut Tahrir, beliau menjawab “iya!”


Acara yang diselenggarakan di gedung Aula Lantai 3 Kampus STKS Bandung ini dihadiri sekitar 60 peserta dari berbagai kampus di kota Bandung dan berlangsung cukup panas. Di akhir acara, saat closing statement, Bapak Haris Rusli berpesan kepada seluruh elemen masyarakat termasuk mahasiswa bahwa kita harus bersatu untuk revolusi, turunkan SBY dan kembali ke karakter bangsa kita. Kemudian Ustd. Agung Wisnu menyampaikan bahwa perlu dilakukan ruang-ruang dialog seperti IIC ini untuk menyamakan visi pergerakan dan untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya kembali kepada Syariah dan Khilafah. Terakhir, Bang Reza menyatakan bahwa Gema Pembebasan menolak kenaikan harga BBM dan menolak aksi-aksi anarkis yang dilakukan oleh gerakan-gerakan mahasiswa lain, karena sudah seharusnya mahasiswa bergerak dengan intelektualitasnya sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Kenaikan BBM ini merupakan bentuk pengkhianatan pemerintah kepada rakyatanya dan pelanggaran terhadap syariah Islam, tutup bang Reza.[] [Tim GP Jabar]


Pemberian Penghargaan pada Bang Reza oleh Ketua Pelaksana IIC Edisi V

Pemberian Penghargaan pada Bpk Haris Rusly oleh PW GP Jawa Barat
Pemberian Penghargaan pada Ust Agung Wisnu Wardana oleh PW GP Jawa Barat
Download materi presentasi IIC edisi Ke-5 Ust. Agung Wisnu Wardana (DPP HTI)
read more

18 Mar 2012

Batallamos Hasta La Victoria!

Tak ada manusia yang rela tujuannya tidak tecapai. Entah itu tukang cendol, para politikus pro status quo, apalagi orang-orang yang berusaha menggulirkan perubahan.

Manusia akan senantiasa berada pada tujuannya yang dia percayai layak untuk diperjuangkan. Contohnya adalah Che, seorang yang menjunjung tinggi idenya sampai dia mati bersimbah darah karena dihadiahi sembilan peluru oleh Mario Teran sang kacung pemerintah Bolivia, dan Hamzah bin Abdul Muthallib yang syahid karena ditombak dan dilahap organ hatinya oleh Hindun adalah beberapa contoh orang yang memegang teguh apa yang dia yakini walau diterjang badai zaman, hingga nyawa harus tergerus!

Bagi orang-orang yang tidak mengerti penting dan harusnya apa yang kita perjuangan, pasti akan memandang "ancaman himpitan kesulitan hidup karena memegang idealisme" dengan pandangan yang suram dan dahi berkerut, namun seiring dengan menguningnya daun dan runtuhnya pemahaman salah, "ancaman himpitan kesulitan hidup" karena memegang teguh apa yang kita yakini pun pada kelanjutannya tidak lagi menjadi sesuram saat kita hanya yakin hingga di kerongkongan. Bahkan, nampaknya bagi sang pengemban ide itu justru akan menjadi 'bumbu hidup' yang menggairahkan! Coba bayangkan, apa asiknya hidup dengan alur yang lurus dan tidak ada likaliku-nya? Meskipun tentu saja bukan berarti bahwa kita memperjuangkan sesuatu hanya demi mencari kegairahan hidup. Bukan! Dalam konteks ini, hadirnya kegairahan hidup hanya boleh dipandang sebagai efek samping yang mengiringi keteguhan langkah dan ketegasan sikap. Tidak boleh lebih dari itu!

Yang ingin saya katakan adalah bahwa konsekuensi dari keyakinan yang dipegang dengan dalam--lebih dari sekedar di kerongkongan--meniscayakan adanya pengorbanan. Bukan omongkosong bahwa waktu, harta, bahkan nyawa menjadi hal yang lumrah untuk dikorbankan, "sekedar" untuk mencapai tujuan. APAPUN tujuan itu! Tujuan baik, buruk, ataupun yang entah apa namanya.

Nah, apa yang kita korbankan akan menjadi petunjuk: hal apa dalam hidup kita yang menjadi komponen central (poros), dan apa yang menjadi 'satelit'.

Ada yang berani meninggalkan dunia kerjanya yang mapan demi menyambut seruan meninggalkan transaksi ribawi, ada yang berani meninggalkan pacarnya demi menyambut seruan menjauhi perbuatan yang mendekatkan diri dari zina, ada yang berani meninggalkan dunia demi meninggikan Dien yang telah mengangkat derajat diri dan kaumnya.

Ada yang meyakini bahwa dunia ini segalanya, maka dia jadikan ukuran dunia sebagai poros hidupnya. "Apa kata dunia?" katanya.

Ada yang  meyakini bahwa idealismenya menjadi hal yang harus diperjuangkan. Maka dunia akhirnya menjadi yang dijadikan sebagai gurauan saja. Tidak lebih!

SAYA? Sudahkah memegang hal yang layak untuk dijadikan poros hidup??
KAMU? Sudah berani mengorbankan apa demi hal yang dipandang layak dijadikan poros hidup??
Tujuan akhir seperti apa yang hendak kita raih?
Penglihatan dari mana yang kita khawatirkan?
Penghormatan siapa yang kita harapkan?

Mungkin kalian akan mengira saya akan berkata: "tidak perlu diutarakan. cukup dalam hati." tapi saya katakan: "UNGKAPKAN SECARA JELAS! JAWAB DENGAN LANTANG! JIKA PERLU, TULIS DAN PAMPANG DI KAMAR ANDA!"

Kenapa? Karena akan jelas: layakkah hidup yang sekarang anda jalani untuk diteruskan? Atau perlu berbalik arah?

Bagi yang sudah mendapati jawaban "YA", maka sudah saatnya berteriak dengan lantang: BATALLAMOS HASTA LA VICTORIA!!!
[akira]
read more

13 Mar 2012

Reportase IIC III | 30 Januari 2012 | auditorium Miracle UNIKOM



Senin 30 Januari 2012 Gerakan Mahasiswa Pembebasan (GP) kembali menggelar Islamic Intellectual Challenges (IIC). Di edisi yang ke-3 ini, Gerakan Mahasiswa Pembebasan wilayah Jawa Barat mengambil tema “Pembatasan BBM Bersubsidi, untuk Kepentingan Rakyat atau Asing?” 

Acara yang diselenggarakan di Auditorium Miracle UNIKOM dan dihadiri sekitar 100 orang ini menghadirkan empat orang pembicara. Pembicara pertama adalah bapak Singgih Saptadi, ST, M.T., seorang business technology alignment. Beliau mengatakan bahwa rencana pemerintah ini sudah lama dimunculkan, yaitu sejak tahun 2010 lalu. Namun di awal rencana banyak rakyat yang memprotes dan tidak setuju. Beliau melanjutkan bahwa untuk mencari akar permasalahan pengelolaan SDA di negeri Muslim (termasuk Indonesia) tidak relevan lagi kita hanya melihat potensi SDA Indonesia saja, karena jika dilihat secara global, potensi SDA umat Islam sangat besar sekali. Negeri-negeri kaum muslim memiliki sumber minyak lebih dari 60% di dunia, belum lagi sumber-sumber energi yang lainnya seperti gas, batubara dll. Kemudian dalam konteks Indonesia, tidak adanya dukungan dari pemerintah membuat pertamina tidak agresif, sehingga tidak mampu sekedar melakukan regulasi di dalam negeri, apalagi melebarkan sayapnya ke luar Indonesia. Beliau menilai bahwa pemerintah Indonesia nampaknya sengaja menyusun  regulasi yang membuat perusahaan asing masuk ke Indonesia.
DR. H. Agus Supraman SE, M.M.
Pemaparan kedua disampaikan oleh DR. H. Agus Supraman SE, M.M., dari DPW Partai Nasional Demokrat Jawa Barat. Beliau menyampaikan bahwa pemerintah kita ini malas, karena sudah lama isu ini diwacanakan tapi hingga kini persiapan infrastruktur untuk menunjang pembatasan BBM ini belum juga memadai. Banyaknya SPBU yang belum bisa menyediakan Pertamax—karena memang keterbatasan fasilitas dan sarana penunjangnya—menunjukkan bahwa pemerintah tidak serius dan malas dalam mengatasi masalah ini. Beliau menambahkan meskipun harga BBM dinaikkan dan pemerintah bisa menghemat APBN hingga lebih dari Rp 30 triliun, namun menolak, karena sejatinya minyak itu adalah milik rakyat, jadi harus dikembalikan ke rakyat. Beliau lebih banyak menyamapaikan fakta-fakta dan cerita. Yang menarik di dalam presntasinya, beliau mengutip hadist Rasulullah SAW, tentang keharaman Privatisasi SDA, “kaum muslim itu berserikat dalam 3 hal, air, padang dan api.”
Ust. Lutfi Afandi, S.H.
Pemateri ketiga adalah Ust. Lutfi Afandi, S.H. Beliau adalah humas DPD I HTI Jawa Barat. Beliau menyampaikan bahwa ini adalah permainan asing, lembaga-lembaga asinglah yang mengusulkan untuk liberalisasi migas. Lembaga-lembaga asing ini terus menekan pemerintah Indonesia untuk segera mencabut subsidi BBM karena mereka akan sulit bersaing di pasar Indonesia selama pemerintah Indonesia masih menjual BBM dengan harga di bawah standar harga mereka.  Beliau memberikan contoh bagaimana SPBU-SPBU asing (petronas, shell dll) yang ada di Indonesia sangat sepi pengunjung. Tentu jika hal itu tetap dibiarkan pastilah mereka (SPBU-SPBU asing) akan mengalami kerugian. Oleh karena itulah pemerintah di bawah tekanan asing itu ingin segera mencabut subsidi BBM dengan berbagai macam alasan dan cara. Ini menunjukkan bukti keberpihakan pemerintah kepada para pengusaha asing daripada kepada rakyatnya sendiri.
Abdi Tri Sulistyo
Pemateri terakhir adalah wakil dari Gerakan Mahasiswa Pembebasan kota Bandung, Abdi Tri Sulistyo. Beliau menyinggung tentang mandulnya gerakan mahasiswa saat ini dengan kondisi yang terjadi, termasuk saat mengemukanya rencana pemerintah yang akan membatasi BBM bersubsidi. Selain itu beliau juga menyampaikan sikap GP terkait dengan rencana pembatasan ini. Secara tegas GP menolak upaya pembatasan dan liberalisasi migas ini, karena GP melihat bahwa ini adalah kebohongan dan pembodohan yang dilakukan pemerintah terhadap rakyatnya. Semua alasan yang dilontarkan oleh pemerintah adalah alasan yang mengada-ada, tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Kasus ini semakin jelas memperlihatkan bobroknya sistem kapitalisme, demokrasi dan neo-liberal. Mahasiswa harusnya sadar dan bergerak, jangan malah mandul dalam pragmatisme. Terakhir, Gema Pembebasan menghimbau bahwa sudah saatnya mahasiswa itu sadar akan peran dan jati dirinya, mahasiswa harus bersatu, bergerak bersama-sama menjadikan Ideologi Islam sebagai mainstream pergerakannya, untuk membebaskan diri dari belenggu kapitalisme.[] [GP Jabar]
Pemberian Cinderamata pada Bapak Singgih Saptadi, ST, M.T. oleh penanggungjawab IIC Jawa Barat

read more