2 Agu 2026

(Pikiran) Manusia dan Error

Manusia hidup dengan angan bahwa semuanya akan ada dalam keadaan baik dan selalu baik. Wajar, karena idealitas memang harus selalu begitu. Nilai tinggi harus selalu dibuat dengan standar sempurna, 100% tanpa cacat.

Kesempurnaan nilai harus ada dengan maksud agar manusia mampu mengejarnya. Hilangnya idealitas hanya akan membuat manusia hidup alakadarnya, tanpa motivasi, jumud. Bayangkan betapa lambatnya kehidupan dengan 'hanya' mengandalkan realita fakta. Menyerah pada apa yang dilihat, yang dirasa buruk.

Hanya saja, manusia untuk bisa memberi ruang pada orang lain dan dirinya sendiri untuk ada error dan kealpaan juga penting. Ruang itu perlu untuk selalu ada dengan persepsi bahwa ketidaksempurnaan adalah wujud 'kesempurnaan' penciptaan manusia itu sendiri.

Rabb Semesta Alam dengan presisi menyimpan celah error itu secara sengaja dengan maksud agar sistem semesta ini bisa saling mengisi satu sama lain. Puzzle akan saling terhubung dengan adanya celah kosong dari satu keping dengan keping lainnya. Tanpa adanya celah kosong, akan sulit untuk menemukan kepingan lain yang akan melengkapi.

Sebagaimana puzzle, celah error atau pun kosong dari manusia akan menyebabkan kita membutuhkan pihak lain untuk melengkapinya. Itulah alasan mengapa kekurangan manusia akan dibutuhkan dengan maksud ketersambungan satu dengan manusia satu dengan yang lainnya. Kita perlu diingatkan agar tertutupinya celah error tersebut.

Alhasil, kerjasama antar manusia satu dengan yang lainnya akan terjadi jika dan hanya jika ada celah dan kekurangan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Arah pandangan manusia tidak ada yang 360 derajat, ada titik buta. Itu saja cukup rasanya untuk membuktikan bahwa keterbatasan dan celah error sangat ada dalam diri manusia.

Hiduplah sewajarnya manusia. Berperilaku mengejar nilai paling tinggi, namun tetap beri ruang untuk sadar bahwa seluruh manusia, termasuk anda bisa melakukan error dan memperbaikinya. Ingatlah anda 'hanya' melakukan kesalahan. Anda bisa melakukan koreksi dan putar balik, selama anda masih hidup.

Hiduplah sewajarnya manusia. Salah adalah salah dan jadikan itu bengkel perbaikan diri. Berdiri dan berjalanlah kalau belum bisa kembali berlari!

Hiduplah sewajarnya manusia!

read more

10 Apr 2025

Why You?

Hai malam ku! Engkau pernah bercerita dengan lisan mu yang menenangkan.  Tentang bagaimana riak rasa mulai hadir saat tatap mata terlempar pada pemuda kumal yang senantiasa berlari itu. 

Kini izinkan aku berkisah tentang langkah demi langkah rasionalisasi rasa yang membuat separuh jiwa akhirnya tertitipkan di dirimu. 

Bagiku memutuskan untuk berada dalam bahtera yang mengarungi samudera artinya adalah memilihkan pangkal bagi generasi. Bukan sekedar "egois" untuk diriku. 

Ah aku memang orang yang senang sekali bertele-tele! Intinya aku jatuh cinta padamu karena aku yakin anak-anak kita akan juga merasakan jatuh cinta yang sama. Aku juga yakin mereka akan bangga padamu karena cerdas dan pekerti mu sebagaimana aku merasa bangga karena hal yang sama. 

Maka akhirnya ku titipkan definisi sayang, perhatian, cinta, dan sosok ibu padamu. Karena kamu terlanjur berlarian di kepalaku sejak saat itu. Waktu ku tahu betapa sederhananya cara kau berjuang dengan garis hidup mu yang tidak mudah itu. Menariknya, kau bukan hanya bertahan, namun juga berhasil melampauinya dengan banyaknya capaian! Jatuh cinta ku dibuatmu!

Adinda, kau adalah anugerah dan rahmat yang dihantarkan-Nya begitu dekat denganku. Begitu besar rasa syukurku, seandainya bisa, aku meminta jangan pernah Allah timpakan padamu sakit. Tak apa bila ditukar denganku saja. Seandainya bisa. 

Namun sunatullah tidak bisa dibantah, ketetapan-Nya tidak bisa dirubah. Aku akhirnya hanya bisa menyampaikan permohonanku padaNya agar kelak kau berakhir di sebaik-baik tempat di akhirat dengan diberikan privilege memilih dari pintu mana kau akan masuk. Alpa dan lupa mu, ku minta dilupa saja.

Ya, wahai gula di kehidupanku, aku ridha padamu. Semoga Allah senantiasa merahmatimu dan izinkan dititipi jiwa yang lapang.

11_04_2025
Dari suami mu yang sedang membuatmu merasa kecewa.
read more

4 Mar 2025

Merayakan


Apa yang sebenarnya manusia rayakan dari pergantian angka? Ada yang potong kue dan meniup lilin. Bertambah usia katanya. Ada yang tiup terompet dan menyulut kembang api. Tahun baru katanya.

Ah, pernahkah sekali saja kita berfikir lebih dalam tentang perayaan-perayaan tersebut?

Manusia memang makhluk penuh dengan simbol. Sebut saja bahasa. Untaian kata yang kita pakai ini adalah dalam rangka mengejawantahkan isi pikiran. Terkadang bahasa sulit untuk mendeskripsikan isi pikiran yang sebenarnya. Rasa sakit misalnya. Perasaan seolah dunia berputar dan bergoyang-goyang dideskripsikan bahasa Indonesia sebagai "pusing". Padahal rasa sesungguhnya belum tentu tepat dengan yang orang tersebut rasakan.

Meskipun bahasa terkadang tidak presisi untuk mendeskripsikan keadaan yang sesungguhnya, kita sebagai manusia tetap membutuhkan bahasa untuk bisa membantu menggambarkan keadaan yang dialami. Karena sekali lagi kita adalah makhluk penuh simbol. 

Lalu, bagaimana dengan perayaan? Bukankah ini juga bentuk simbol? Dengan meniup lilin, apakah artinya seseorang itu ingin mengucapkan selamat datang kepada usia baru? Dengan kembang api, apakah artinya mereka berusaha menyalakan harapan di tahun yang baru? Tetapi, apakah benar makna itu tertuang dalam hati setiap mereka yang merayakan? Atau jangan-jangan hanya sekadar formalitas budaya yang diwariskan? Tanpa sadar?

Manusia kadang lupa bahwa perayaan tidak sama dengan pesta, tetapi adalah tentang kesadaran dan refleksi. Bukan tentang terompet dan kue, tetapi tentang renungan—tentang perjalanan waktu yang sudah dilalui dan arah tujuan yang akan dituju. 

Hal-hal kecil—yang sesungguhnya besar—apakah tidak pantas untuk 'dirayakan'? Seperti saat pagi datang dan oksigen masih mengalir ke paru-paru kita, atau kebahagiaan sederhana saat menyelesaikan tugas yang lama tertunda. Bukankah setiap detik yang berlalu sebenarnya layak 'dirayakan'? Lantas, mengapa manusia menjadikan patokan tahun atau momen tertentu saja untuk di-simbolisasi?

Karena pada akhirnya, merayakan bukan tentang riuhnya suasana. Tetapi tentang bagaimana hati kita benar-benar hadir dalam setiap momen. Menghargai setiap tarikan napas, menyambut setiap kesempatan, dan menerima setiap perubahan dengan lapang dada. Seperti doa yang terbisik lirih di sela malam yang tenang. Bukankah selembut itu seharusnya perayaan kita pada hidup?

read more

23 Sep 2024

"Kutukan" Informasi

Infromasi, dari dahulu kala hingga hari ini adalah hal penting yang dimiliki oleh manusia. Dengan berbekal informasi, kita mampu memilihkan jalan mana yang akan dilalui. Dengan berbekal informasi pula kita akan menilai sesuatu atau bahkan seseorang dan melabelinya dengan label yang lekat sampai dia berganti menjadi label lain.


Informasi--disadari ataupun tidak--akan menjadi bekal bagi kita untuk menilai. Lebih dari menilai, kita akan menentukan bagaimana sikap dan perilaku yang muncul dari informasi yang dimiliki. Orang yang kita mendapatkan informasi tentangnya bahwa dia adalah orang jahat, maka akan kita sikapi dan perlakukan sebagai orang jahat. Begitu pula sebaliknya jika kita mendapat informasi tentang orang baik.
Sebegitu pentingnya informasi, itulah mengapa dis-informasi (fitnah dan hoax) dinilai sebagai perbuatan buruk. Begitu pentingnya informasi, sampai penyampaian informasi yang benar (pun jika infonya benar) dilarang untuk disampaikan karena terkategori sebagai perbuatan ghibah.


Menjadi orang yang dipercaya mendengar dan terlibat dalam peristiwa dengan kategori informasi privat bukanlah hal yang mudah. Anda akan perlu pandai-pandai memosisikan diri sebagai orang yang mengetahui info privat tersebut. Akan ada kondisi dimana anda berfikiran "iya, saya sudah pernah dengar info ini", atau bahkan "yang anda tahu (tentang keburukan) itu belum semuanya. Saya tahu dia lebih parah dari yang anda ceritakan!"


Anda akan terjebak dalam lingkaran dillema, penyampaian yang menyeluruh tentang keadaan yang anda ketahui vs menjaga informasi yang anda tahu itu tidak layak untuk dikonsumsi untuk halayak. Pada akhirnya anda akan perlu memilihkan posisi mana yang anda akan ambil.


'Ala kulli hal, posisi mana pun yang akan dipilih, sebijak-bijaknya manusia adalah yang paham di konteks mana dia perlu untuk ada di posisi mana.


“Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim no. 5)

read more

Mimpi dan Kinerja Otak

Di suatu sore, saya dan manteman sedang berkunjung ke tempat teman kami yang sedang sakit. Menengok, ceritanya. Seperti biasa saat topik pembicaraan sudah habis, meskipun belum larut malam, obrolan topik lelaki kami mulai bermunculan.

Bukan! Kami bukan berbincang tentang hal m*sum! Yang kami bicarakan adalah tentang mimpi. Ya, mimpi dengan makna 'bunga tidur', bukan mimpi dengan makna 'visi'. Satu persatu kami mulai bercerita tentang mimpi yang pernah kami atau orang lain alami. 

Ada yang bercerita tentang mimpi serasa ada di gambaran padang mahsyar, dan ketika terbangun dia kaget dan merasa beruntung masih hidup dan berupaya beramal shalih. Selain itu ada yang bercerita pernah seolah pulang kampung saat merasa rindu dengan kampung halaman nya. Saya sendiri bercerita tentang pengalaman saudara sepupu yang pernah bermimpi meninggal dan dikuburkan. Begitu detil mimpinya hingga deru tanah yang berjatuhan saat dirinya ditimbun pun teringat.

Di tengah obrolan tentang pengalaman mimpi kami, saya kemudian berfikir dan memunculkan pertanyaan: saat mimpi berlangsung, sebenarnya waktu yang dipakai itu sesuai atau tidak dengan durasi tidur kita? Maksudnya adalah begini, jika mimpi itu katakanlah 'menayangkan' peristiwa dengan durasi 6 jam, apakah dia mengambil durasi tidur kita selama 6 jam juga?

Kesimpulan hasil diskusi sementara kami saat itu akhirnya adalah: TIDAK. Durasi mimpi yang katakanlah 'menayangkan' peristiwa 6 jam tidak mengambil durasi tidur kita selama 6 jam, melainkan lebih cepat daripada itu.

Saya merasa perlu mempertanyakan soal itu dalam rangka menjawab seberapa cepat kerja otak kita sebenarnya. Dari jawaban pertanyaan itu setidaknya kita akan mendapati 2 hal:

  1. Kerja otak kita sebenarnya mampu untuk menayangkan kejadian, meng-generate-gambar, dan mengolah rasa sangat cepat. Buktinya adalah saat mimpi kita mampu melakukan itu. Hal berbeda terjadi ketika kita ada dalam keadaan tidak tidur (baca: sadar). Pikiran kita dibatasi dengan kecepatan tertentu. Kenapa dibatasi? Nampaknya memang secara sengaja otak kita memang dibatasi kecepatannya. Saya bayangkan keterbatasan ini justru menjaga manusia agar tetap waras dan berhubungan dengan realitas.
  2. Kalaulah pikiran kita mampu untuk sebegitu cepatnya, maka bukan hal aneh ketika Allah menyampaikan mampu menghisab kita dengan cepat.
read more

7 Okt 2021

Lelah Bertanya Lelah

Hari ini 27 September 2021 adalah kesekian kalinya saya merasakan Lelah yang tidak biasa. Lelah yang berujung pada asa yang terputus. Merasa tidak berdaya dan di ujung usaha. Serasa daya tak lagi bisa diperas karena tak ada lagi sisa. 

Jika dipermisalkan sebagai jalan, saya merasa bahwa berada di jalan buntu. Tembok besar menjulang yang tak ditemukan pintu. Sayangnya saat menoleh untuk berbalik, jalan yang sudah dilalu tak ada lagi tersisa. Hanya gelap yang terindera.

Ingin rasanya teriak meminta tolong, tapi siapa yang akan meminjamkan tangan untuk memecah semua kebuntuan ini? Saya tahu masih ada Tuhan semesta alam yang terus memantau, tapi saya tahu bantuan akan diberikan pada yang layak untuk diberikan. Dia pun berfirman bahwa yang tidak berpangku tanganlah yang akan diulurkan bantuan. Sedangkan saya? Saya merasa sudah menghabiskan seluruh kekuatan untuk hantaman. Alih-alih minta tolong, saya hanya terdengar seperti anjing tenggelam yang melolong.

Saya tak memungkiri ada kekasih hati yang selalu menemani. Tak kenal Lelah menyemangati dengan lantunan kata indah dengan hati penuh terisi. Tapi saya adalah empunya jalan, bagaimana mungkin tega menimpanya dengan tambahan beban. Menyeretnya sebagai teman dalam jalan berliku saja membuat saya merasa merasa malu.

Untuk diri saya yang entah akan dalam kondisi bagaimana anda pada saat membaca tulisan ini lagi, beginilah anda ketika ada ditanggal 27 ini. Saya tak mampu membayangkan apa lagi upaya yang anda lakukan setelah menulis tulisan ini untuk diri sendiri. Saya hanya berharap anda baik-baik saja.

Ah, apa ini yang Namanya penyesalan? Tidak! Saya tidak menyesal karena saya pernah menjalani ini, tapi saya hanya menyesal kenapa banyak kesempatan yang pernah saya sia-siakan. Duh, manusia memang penuh dengan keluh kesah. Harusnya saya berkeluh pada Pencipta saya, namun lagi-lagi saya banyak melewaatkan kesempatan itu.

Saya menjuluki diri dengan gelar Mumtaz. Sebuah doa agar saya benar-benar menjadi seorang yang cerdas, cerdik, tak kehilangan akal saat berhadapan dengan tantangan. Itu doanya, namun kadang saya berfikir apakah saya terlalu tinggi mendoakan diri?

Hal lain yang ada di fikiran saya adalah apakah saya terlalu tinggi menyimpan impian dan cita-cita dan tidak melihat kapasitas diri? Over-expectation, kira-kira itukah kata yang tepat? Apa kapasitas yang saya kira itu adalah kapasitas saya sebenarnya hanya cita-cita yang tidak mungkin dicapai?

Apakah saya sebenarnya sedang berusaha menerjang bidang yang sebenarnya saya bukan di situ tempatnya? Ikan yang sedang keluar dari air dan memaksa bertahan hidup di dalamnya—itukah saya sekarang?

Saya saat ini tidak tahu. Saya hanya bertanya pada tuts keyboard di laptop yang bukan milik saya ini, dan juga pada anda yang saat ini membaca tulisan saya. Entah ada jawaban atau anda pun tidak tahu sama sekali?

Baiklah, lagipula saya (mungkin) tidak perlu jawaban.

read more

31 Jan 2021

Oh~ Pen...

5 Best Tips On Writing Introduction To Your Dissertation | Scholar Ace

Semalam aku harusnya memulai menulis. 

Thesis yang telah ditunggu anak keduaku belum juga rampung. 

Padahal semester yang sudah mengejar untuk dibayar, tak bisa ditawar.

Oh.. Pendidikan~


Namanya sekolah tinggi.

Dulu aku penasaran apanya yang tinggi?

Ternyata bayarannya.

Oh.. Penagihan~


Sejak SMA aku dikabari mahasiswa ilmunya tinggi.

Aku pun percaya. Mereka terlihat mempesona.

Teriak lantang di podium, lanjutkan rezim zhalim katanya sambil bakar ban.

Oh.. Itu pendidikan~?


Isi kepala diakomodir, dibimbing sampai berhasil katanya.

Tapi terlihat jelas mereka bawa alat pemangkas.

Lucunya, mimbar tarung fikir malah jadi sarung fakir.

Oh.. Pendudukan~


Aku harus akhiri kegiatan eh kegilaan ini.

"Kemerdekaan haqiqi yang kamu cari bukan di sini." Dia yang ternyata aku sendiri, membisiki fikir.

Ini hanya satu sungai yang mengantarkan pada samudera semesta. Aku harus bersegera.

Oh.. Pendakian~

read more

1 Nov 2020

Menulis Untuk (si)apa?


Kalian pernah bertanya-tanya gak sih tentang tulisan-tulisan saya di blog ini? Kenapa saya buat tulisan-tulisan di sini? Untuk senjata pemikat kah? Dalam rangka apa saya nulis di blog ini? Dalam rangka memperingati hari kerupuk-kulit internasional kah? Hari encok sedunia kah? Hal yang paling mendasar adalah: kenapa dibuat blog ini? Kenapa dinamai "monologofmonochrome", bukan misalkan pakai nama saya sendiri sepertihalnya yang dibuat oranglain, atau apalah yang bisa diingat.

Saya ingat dahulu ketika pertama kali membuat blog ini saya justru bingung dengan konten apa yang hendak saya tulis. akhirnya saya isi dengan sapaan umum. entah untuk siapa. hehe. Saya memang tidak menyengaja untuk menyapa siapapun secara khusus.

Kita sebagai manusia tentu punya banyak hal di kepala. Karena secara fitri, kita akan merespon fakta yang kita indera. Berupa apapun, baik itu visual, audio atau bentuk lain yang bisa kita indera. Hal ini meniscayakan adanya pemikiran. Pemikiran itu pada akhirnya bisa bermuara pada dua kemungkinan: terutarakan atau tidak.

Manteman coba ingat-ingat kembali. Dari sekian banyak respon terhadap fakta yang kita indera, berapa banyak yang benar-benar kita respon? Kemudian, dari sekian banyak respon, berapa banyak respon yang sudah mewakili maksud kita sebenarnya? Selanjutnya, dari sekian banyak respon yang sudah mewakili maksud kita sebenarnya, berapa banyak "kebijaksanaan" terungkap yang kita bisa ingat di kemudian hari? Lebih sedikit kan?

Nah, untuk itulah blog ini dibuat. Tujuan utama sebenarnya bukan untuk menasihati orang di luar sana, tapi justru saya sendiri di kemudian hari jika saya lupa. Itulah kenapa nama blog ini adalah monolog, karena sejatinya saya sedang melakukan monolog secara tertulis. 

Meskipun begitu, saya bersyukur jika ada yang mengambil manfaat dari monolog ini. Mohon doanya agar saya senantiasa ada dalam kebaikan, baik anda mengenal saya ataupun tidak.

Sekali lagi, blog ini saya tulis sebenarnya untuk saya baca kembali di kemudian hari. Ya, untuk saya sendiri, yang menulis ini. Bukan anda. Kecuali anda adalah saya sendiri.  😃

ditulis pada 1/6/2014 12:30 AM
read more

21 Jan 2019

Waktu

Waktu adalah salah satu elemen penting dalam hidup. Keberadaanya kadang diabaikan begitu saja oleh sebagian orang. Dibiarkan "mengalir" saja katanya, seperti air. Padahal air jika dibiarkan, dia akan mengalir tak tentu arah. Kadang ke tempat yang baik, seperti ke sumur untuk diminum, kadang ke tempat yang kotor seperti comberan.

Waktu adalah salah satu elemen penting dalam hidup. Kadang ada yang menganggapnya sebegitu penting hingga mengumpamakannya sebagai pedang, uang atau pun kehidupan itu sendiri. Sebagai pedang, jika tidak digunakan dengan baik, bisa jadi anda terluka karenanya. Sebagai uang; anda akan merugi jika menyia-nyiakannya. Sebagai kehidupan; anda akan kehilangan kehidupan jika membiarkannya begitu saja.

Waktu adalah salah satu elemen penting dalam hidup. Apakah pernah kita melewatkan setahun, sebulan, sehari, sedetik begitu saja tanpa ada hal yang dihasilkan atau dicapai? 

Anda perlu tahu bahwa setahun adalah waktu berharga bagi para pelajar yang harus menunggu tahun berikutnya untuk ikut tes masuk jenjang kuliah. 

Anda perlu tahu bahwa satu bulan adalah waktu berharga bagi seorang ibu yang hendak melahirkan seorang bayi. 

Anda perlu tahu bahwa sehari adalah waktu berharga bagi seorang pedagang asongan yang hanya makan jika dia berjualan di hari yang sama.

Anda perlu tahu bahwa sedetik adalah waktu berharga bagi seorang sprinter yang memecahkan rekor dunia sebelumnya.

Ya! Waktu yang kita hambur-hamburkan, mungkin adalah rentang masa yang orang lain perlukan untuk mencapai target impian nya.

Sayangnya, yang kita bisa putar mundur hanyalah jarum jam di tangan, bukan waktu. Sekali waktu berlalu, anda akan melewatkanya begitu cepat, bahkan lebih cepat dari degup jantung yang anda sadari.


read more

3 Feb 2018

Syariat Langit yang Berusaha Di(-ke-)bumikan


Manusia adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan sebaik-baik bentuk. Meskipun jika kita lihat ada banyak keterbatasan yang ada dalam dirinya. Salah satu contohnya adalah tentang berfikir. 

Kita manusia hanya dapat menjangkau 3 komponen saja: Alam semesta, Manusia, dan Kehidupan. Selain dari ketiga hal tersebut kita tidak bisa menjangkaunya secara langsung. Adapun hal-hal ghaib kita dapat dengan cara menukil dari nash-nash syara'. Hanya saja hal yang perlu dicatat adalah bahwa keterbatasan yang dimiliki manusia justru menandakan bahwa dirinya adalah manusia; sebagai makhluq Allah.

Dengan keterbatasan yang dimiliki, harusnya manusia memahami bahwa dia tidak mampu menjangkau hakikat atas segala sesuatu, termasuk hakikat kebaikan atas dirinya. Oleh karena itu, manusia harus 'menyerah' pada realitas bahwa dirinya terbatas. Daripada kata 'menyerah', nampaknya "menerima" lebih 'menyejukkan' bagi para keras kepala. hehe

Manusia harus menerima kenyataan bahwa level hakikat kebaikan itu adalah bukan level manusia lagi. Dia adalah level pemilik dan pencipta manusia, yang kadang tidak masuk di nalar manusia. 

Dengan kondisi terbatas seperti ini, ada manusia-manusia yang bukannya berusaha membumikan (baca: menerapkan, mengimplementasikan), Syariat Langit malah berusaha dikebumikan (baca: dikubur, dibuang).

Mereka melakukannya dengan berbagai cara. Mulai dari memainkan logika, berlindung dibalik jubah pongah akademis-ilmiah (ini paling saya benci), hingga 'playing victim' ala sinetron ribuan episode (ini cara paling recehan).

Ayolah.. Akui saja bahwa akal manusia terbatas. Pengakuan atas lemahnya manusia justru akan mengantarkan pada ketenangan hakiki; bahwa manusia memiliki Dzat superior yang dimintai tolong saat tak ada manusia atau apapun yang bisa menolong.

Maka bersamaan dengan tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa syariat rajam, potong tangan, qishash, serta poligami adalah syariat yang mengandung kebaikan, sebagaimana kebaikan itu ada di dalam syariat larangan berbohong, perintah shalat, anjuran bersedekah, kewajiban mengeluarkan zakat, dan lain sebagianya. Jadi tidak ada syariat yang "terlalu sadis", "tidak manusiawi", "tidak adil", atau pun "bias gender" dll.

وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Jadi, jangan pernah coba-coba sok tau "mem-bully" syariat langit, karena otak kita tidak tahu sedalam dan seluas apa kebaikan yang Allah siapkan dalam syariat tersebut. 

Lebih dari itu, ketahuilah bahwa Syariat langit itu disampaikan perantara-Nya untuk dibumikan, bukan dikebumikan.

Jadi, siap menerapkan semua* syariat?
Rajam?
Shadaqah?
Shalat?
Menjauhi riba?
Qishash?
Zakat?
Jihad?
Poligami? :-)

*Nb: ada beberapa (baca: banyak) syariat yang mengisyaratkan tidak bisa dijalankan kecuali diterapakan oleh negara.
read more

23 Des 2017

Avoidance


Hey there!
Perkenalkan saya Akira. Saya bukan siapa-siapa. Cuma orang yang suka mengamati manusia dan kadang ditulis. Kadang tema nya menarik (setidaknya menurut saya), kadang gak penting. hehe

Saya mau cerita. Baca ya? Ayo, mau dong.. *maksa* :-D

Saya dilahirkan dengan ibu yang bersikap perfeksionis dan pencemas. Dalam banyak kesempatan, beliau sangat menunjukkan sikap begitu. Tentu kemudian itu membekas di dalam benak dan sikap saya yang di kemudian hari saya sadari bahwa saya juga menjadi cenderung perfeksionis dan pencemas.

Dengan kondisi cenderung perfeksionis ini, bahkan salah satu motto saya adalah "daripada buruk, lebih baik tidak usah sama sekali!". "Buruk" di situ bisa dalam hal hasil, atau juga ketepatan waktu. Sering saya memilih tidak datang sama sekali karena terlambat. Padahal sudah sampai di gerbang tempat agenda.

Lucu? Mungkin... Tapi bagi saya, lumayan menyiksa juga. hehe
Ya, sejujurnya ini menyiksa. Saya akhirnya menghindar dan “berbohong” pada diri saya bahwa semuanya baik-baik saja. Padahal gejolak rasa cemas begitu menggelora di dada.

Banyak kejadian saya menghindar dan “berbohong” pada diri sendiri. Kalau berkenan “mendengar” dan “duduk bersama”, boleh lanjut baca.. J

Kejadian pertama, dulu saat masih SD. Bermain bola adalah favorit saya dan kakak. Kami bermain tak kenal waktu dan tempat. Termasuk di sekolah tentu saja.

Sayangnya sekolah kami tidak begitu luas. Bahkan salah satu dinding pembatasnya adalah rumah warga langsung. Terkadang bola memantul langsung ke dinding mereka. Hingga satu hari saya menendang bola dan.... memecahkan kaca nya. Kami pun berlarian dan sembunyi.

Hanya saja, entah bagaimana akhirnya kami ditemukan (ya iya lah, sembunyi nya cuma di kelas) dan disuruh minta maaf. Saya pun datang (sambil menangis... heu..)

Kejadian kedua, saat kuliah. Saya diberi amanah jadi panitia yang belum pernah saya jabat sebelumnya. Singkat cerita, amanah ini saya diamkan dan tidak kerjakan. Sms dan telpon saya abaikan, dan bahkan kadang hp saya tidak aktifkan. hehe

Sampai yang memberi amanah mengirim pesan pendek kurang lebih begini “kalau dalam waktu 4 jam sms ini tidak direspon, saya cabut amanah ini dari anda.” Kaget bukan kepalang saya dikirimi sms begitu.

Oh ya, zaman itu chat apps semacam WA, LINE dll belum musim. Soalnya waktu itu masih musim YM. Jadul yak? Khukhuy!

Kejadian ketiga, pasca kuliah. Lagi-lagi ada yang mengamanahkan sesuatu. Kali ini diminta untuk dibuatkan desain buku yang terkait dengan agenda. Rencananya hendak dibagikan di hari agenda itu, namun desain yang harusnya selesai sepekan sebelumnya untuk dicetak, hingga hari H-1 belum juga dikirimkan.

Malu nya bukan main saya dibuat kelakuan sendiri.


Kadang muncul untuk “bersolusi” menghilang selamanya. Tapi......... avoidance 2
read more

Avoidance 2



Berkali-kali saya mencoba untuk menghilang sementara. Ya setidaknya sampai badainya mereda. Agar ‘nyawa malu’ bisa terselamatkan.

Tapi akhirnya ada yang membisiki, “hei, letak badai itu bukan di luar sana, dia ada di dada mu!” ya, ternyata kecamuk kacau rasa itu ada di dalam sini! Di luar memang “baik-baik” saja. Hanya perlu hadirnya saya saja. Ternyata.

Di kejadian pertama, berakhir dengan sang empunya rumah berkata “iya gak apa-apa.. gak sengaja kan..?” ah, manusia lanjut usia yang baik hati. Terima kasih telah menenangkan anak SD yang sedang tersedu sedan kala itu.

Kejadian kedua saya selesaikan dengan merespon sebelum jatuh tempo. Sambil menelan pil pahit malu. Ya, konsekuensi menghilang sementara memang. Telan saja! Take the consequences..!

Amanah pun selesai, dan tak ada gunjingan pasca itu. Alhamdulillah, naik kelas pula saya di mata banyak orang senior kala itu.

Sedangkan kejadian ketiga, karena terlewat tenggat waktu. GAGAL TOTAL memang. Namun saya berpikir, ini bukan akhir segalanya. Saya temui perwakilan penanggung jawab agenda. Menjelaskan seluruh kronologis, lalu menutupnya dengan permohonan maaf. Ah, manusia memang mungkin lalai.

Begitulah cara saya akhiri semua fase menghilang itu. Hadapi saja. Hantam. Tak peduli berhamburan malu, dikata tak punya wajah, tak bertanggung jawab. Hei, justru menemui penanggung jawab itu adalah bentuk tanggung jawab!

“Karena tak dikata cacat sebuah wajah rupawan karena ada goresan luka kecil, maka tunjukkan saja seluruh wajah mu itu!”

Halah tulisan macam apa pulak di atas ini?!?!
Saya cuma mau bilang: ayolah datang saja. Temui meski mungkin malu. Menghilang itu tidak sehat untuk kesehatan pikiran.

Nb: this is special for you. Yes, it's for you. 
Don't forget to smile and energic, as always. :)
read more

Kerudung & jilbab, samakah?



Kewajiban kerudung diterangkan dalam Al Quran Surah An-Nur: 31

“…dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…”

Khimar atau kerudung adalah apa yang dapat menutupi kepala, leher dan sebagian dada tanpa menutupi muka (Al Baghdady, 1991) Batas bawah yang ditutup oleh kerudung adalah bagian kerah baju yang memperlihatkaan leher dan dada (Tafsir Al Azhar juz XVIII hal 180). 

Sedangkan kewajiban jilbab diterangkan dalam Al Quran Surat Al Ahzab : 59

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha penyayang."

Definisi jilbab yang diterangkan dalam kamus al Muhith adalah pakaian yang luas untuk wanita yang dapat menutupi pakaian rumahnya seperti milhafah (mantel). Tafsir Jalalain (jilid 3:1803) memberikan arti jilbab sebagai kain yang dipakai seorang wanita untuk menutupi tubuhnya. Jauhari dalam Ash Shihah mengatakan jilbab adalah kain penutup tubuh wanita dari atas sampai bawah. Khaththath Usman Thaha dalam Tafsir wa Bayan menjelaskan jilbab adalah apa-apa yang dapat menutupi seperti seprai atas tubuh wanita hingga mendekati tanah. Fiqh Sunnah oleh Sayyid Sabiq Jilid 7 (Edisi Indonesia) menerangkan jilbab adalah baju mantel. Dalam Kitab Mujam al Wasith hal 128 jilbab diartikan sebagai pakaian yang menutupi seluruh tubuh atau pakaian luar yang dikenakan diatas pakaian rumah seperti mantel. 

Jadi Kerudung & jilbab itu berbeda, tapi kewajiban memakainya adalah sama-sama wajib digunakan. :)
read more

13 Apr 2017

MURAHAN!

Dear readers, apakah kalian berencana memiliki anak? Atau kalian sudah memiliki anak? Bersekolah kah mereka? Berapa biaya mereka bersekolah? Murah kah? Mahal Kah?

Saya adalah orang yang senang mengamati tingkah laku manusia. Baik yang masih anak-anak ataupun dewasa. Dengan mengamati tingkah lakunya, kadang di kepala saya berseliweran tentang hal-hal yang mereka telah mereka lalui di kehidupannya. Mungkin mereka pernah mengalami ini, pernah mengalami itu. Meski pada akhirnya hampir selalu berakhir di dugaan--yang entah benar atau tidak. Sebagian disertai dengan rasa kagum, sebagian lainnya dengan rasa kasihan.

Melihat anak yang memiliki hafalan quran belasan atau puluhan juz misalnya, saya kemudian membayangkan betapa hari-harinya dipenuhi dengan muraja'ah paling tidak di subuh dan magrib. Terutama bagi anak-anak yang tidak tinggal di pondok pesantren tahfidz quran. Saya kemudian menduga mereka biasa 'setoran' hafalannya pada orang tua mereka. Betapa menjaga dan perhatiannya orangtua mereka. Meskipun itu juga hanya sekedar asumsi.

Sebaliknya, saat saya bertemu dengan anak yang agak kusam tidak terurus atau terlihat "bandel" dalam rangka mencari perhatian, pengamatan saya berakhir dengan pikiran: "bagaimana orangtua memperlakukan mu, nak?"

Di suasana dunia yang semakin hedonis seperti sekarang ini, sebagian orang menaruh standar berharga atau tidak dengan ukuran materi belaka. Ukuran uang. Ratus ribu, juta, puluhan juta, milyar dst. Maka tidak heran ada orang tua yang sampai hati membentak habis-habisan ketika anaknya tanpa sengaja merusak 'barang mahal' semisal gadget. Mereka lupa anak adalah manusia, yang sudah barang tentu lebih mahal dibanding gadget seri terbaru milik mereka. Ada juga yang tega meluluhlantakkan hati anak di depan umum saat tak sengaja memecahkan porselein yang rapuh. Mereka lupa perasaan anak juga rapuh, bisa 'pecah' dan berbekas jika 'dibanting'.

Wahai orang tua! Anak mu adalah penerus nafas di dunia setelah dirimu mati! Salah satu hal dari tiga hal yang berharga saat semua hal di dunia ini tidak ada harganya lagi! Didiklah mereka dengan cara dan proses yang "mahal", jangan cara murahan!

Anak-anak itu butuh orangtua yang "mahal" bukan sekedar disekolahkan di sekolah yang mahal. Jangan berharap banyak jika hanya menyekolahkan anak di sekolah "bagus dan mahal", sedangkan orangtua nya adalah orang tua murahan yang tidak tahu memperlakukan dan membentuk anak sebagai calon manusia baru di masa depan.

Jangan pernah keluar dari mulut kita "saya sudah bayar mahal sekolahkan anak saya di sini, masa hasilnya begini-begini saja". Sekolah itu bukan ember cat yang sekali celup sebuah benda yang diangkat darinya pasti berwarna. Belajar dan pendidikan itu adalah proses sepanjang hari, sepanjang hayat.

Berikanlah harta mahal yang bisa kita bayar untuk mendidik mereka: WAKTU kita. Habis uang puluhan, ratusan juta bisa kita dapat kembali, sedangkan waktu yang kita "berikan" untuk orang, di mana kita bisa mencari?
read more

Karena semua ada ilmu nya

Ayah saya kadang suka berkata dengan nada bercanda, namun kadang di balik kalimat candaannya menyimpan makna filosofis. Salah dua kalimat yang saya ingat adalah "hujan ge aya raat na" (hujan juga ada reda nya) dan "nanaon oge aya elmu na" (semua juga ada ilmu nya).

Kalimat pertama biasanya beliau katakan ketika kami, anggota keluarganya, sedang menunggu antrian yang lama. Saat macet di jalan, dan salah satu diantara kami terlihat sudah tidak sabar, misalnya, beliau biasanya langsung berkata demikian. Biasanya kami kemudian tertawa kecil. Bukan karena kalimat tersebut lucu, tapi karena saking seringya beliau berkata demikian. Ya, agar kami bersabar, karena ada tidak sabar justru akan membuat suasana semakin menyebalkan.

Sedangkan kalimat kedua biasa beliau katakan saat kami anggota keluarganya (terutama anak-anaknya) melihat satu pekerjaan yang menurut kami sulit dikerjakan, namun dikerjakan begitu mudah oleh orang lain. Sama dengan kalimat pertama, sesaat setelah beliau berkata kalimat tersebut, kami akan tertawa kecil. Lagi-lagi, bukan karena lucu, tapi karena seringnya beliau berkata demikian. Klise.

Dari kedua kalimat klise ayah kami tersebut, bagi saya yang menarik adalah kalimat kedua. Beliau mengingatkan kami bahwa segala hal di dunia ini memerlukan ilmu. Bahkan hal-hal remeh temeh semacam mencuci setumpukan gelas dan piring kotor agar bersih sempurna, mengepel lantai agar tak ada kotor lagi, atau menyetrika baju agar tak ada kusut tersisa. Semuanya ada ilmunya. Akan sulit atau tidak terselesaikan secara 'sempurna' jika tidak dibarengi dengan ilmunya.

Termasuk di dalamnya adalah ketika misalkan anda memutuskan hendak menikah. Jangan terburu-buru menikah sebelum memenuhi isi kepala dengan ilmu tentang membangun rumah tangga. Saya tidak mengatakan bahwa menikah di usia muda itu tidak baik. Bukan! Karena usia bukan jadi patokan banyaknya isi kepala, bukan?

Hal yang ayah saya pesankan ini sebenarnya sejalan dengan perkataan seorang ulama Hadits terkemuka, al-Bukhari: “Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)”

Dengan ilmu, segala yang kita lakukan akan terarah, tidak serampangan. Lebih dari itu, kita tahu apa yang kita lakukan itu benar.

Sebagai seorang manusia, terlebih sebagai seorang Muslim, harus membekali diri dengan ilmu. Ilmu apapun. Terlebih terkait dengan hal-hal yang hendak dilakukan. Karena setiap perbuatan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya, maka tak boleh lengah seorang muslim dalam membekali diri dengan ilmu.

Sekiranya seseroang hendak bertransaksi jual beli, maka ia harus mengetahui tentang boleh atau tidaknya model transaksi semacam itu. Seandainya seseorang hendak memutuskan mengambil atau meninggalkan sesuatu, maka hendaknya dia mengetahui dia diperintahkan untuk mengambil atau meninggalkan sesuatu tersebut. Demikianlah seterusnya. Karena di hari pembalasan kelak, tak ada hal yang tak ditanyakan oleh Sang Raja Semesta.

Ah.. Thank you, daddy!
read more

27 Sep 2016

Belajar

Bagi sebagian orang menganggap bahwa belajar artinya duduk di dalam kelas, dengan baju seragam, diabsen tiap pagi, serta menggunakan bangku kayu yang kalau kau duduk lama di situ niscaya pantat mu kesemutan. Hehehe

Bukan begitu, saudara. Belajar bukan hanya ada di dalam kelas. Tak melulu mesti ada guru yang berseru. Pelajaran itu tersebar di seluruh bumi Allah. Berserak di jalanan. Tersebar di seluruh penjuru mata angin.

Suatu waktu mungkin kau melihat ada anak belajar bersepeda. Jatuh dia berkali kali, tapi tak ada terpikir untuk berhenti. Darinya kau bisa belajar untuk terus keras kepala jika memang perlu.

Di hari lain kau bertemu anak ingusan yang tak henti untuk menjelajah. Lihat betapa dia bersemangat untuk mengamati (dengan caranya sendiri tentu saja) hal baru yang dia belum ketahui. Belajarlah darinya bahwa belajar hal baru itu menyenangkan. Tentu saja harusnya kita juga bersemangat saat belajar hal baru; hal yang kadang mungkin kita lupa.

Pada satu kesempatan, menyengajalah mengamati tukang becak yang tidur di becaknya. Kau akan dapati pelajaran bahwa nikmat nya tidur tidak selalu berbanding lurus dengan seberapa empuk & luasnya tempat tidur.

Ah... Kau lihat kan betapa banyak hal yang bisa kita pelajari? Bukan hanya di dalam kelas, tapi juga di luar kelas. Jauh dari kata formal, dipimpin oleh banyak "guru", dengan jumlah pelajaran yang sulit dihitung jumlahnya.

Jadi mulai dari sekarang, belajarlah di manapun. Dari hal apapun. Pada siapapun. 
Mari belajar.. :-)

Nb: namun yang perlu diingat, wahai saudara, bahwa memang ada pelajaran-pelajaran khusus dengan ilmu khusus, memang yang harus kita belajar di waktu khusus. Tentu dengan guru khusus pula. Tak bisa sembarang mengambil guru dan mengambil waktu. 
read more

23 Agu 2016

Nasihat

Dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Ad Daary sesungguhnya Nabi saw. bersabda, “Agama itu nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan umumnya mereka” (HR. Bukhari, Muslim)

Dengar lah nasihat. Jangan pernah bosan mendengar nasihat, Hatta anda sudah pernah mendengarnya berulang kali. Baik dari orang yang sama atau pun orang yang berbeda. Diulang puluhan kali, atau pun ratusan kali.

Jangan pernah menyela saat anda dinasihati, apalagi mencela orang yang memberi nasihat.

Tidak usah menunjukkan tingkah sudah tahu saat dinasihati, Apalagi berkata "iya saya sudah tahu" atau perkataan semisal.

Nasihat itu bukti perhatian. Nasihat itu wujud sayang.

Tatap lah mata orang yang memberi nasihat. Anda akan temukan binar sayang yang meneduhkan. Ia tak ingin anda celaka. Dia tak ingin anda rasa derita.

Jika diberi nasihat tentang hal yang anda tidak tahu maka anda akan dapat 2 kebaikan: dilimpahi rasa sayang pemberi nasihat, dan mendapatkan ilmu yang anda belum tahu.

Jika diberi nasihat tentang hal yang anda sudah tahu, maka anda pun akan dapatkan 2 kebaikan: dihujani rasa sayang pemberi nasihat, dan mendengar kembali untaian kalimat penuh kebaikan.

Satu hal lagi. Terkadang seseorang enggan menyampaikan nasihat nya karena 'khawatir' tak diterima nasihat nya, maka sering lah bertanya & meminta nasihat dari orang2 terdekat. Iya, yang paling tahu keburukan-keburukan mu. Karena mereka lah cermin di hidup.

*hai.. sudah lama tidak posting di blog ini..
read more

16 Agu 2015

Menikah Adalah....

Bagi sebagian orang menikah hanyalah soal tentang memilih dan mencari orang yang disukai, menyukai dirinya, dan elok parasnya. Sebagian besar dari mereka lupa bahwa suka bisa berubah menjadi tidak suka. Sebagian mereka juga lupa eloknya paras bisa terkelupas. Karena waktu bisa membalikkan keadaan yang tadinya siang menjadi malam, benderang menjadi temaram.

Sebagian lainnya yang menganggap menikah hanyalah soal menggugurkan status lajang menjadi berpasang. Tak mau 'terhina' olok-olok orang karena menganggap paras tak elok sehingga tak kunjung berdua. Sebagian besar mereka lupa bahwa belum berdua bukan hal yang hina. Mereka juga lupa bahwa berdua tidak selalu menghantarkan pada hal yang mulia. Mereka lupa  ada ulama besar yang membujang hingga ajal menjelang.

Ada juga sebagian menganggap bahwa menikah hanyalah soal pemuas birahi. Mencukupkan diri dengan menunjuk tanpa peduli asalkan mampu memuaskan dahaga diri. Sebagian besar mereka lupa bahwa dahaga ada batasnya. Mencukupkan pilihan dengan yang bisa memuaskan dahaga birahi akan mengantarkan pada keinginan 'tak terbatas' hingga pada akhirnya kita akan sadar bahwa ini bukanlah yang kita ingini; bosan.

Ah, ijinkan lah saya tuangkan gelisah saya tentang menikah yang (mungkin) banyak diantara kalian menaruh syak atasnya.

Menikah adalah mengajak berkumpul senantiasa dalam kebaikan. Menjaga pasangan agar terus taat pada pemilik nyawa. Memberikan makanan dan pakaian di jalan taqwa.

Menikah adalah tentang investasi masa depan. Memilih orang untuk bertarung dengan kehidupan di hadapan, jadi pilihlah mereka yang kau lihat akan membuatmu lebih tangguh, bukan yang sering mengeluh.

Menikah adalah tentang investasi masa depan. Mencari orang yang mampu memahami bahwa kita semua akan mati, sehingga harus  dicetak generasi hebat yang mampu bertarung dengan maksiat yang terus datang menghantu, bukan yang sering bergerutu.

Bagi wanita menikah adalah mencari guru. Menentukan pilihan pada yang luas ilmu, mengajarkan dengan keteladanan, kesabaran, agar sifat bengkok yang disemat tidak senantiasa condong pada maksiat.

Bagi lelaki menikah adalah mencari guru. Menetapkan hati pada yang berkapasitas utama sebagai pengajar di madrasah pertama bagi generasi selanjutnya.

Menikah adalah investasi masa depan. Mencetak generasi gemilang untuk peradaban, memastikan mereka berkontribusi bagi kaum muslimin dan menjadi bagian dari  kalangan shaalihiin.
read more

13 Jul 2014

A Letter For My Son(s)

Anak ku, jika nanti abah pergi dipanggil lebih dahulu daripada kalian, jangan sampai terlintas sekalipun dalam pikiran kalian, rasa khawatir berkehidupan yang sempit.

Ingatlah selalu oleh kalian bahwa yang melapangkan dan menyempitkan penghidupan bukanlah abah. ALlah-lah yang berhak dan memiliki kekuatan untuk memberi atau menahan rizqi, ALlah-lah yang meninggikan dan merendahkan derajat seseorang, ALlah lah yang memberi & mencabut rasa aman dalam dada, ALlah lah yang memiliki hak untuk memancangkan dan melemahkan keteguhan keyakinan, ALlah lah yang memiliki kekuatan untuk mematikan dan menghidupkan makhluk. Iya, cuma ALlah yang punya semua itu, bukan makhluk, termasuk abah.

Karenanya wahai cucu Khalid bin Walid, jangan takut celaan orang yang suka mencela, jangan mundur karena ancaman yang orang berikan, jangan menjadi peragu seandainya seisi semesta mengatakan tidak sedangkan ALlah mengatakan HARUS & PASTI BISA.

Kau tahu tentang sosok Khadijah ra.? Jika engkau dari kalangannya, semampu mu, berusahalah menjadi seperti dirinya: menjadi manusia yang percaya meski banyak orang mendustakan.

Anakku, ikat-eratlah dalam ingatan tentang sabda Rasul saw yang mulia bahwa kelak di penghujung zaman akan ada segolongan manusia yang diasingkan dari kebanyakan orang. Terjauhkan dari keumuman, disingkirkan dari kebanyakan orang. Kau tahu mereka dipanggil apa? Mereka disebut sebagai "al ghurabaa", orang yang terasing.

Mereka memegang islam sepertihalnya memegang bara api. Kamu pasti tau bagaimana rasanya api, nak. Panas dan membuat kulit melepuh. Namun mereka tetap pegang bara islam itu. Kenapa? Karena itu adalah sebuah kemestian, nak. Iya, kemestian sebagai makhlukNya. Supaya kita tidak dicap sebagai bajingan pembangkang Rabb pencipta alam semesta.

Nak, wahai pengagum sosok mush’ab bin umair. Engkau boleh saja tumbuh menjadi anak ‘bengal’, tapi dengarkan abah, bahwa kita ini adalah manusia yang dipuji oleh ALlah di kalam-Nya sebagai “ummat terbaik” di antara kalangan manusia lain di dunia. Hanya saja ada syarat yang mau tidak mau kita harus ambil, yaitu menjadi orang yang melakukan ‘amr ma’ruf nahyi munkar. Karenanya ambillah jalan kemulian itu, dan jadikanlah dirimu sosok manusia yang dikenang karena kebaikannya seperti mush’ab bin umair.

Duhai anakku, pewaris ketegasan Ummar bin Al-khaththab. Abah belum tahu tatanan hidup masyarakat seperti apa yang akan engkau hadapi. Sudahkah hadir seorang Khalifah di tengah-tengah ummat saat kau membaca tulisan ini? Ah, sudah atau pun belum abah ingin kau bertumbuh menjadi sosok tegas sepertihalnya ummar. Tidak melakukan kompromi dengan kebathilan apapun taruhannya. Tegakkanlah kepalamu saat engkau berada di sisi kebenaran. Namun tertunduk dan menangislah jika engkau melakukan kesalahan dan bertaubatlah.

Terakhir, wahai darah-daging ku, jadilah engkau penolong Diin yang tinggi ini. Berkawanlah dengan orang-orang shalih. Kelak, jadikanlah Hizqi Hajjaaj ‘Alwaan salah seorang di antara sahabat dekatmu, yang kalian saling menjaga dalam kebaikan. Berdua dengannya, jadilah sepertihalnya Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudair dari kalangan kaum Anshar: orang-orang yang bertaruh kepala demi kemenangan dakwah Islam.

Dari (orang yang akan menjadi) abah mu,
@dhanialmumtaz
*selesai ditulis pada 6 ramadhan 1435 H/ 04 Juli 2014
read more

29 Apr 2014

Memories

Mendadak saya ingin menulis. Iya, sekedar menuliskan apa yang tadi tiba-tiba melompat-lompat di kepala sore tadi saat di atas motor. Seperti biasa, mungkin bukan hal yang penting untuk dituliskan, tapi tetap saja saya tuliskan. Ya.. Namanya juga blog suka-suka saya. hehe

Sore ini hujan turun lebat. Tidak lama memang, bahkan tidak lebih dari jarak separuh perjalanan saya dari kosan menuju daerah kampus. Selepas melepas dahaga rerumputan, hujan mulai menghilang bersama dengan gumpalan awan. Saya tetap meneruskan perjalananan dengan keadaan basah kuyup.

Di kecepatan sekitar 60 km/jam saya tiba-tiba merasakan suasana yang serasa tidak asing: mendung di sore hari dengan matahari yang hendak tenggelam. Tiba-tiba rasa rindu menyergap. Iya, rindu. Jangan lempar pertanyaan: "pada siapa", karena saya merindu suasana, bukan "hanya" pada orang-orang yang ada di sana.

Semasa usia 3 bulan hingga 13 tahun, saya dibesarkan di kota (yang dahulunya) kecil. Bukan tempat kelahiran memang, namun penuh dengan kenangan. Di kota kecil itu saya tinggal di komplek yang tidak begitu besar dengan hamparan lapang yang luas. Tempat kami semua, anak komplek Bumi Asih, menghabiskan energi dengan bermain bola. Tentu tanpa alas kaki.

Kami bermain nyaris tanpa ada jeda hari di setiap sore, termasuk di hari itu; hari saat hujan lebat turun sesaat. Bak pejalan kaki yang menemukan oase di gurun Sahara, kami menghambur ke lapang yang digenangi air di bagian tengahnya. Wangi rerumputan diterpa angin agak kencang mengantarkan hingga sampai di indera penghindu. Sejurus kemudian pandangan saya tertuju ke arah langit sore yang masih disesaki awan hitam sambil ditemani matahari. Tak lama dari itu, saya pun berteriak "aaaaa!!" pertanda rasa senang tidak terkira karena kami akan bermain bola dengan keadaan lapangan basah sambil kotor-kotoran: kebahagiaan sederhana yang hampir semua anak kecil biasa rasakan.

Hujan lebat sesaat di sore hari dengan matahari yang hendak tenggelam dan harum tanah yang menerpa indra penghindu itulah yang menghantarkan pada rasa rindu tak terkira pada rasa senang saat itu, pada kota tempat saya bermain bola, dan pada semua suasana saat itu.

Pernahkah kalian merindu seperti itu? Mungkin pernah. Bukan! Bukan merindu pada orang belaka, namun pada keadaan dan suasana.

Lebih dari itu, mampukah kita membuat orang lain merasa rindu dengan keadaan yang kita ciptakan? Mampukah kita memaksa orang lain mengatakan 'tanpa sadar': "rindu saat bersama fulan", "rindu ditegur fulan saat saya hampir berbuat maksiyat", "rindu saat ber-halqah dengan fulan".

Iya, saya sedang bertanya pada diri sendiri. Bisakah membuat orang merasa rindu dengan hadirnya saya? Bisakah membuat orang merasa rindu dengan peringatan yang saya berikan? Bisakah membuat orang merasa rindu dengan per-halqah-an yang saya pimpin?

Entahlah~

                                                                                                 
Ditulis saat rasa rindu pada kota Serang Banten memenuhi kepala.
read more