25 Jun 2011

prahara rasa

Saat rasa menjadi bencana.
Menjelma prahara berdalih kasih, maka liar rasa menjadi raja tata kata dan langkah.
Duh! Andai waktu itu dapat aku jemput kau di persimpangan, mungkin jinak yang ku peroleh!
Andai boleh menoleh, kembali mengamati hati hingga mendapati arti, mungkin kini tak mati!
Pada akhirnya, gundah selalu saja melipat di saat yang tepat! Bahkan memaksa curiga hingga batas teratas ‘Arsy.
Huh! Seandainya ku kelu, tentu tak akan dapati keluh keluar bersama peluh yang berpuluh-puluh!
read more

3 Jun 2011

Mengertilah! Karena aku mencintaimu dalam diamku

Tidak ada manusia yang tidak memiliki rasa cinta. Kehadiran hawanya menjadi sebuah kelumrahan, namun saya katakan bahwa pengejawantahannya di jalan yang tidak direstui Pencipta Rasa, adalah suatu bentuk kekurangajaran! Bentuk pembangkangan yang melawan kodrat penciptaannya.

Malapetaka ‘pengejawantahan rasa’ biasanya dimulai dari kompromi-kompromi hati dengan tingkah-tingkah kecil dan sederhana. Ya! Karena sesederhana apapun tingkah manusia pada manusia lain yang ‘berasa berbeda’, akan menghasilkan kesan mendalam yang sanggup meledakkan hari! Akan berbeda rasanya saat ada seorang tukang ojek yang menawari untuk membonceng dengan saat ada kakak kelas kecengan—misalnya—yang memberikan sedikit senyum dan mengajak mengobrol basa basi, sekedar me-like status, apalagi menawari membonceng!

Saya bisa saja menjadi orang yang paling romantis yang pernah anda kenal; menghujani hari-hari anda dengan setumpukan sajak-sajak merah-jambu yang mampu melenakan waktu, menarik purnama hingga seolah tak terjarak atau bahkan seolah mampu dijejak. Namun saya lebih mencinta menggengam bara: memendam rasa hingga tiba masanya. Jika tak kunjung tiba, maka sayang ini mungkin bukan untuk anda.

Jika suatu waktu rasa mulai dengan kurang ajar menggoda, maka saya pastikan akan berubah membalik suasana. Takkan ada lagi tingkah bijaksana di depan anda. Saya akan membuat anda membenci saya! Maaf.

“God help I’m sick
God forgive I’m weak”
[Purgatory: hypocrishit]
TABIK!
[mumtaaz]
read more

HYPOCRITE*

Anda bisa mengatakan apa saja tentang apa yang anda pikir itu benar. Anda boleh menyanggah apa yang orang sampaikan. Dengan santun ataupun dengan nada menyerang. Menguliti hingga mereka tak bisa lagi tidur dengan tenang, bahkan kesulitan bernafas saat mereka beranjak dari sofa-sofa mereka. Namun anda mengetahui tentang anda sendiri. Tentang langkah apa yang sebenarnya anda tapaki di neuron-neuron yang terisi informasi.

Rekam-jejak sajak sel-sel yang anda gerakkan untuk mengungkap tiap kata yang menghambur dari sudut bibir takkan mungkin terhapus begitu saja. Anda mungkin mengira akan terhapus. TIDAK! Sekali-kali, tidak!

Sungguh kesemuanya yang anda tapaki akan menjadi saksi bagaimana anda berusaha mencitrakan diri baik di depan makhluk-makhluk yang anda ‘tipu-muslihati’! Dan saat tumpukan ‘kesakithatian karena ditipumuslihati’ mereka mewujud utuh menjadi riuhnya celaan, anda akan mencicipi betapa kepalsuan yang anda bangun di masa lalu itu sangatlah menjijikan. Layaknya anda mendapati diri anda tengah meludahi wajah anda sendiri.

Anda, saya katakan, bisa saja menarik waktu untuk memutihkan kembali lembar-lembar yang terserak di lumpur nista hipokrit itu, namun pertanyaan besarnya adalah: APAKAH ANDA SANGGUP MENARIK PERHATIAN ALLAH UNTUK SEKEDAR MELIRIK ANDA UNTUK MEMBERIKAN PENGAMPUNANNYA??

Tak banyak orang berlumuran salah yang pada akhirnya sanggup menarik perhatian Tuhannya untuk mengampuni dirinya. Tak percaya? Tengoklah kisah-kisah para penyambung amanat Tuhan! Yeah, para Nabi & Rasul! Berapa banyak ummat di zamannya yang berakhir bahagia setelah dia mencibir ajaran yang dibawa Nabi/Rasul?

Menyesallah atas segala muslihat dan kepalsuan yang telah anda jalani! Jika belum berakhir, maka akhirilah! Saya ingatkan bahwa tiap detik tubuh anda terus mengalami penuaan dan penurunan fungsi! Suatu saat sel-sel itu secara serempak tidak berungsi, maka berakhirlah semua kemungkinan-kemungkinan baik dan harapan-harapan anda!
Tabik!
NB: sedikit memberi bocoran, saya pernah mendengar bahwasannya Allah akan mau memberikan pengampunanNya jika yang meminta padaNya sungguh-sungguh dan ‘menjual’ dirinya pada Dia. Saya benar-benar tak paham jika ada manusia yang menyia-nyiakan kesempatan kedua ini!

* hujatan-hujatan ini saya lakukan saat saya berhadapan dengan makhluk yang selalu merefleksikan apa-apa yang dihadapkan padanya. Kalau tidak salah orang-orang menisbatkan suatu nama yg cantik pada makhluk itu: Cermin.
read more

limitation

Semuanya pasti ada batasnya, kawan!

Tak semua yang kau ingini akan dapat terpenuhi.

Manusia punya batas perlawanan, batas jengah.

Saat itu tiba, aku harap semuanya akan baik-baik saja. Tentu saja! Dengan atau tanpa, semuanya harus berjalan!

‘dengan’ tak selalu membawa kebahagiaan dan kekuatan!

‘tanpa’ pun tak selamanya mengawali sebuah episode kelemahan!

Benar aku akui bahwa ‘dengan’ itu berarti akan menjadi berbilang, dan benar juga bahwa ‘tanpa’ menjadikan menghantarkan pada kata ‘tak berpunya’. Namun sungguh aku menyadari sepenuh hati bahwa engkau akan selalu ditemani oleh “Sang Terbilang namun Tak Berbilang”.

read more

My dearest SEKSIOI

Handphone. Apakah itu handphone? Yeah! Alat elektronik yang dalam bahasa Indonesianya adalah telepon genggam ini adalah alat komunikasi jarak jauh yang nirkabel. Handphone bagi banyak orang mungkin hanya dinilai sebagai alat komunikasi dan ditambah berbagai perangkat multimedia tambahan yang selalu berkembag setiap serinya, namun saya akui Allah benar-benar mengajarkan banyak hal dari handphone saya yang jadul ini.

Perkenalkan HP saya yang panggilan sayangnya adalah “SEKSIOI”. Whoops! Mungkin kalian berpikir bahwa saya mengidap kelainan jiwa karena saya berkata seperti itu, namun saya yakinkan bahwa saya masih waras meskipun cuma sedikit. Hehehe. Ehem! Kembali ke maksud pembahasan saya. Handphone dan semua benda lain yang ada di sekitar kita sebenarnya senantiasa menebarkan inspirasi Ilahiyah, namun tidak semua dari kita mau menggali makna apa yang bisa dipetik dari sederhananya peristiwa bersama benda-benda sederhana itu.

Adalah saya, monochrome, pemilik Handphone Sonny Ericsson seri K510i. yap! Hp jadul dengan fitur-fitur sederhana. Saya memang bukan orang yang senang bergonta-ganti barang. Saya berprinsip jika memang masih bisa dipakai, kenapa mesti diganti? Hehe. Begitu pula dengan hp. Meskipun banyak orang yang menyuruh saya untuk mengganti, namun saya tetap menggunakan Hp yang dibeli tahun 2007 ini. Suatu hari saat saya tengah berada di luar rumah, saya tiba-tiba menyadari bahwa Hp saya sudah tidak lagi di tangan saya. Saya kemudian meminjam Hp milik kawan, namun kecewa yang saya dapat. Awalnya saya tlp namun tidak diangkat, kemudian beberapa saat kemudian Hp saya sudah tidak aktif. Mungkin ada yang menemukan lalu mematikan dan mencabut kartunya. Saya sudah kecewa saja, lalu pulang ke kosan dengan lemas. Saya kemudian bercerita pada kawan satu kosan dan mencoba menelepon kembali Hp saya dengan berharap ada respon dari yang menemukan. Dengan setengah tidak percaya, saya mendengar nada tunggu, dan tidak lama kemudian ada yang menyapa di ujung telepon sana. Singkat cerita, saya akhirnya menemui yang menemukan SEKSIOI dan mengucapkan terimakasih yang tak terkira.


Memang kisah seperti ini sederhana atau bahkan biasa-biasa saja, namun saya akan memberitahu bagian yang tidak biasa nya: saya mengalami kejadian seperti itu sebanyak 2 kali!!


What?! Kalian masih pikir itu biasa-biasa saja? Terserah kalian deh! Terlepas dari biasa-biasa atau luarbiasanya cerita tadi, ada hal yang ingin saya bagi di situ. Bagi saya, Hp SE K510i ini mengajarkan setidaknya 2 kata: Qadha dan Roja.


Qadha adalah ketetapan Allah yang tidak bisa diganggugugat. Sekalinya Allah mengatakan ‘A’, mau atau tidak, suka atau pun tidak, baik atau pun ‘buruk’, maka akan terjadi. Kita tidak bisa mengubah keputusanNya walau setitik! Hal ini terkait juga dengan jodoh, kecelakaan, rizqi dan ketetapan Allah lainnya. Soal jodoh, kita tetap tidak akan berjodoh dengan seseorang meskipun kita sudah mengkhitbah jika Allah menyatakan seseorang itu bukan jodoh kita. Sebaliknya, meski sudah dikhitbah orang, jika memang Allah menyatakan seseorang itu jodoh kita, maka tidak akan kemana-mana. (curhat.com :p) Begitu pula dengan kecelakaan dan rizqi. Keduanya tidak akan dapat kita hindari ataupun datangkan jika memang Allah tidak menetapkan hal itu untuk kita.

Hal kedua adalah ar-Roja. Adalah manusia, dibekali dengan banyak potensi dan kemampuan untuk meraih banyak pencapaian hidup. Hanya saja kita terkadang kehilangan satu hal: SEMANGAT! Ar-Roja adalah semangat dan pengharapan. Kita manusia bisa mengarungi samudera bertahta badai, menelusuri perut bumi, hingga menembus angkasa. Kesemuanya itu tidak lain karena adanya ar-Roja. Entah bagaimana seandainya saya kehilangan pengharapan dan menghentikan pengharapan menemukan kembali Hp saya. Mungkin saya akan menjadi manusia tanpa Hp sekarang. Hehe


Cukup sekian hal yang bisa saya bagi. Pesan bang napi: jangan pernah lewatkan detil kehidupan, karena dengannya kita akan mendapatkan kearifan-kearifan sederhana yang bisa kita bagi dengan orang-orang di sekitar kita.
Tabik!
[akira]

read more

sarcasm dialogue


A: Adi aing nu awewe keukeuh hayang kuliah di Psikologi, euy! Kamana nya? (adik gw maksa pengen kuliah di Psikologi, euy! Ke mana ya?)

B: nu urang apal nu terkenal teh mun teu di UNPAD, UGM atawa UI weh.. (yang gw tau, yang terkenal tuh kalo gak di UNPAD, UGM atau UI aja.)

A: ah bingung, an***g!

B: naha bingung sagala?! ngiBING jeung maUNG? [Kenapa bingung segala? ngibing (nari) sama (singa)?]

A: enya, an***g! adi urang pas sakola ge nguruskeun na teh bobogohan jeung bobogohan wae! Ngomongkeun na teh lalaki we! Eta teh keur di imah keneh! Kumaha mun jauh ti imah?! Teu kakontrol ku aing! Paur! (iya, an***g! adik gw pas sekolah ngurusinnya cuma pacaran aja! ngomonginnya tentang laki-laki terus! Itu tuh waktu masih di rumah! gimana kalo jauh dari rumah?! gak bakalan kekontrol sama gw! Khawatir gw!)

B: eta weh atuh nu deukeut, UNPAD atawa UPI, jeung UIN ge aya ketang. (itu aja tuh yang deket di unpad atau upi. UIN juga ada deng.)

A: oh heueuh. Eta wae kitu?? (oh iya? itu aja gitu ya?)

Huft.. berat buat saya nulis kata-kata sarkas itu (meskipun disensor), hehehe. Tapi saya merasa perlu untuk menulis kata2 itu untuk menggambarkan point apa yang ingin saya sampaikan.
Kali ini saya coba bahas tentang apa coba? Yap! Tentang WANITA! Makhluk yang dilindungi, dihormati dan dimuliakan oleh Allah. (terus kenapa perlu ada kata-kata sarkas yang disensor itu? Kalian bakal tau sendiri!)
Tidak banyak wanita yang menyadari bahwa mereka dimuliakan oleh Allah. Gak percaya? Lihat berapa banyak wanita yang mengiyakan titah Allah buat mengenakan ‘khimar’? Berapa banyak wanita yang mengiyakan titah Allah untuk mengenakan ‘jilbab’?
Ah! saya hampir yakin kalian mulai bête setelah baca paragraf di atas! Iye lah! Orang tuh biasanya gak suka diusik ‘comfort zone’-nya! Jangan pura-pura bilang ‘engga’ deh!
Oke, let’s get in to the point! Begini lho para pembaca yang budiman. Dari dialog di atas (yang memang bener-bener saya alami), saya Cuma pengen ngegambarin betapa sebejad-bejadnya kakak, babeh, ato laki-laki mana pun, sungguh mereka GAK SUDI anggota keluarganya yang wanita atau wanita yang dia sayang disakiti, dilecehkan, atau direndahkan kehormatannya! Coba tanya sama preman-preman yang suka godain cewe dengan manggil “neng, bade ka mana?!” ato suit-suitin kalo ada cewe lewat: dia bakalan gimana kalo emak dia, adik cewe dia, bibi dia, ato mungkin istri dia dilecehin? Beuh! Saya yakin jawabannya bakalan ekstrim! Jawaban ‘paling santai’ kayaknya “ku aing bakal diteunggeulan!”
Saya pikir itu jadi bahan renungan buat saya (semoga buat kalian juga) bahwa kalian Kaum Hawa itu ditinggikan derajatnya oleh Allah ‘azza wajalla! Jangan coba-coba merendahkan diri dengan ‘mengobral’ diri! Hormati diri kalian dengan hanya menampakkan apa yang patut ditampakkan di muka umum. DEMI ALLAH kalian terlalu berharga untuk membuka apa yang seharusnya ditutupi!!! Tidak akan menjadi buruk rupa seandainya kalian hanya menampakkan apa yang patut untuk ditampakkan!
Emm.. apa dialog di atas nyambung dengan wakwekwok saya? Whatever! Huahahaha!
Teruntuk ‘tulang rusuk’ yang entah berpasang dengan siapa kelak
Jangan biarkan liar pandangan menyibak
Cintailah titah Tuhanmu yang menunjuk
Hingga manisnya jannah kelak kita jejak!
Semoga menginspirasi!
Tabik!
[salfa]
read more

Seperti yang tidak percaya Allah saja!


Yeah! Kata2 itu belakangan ini makin nyaring dan sering saja bergema di ruang antara dua telinga ini.

Mungkin terdengar ekstrem di telinga, tapi sungguh kata2 itu memang muncul di kepala saya saat saya digelitik oleh fakta2 yang 'lucu'.

Let the contemplation begin!

Manusia—meskipun didaulat sebagai makhluk yang menduduki predikat sebaik2 makhluk—secara fitrah memiliki keterbatasan2. Mulai dari kondisi fisik, kondisi mental, maupun dari segi kognitif; itulah mengapa manusia "merasa harus" menggantungkan diri pada 'sesuatu lain' Yang Maha Sempurna dan tidak berkekurangan.

Dari segi kondisi fisik, manusia jelas2 memiliki keterbatasan. Adanya sakit, kematian sebagian sel, dan kematian organ2 manusia secara keseluruhan merupakan tanda2 kelemahan dan keterbatasan manusia.
Dari segi kognitif, manusia terbatasi hanya 3 hal yang dapat dijangkaunya: manusia, alam dan kehidupan. Meskipun ada banyak orang (terutama filusuf) yang secara serampangan mengatakan mereka mampu menjangkau Dzat Allah dengan memikirkanNya.

Dari sisi kondisi mental, secara alami manusia dibekali dengan rasa takut dan putus asa, yang dalam kadar ekstrem—saat manusia tidak sanggup lagi meregulasinya dengan rasionalisasi dan defense lainnya—maka dia akan mengharapkan 'sesuatu' untuk dapat menjawab rasa takut dan menjawab keputusasaannya. Ada anekdot menarik tentang keputusasaan dan kepercayaan pada Allah; dikisahkan dalam suatu penerbangan duduk berdampingan 3 orang: seorang atheis, seorang ustadz, serta seorang pendeta. Di tengah perjalanan, ternyata kapal menghadapi situasi yang berbahaya, hingga para pramugari meminta penumpang untuk mengenakan sabuk pengaman. Setelah beberapa lama, ternyata kapal semakin terjebak pada keadaan darurat hingga sang pilot mengumumkan bahwa kapal yang mereka tumpangi kehilangan kendali, sehingga para penumpang dipersilahkan untuk berdoa. Ustadz tentu saja berdoa dengan bahasa Arab dan sambil beristighfar, Pendeta kemudian terlihat memegangi salibnya dan kemudian mulai berdoa dengan caranya, namun sang atheis kebingungan! Dia celingak-celinguk ketakutan! Saat oranglain berdoa, dia bingung harus melakukan apa! Pada akhirnya sang Atheis pun ikut2an komat-kamit pura2 berdoa seperti yang lainnya.
Aduhai, membahas manusia memang menarik, bukan?! Nanti kita bahas lagi lah tentang manusia di artikel lain.

Kejadian akhir2 ini bagi saya menguji hingga batas "ekstrem" rasa percaya pada Allah (setidaknya bagi saya :p).

Semuanya bermula dari perjumpaan kawan saya dengan masalah yang dia ciptkan sendiri, kemudian saya yang mengetahui ada yang kurang pas antara apa yang "dia lakukan" dengan "yang seharusnya" tidak terlalu banyak mengingatkan, namun cenderung mendiamkan karena kawan saya ini saya nilai sudah tahu harus bagaimana cara menyelesaikannya. Perlahan tapi pasti, masalah yang dihadapi makin membesar layaknya bola salju yang menggelinding (kayak lagu Sule aja. hehe). Hari ke hari, kawan yang punya masalah itu meminta bantuan saya untuk menyelesaikan masalahnya. Saya pun menyanggupinya karena saya pikir saya harus mampu mengeluarkan dia dari masalah ini.

Singkat cerita, lama kelamaan masalah kawan saya ini malah memberatkan otak saya. Saya terlibat terlalu jauh hingga pada akhirnya saya baru sadar bahwa saya menjadi bagian dari masalah ini.

Setiap kali saya berfikir tentang pemecahan masalah, maka kebuntuan yang pada akhirnya saya temui. Dunia anak muda yang katanya menyenangkan dan merupakan kewajaran jika 'sedikit liar' tidak nampak di hari-hari saya. Kemurungan serta putus harapan menjadi penghias dunia saya saat itu.

Pada akhirnya tiba lah saya di titik nadir keputusasaan. Saya memikirkan akan lebih mudah jika saya 'menghilang dengan cepat' dan permanen hingga tidak perlu ada keadaan mengerikan seperti ini lagi di masa depan, karena saya menghapuskan masa depan. Suicide. Entah setan dari comberan mana yang berani membisiki sampai saya terbersit untuk melakukan hal bodoh seperti itu.

Percaya atau tidak, pikiran seperti itu bertahan berhari-hari hingga akhirnya ada yang berbisik di otak saya kata-kata sakti ini: "SEPERTI YANG TIDAK PERCAYA ALLAH SAJA!"

Seperti yang saya jabarkan di atas bahwa mekanisme normal manusia saat menghadapi kebuntuan dan tidak dapat ditolong lagi oleh rasionalisasi dan defense mechanism lainnya adalah dia akan menuju 'Sesuatu' Yang Tidak Terbatasi Kekurangan, namun itu pun jika secara sadar kita mengakui bahwa ada Allah Yang Tidak Terbatasi Kekurangan. Jika memilih tidak mengakui adanya Allah, maka dzat seperti apa yang akan kita mintai pertolongannya??

Hari-hari setelah saya mendapati kata-kata itu, saya menjadi tercerahkan dan mendapati kata baru dalam hidup saya: Ar-Roja!

Mulai hari ini saya berjanji bahwa setiap saya merasa terlalu lelah dan merasa lebih baik "menghilang permanen", maka saya akan senantiasa meneriakkan kalimat ini: "SEPERTI YANG TIDAK PERCAYA ALLAH SAJA!"
Tabik!
read more

17 Mar 2011

Pattimura: Pahlawan dan Tokoh Islam

Meluruskan sejarah Kapitan Ahmad `Pattimura’ Lussy

Tokoh Muslim ini sebenarnya bernama Ahmad Lussy, tetapi dia lebih dikenal dengan Thomas Mattulessy yang identik Kristen. Inilah Salah satu contoh deislamisasi dan penghianatan kaum minor atas sejarah pejuang Muslim di Maluku dan/atau Indonesia umumnya.
Nunu oli
Nunu seli
Nunu karipatu
Patue karinunu

(Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya (demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya).

Ucapan-ucapan puitis yang penuh tamsil itu diucapkan oleh Kapitan Ahmad Lussy atau dikenal dengan sebutan Pattimura, pahlawan dari Maluku. Saat itu, 16 Desember 1817, tali hukuman gantung telah terlilit di lehernya. Dari ucapan-ucapannya, tampak bahwa Ahmad Lussy seorang patriot yang berjiwa besar. Dia tidak takut ancaman maut. Wataknya teguh, memiliki kepribadian dan harga diri di hadapan musuh. Ahmad Lussy juga tampak optimis.

Namun keberanian dan patriotisme Pattimura itu terdistorsi oleh penulisan sejarah versi pemerintah. M Sapija, sejarawan yang pertama kali menulis buku tentang Pattimura, mengartikan ucapan di ujung maut itu dengan “Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit”. Namun menurut M Nour Tawainella, juga seorang sejarawan, penafsiran Sapija itu tidak pas karena warna tata bahasa Indonesianya terlalu modern dan berbeda dengan konteks budaya zaman itu.

Di bagian lain, Sapija menafsirkan, “Selamat tinggal saudara-saudara”, atau “Selamat tinggal tuang-tuang”. Inipun disanggah Tawainella. Sebab, ucapan seperti itu bukanlah tipikal Pattimura yang patriotik dan optimis.

Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad Lussy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu, karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen.

Muslim Taat

Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Ia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.

Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.

Bandingkan dengan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit. M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.

Ada kejanggalan dalam keterangan di atas. Sapija tidak menyebut Sahulau itu adalah kesultanan. Kemudian ada penipuan dengan menambahkan marga Pattimura Mattulessy. Padahal di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura atau Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah Sultan Abdurrahman.

Jadi asal nama Pattimura dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sedangkan Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy. Dan Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku.

Berbeda dengan Sapija, Mansyur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.

Masih menurut Mansyur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan Maluku.

Mansyur pun tidak sependapat dengan Maluku dan Ambon yang sampai kini diidentikkan dengan Kristen. Penulis buku Menemukan Sejarah (yang menjadi best seller) ini mengatakan, “Kalau dibilang Ambon itu lebih banyak Kristen, lihat saja dari udara (dari pesawat), banyak masjid atau banyak gereja. Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja.”

Sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija, dari sudut pandang antropologi juga kurang meyakinkan. Misalnya dalam melukiskan proses terjadi atau timbulnya seorang kapitan. Menurut Sapija, gelar kapitan adalah pemberian Belanda. Padahal tidak.

Leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.

Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan “kapitan” yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.

Perjuangan Kapitan Ahmad Lussy

Perlawanan rakyat Maluku terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda disebabkan beberapa hal. Pertama, adanya kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah seperti yang pernah dilakukan pada masa pemerintahan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Kedua, Belanda menjalankan praktik-praktik lama yang dijalankan VOC, yaitu monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi adalah polisi laut yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda. Ketiga, rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi.

Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.

Perlawanan rakyat di bawah komando Kapitan Ahmad Lussy itu terekam dalam tradisi lisan Maluku yang dikenal dengan petatah-petitih. Tradisi lisan ini justru lebih bisa dipertanggung jawabkan daripada data tertulis dari Belanda yang cenderung menyudutkan pahlawan Indonesia. Di antara petatah-petitih itu adalah sebagai berikut:

Yami Patasiwa
Yami Patalima
Yami Yama’a Kapitan Mat Lussy
Matulu lalau hato Sapambuine
Ma Parang kua Kompania
Yami yama’a Kapitan Mat Lussy
Isa Nusa messe
Hario,
Hario,
Manu rusi’a yare uleu uleu `o
Manu yasamma yare uleu-uleu `o
Talano utala yare uleu-uleu `o
Melano lette tuttua murine
Yami malawan sua mena miyo
Yami malawan sua muri neyo
(Kami Patasiwa
Kami Patalima
Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy
Semua turun ke kota Saparua
Berperang dengan Kompeni Belanda
Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy
Menjaga dan mempertahankan
Semua pulau-pulau ini
Tapi pemimpin sudah dibawa ditangkap
Mari pulang semua
Ke kampung halaman masing-masing
Burung-burung garuda (laskar-laskar Hualoy)
Sudah pulang-sudah pulang
Burung-burung talang (laskar-laskar sekutu pulau-pulau)
Sudah pulang-sudah pulang
Ke kampung halaman mereka
Di balik Nunusaku
Kami sudah perang dengan Belanda
Mengepung mereka dari depan
Mengepung mereka dari belakang
Kami sudah perang dengan Belanda
Memukul mereka dari depan
Memukul mereka dari belakang)

Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta. Keadaan jadi berbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak. Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 Ahmad Lussy beserta kawan-kawannya menjalani hukuman mati di tiang gantungan.

Nama Pattimura sampai saat ini tetap harum. Namun nama Thomas Mattulessy lebih dikenal daripada Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Menurut Mansyur Suryanegara, memang ada upaya-upaya deislamisasi dalam penulisan sejarah. Ini mirip dengan apa yang terjadi terhadap Wong Fei Hung di Cina. Pemerintah nasionalis-komunis Cina berusaha menutupi keislaman Wong Fei Hung, seorang Muslim yang penuh izzah (harga diri) sehingga tidak menerima hinaan dari orang Barat. Dalam film Once Upon A Time in China, tokoh kharismatik ini diperankan aktor ternama Jet Li.

Dalam sejarah Indonesia, Sisingamangaraja yang orang Batak, sebenarnya juga seorang Muslim karena selalu mengibarkan bendera merah putih. Begitu pula Pattimura.

Ada apa dengan bendera merah putih? Mansyur merujuk pada hadits Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan Jilid X, halaman 340 dari Hamisy Qastalani. Di situ tertulis, Imam Muslim berkata: Zuhair bin Harb bercerita kepadaku, demikian juga Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Mutsanna dan Ibnu Basyyar. Ishaq bercerita kepada kami. Orang-orang lain berkata: Mu’adz bin Hisyam bercerita kepada kami, ayah saya bercerita kepadaku, dari Qatadah dari Abu Qalabah, dari Abu Asma’ Ar-Rahabiy, dari Tsauban, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memperlihatkan kepadaku bumi, timur dan baratnya. Dan Allah melimpahkan dua perbendaharaan kepadaku, yaitu merah dan putih”.

Demikianlah pelurusan sejarah Pattimura yang sebenarnya bernama Kapitan Ahmad Lussy atau Mat Lussy.

Wallahu A’lam Bish Shawab.* (dari berbagai sumber)


http://www.facebook.com/photo.php?op=1&view=global&subj=1012581254&pid=30669254&id=1247923579
read more